Transisi Energi Hijau: Solusi Lindungi Hutan dari Eksploitasi

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 06 Juli 2026
Transisi Energi Hijau: Solusi Lindungi Hutan dari Eksploitasi
Menteri Lingkungan Hidup. ( Sumber : NET )

TEGAL - Pemulihan ekologi menjadi pusat perhatian yang mendesak di tengah ancaman perubahan iklim, pertumbuhan populasi, serta kerusakan lingkungan global saat ini.

Salah satu tahapan penting untuk memicu kebangkitan ekosistem ini adalah melalui ide penghentian sementara penebangan hutan atau deforestasi yang dikemukakan oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat.

Di dalam Kuliah Umum di Universitas Harkat Negeri, Kota Tegal, Jumat 3 Juli 2026, dari Sumbernya mengungkapkan bahwa upaya penyelamatan hutan alam ini dianggap mendesak, terutama untuk menghambat ambisi pembukaan area sawit demi mencapai sasaran bioenergi.

Pernyataan dari Sumbernya tersebut untuk merespons pertanyaan dari seorang peserta diskusi mengenai penebangan hutan untuk diganti dengan tanaman sawit dengan tujuan menciptakan bio energi seperti bio etanol.

Dari Sumbernya pun menekankan bahwa pemanfaatan hutan tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa, mengingat pilihan tanaman lain seperti jagung atau tebu dapat dihitung emisi deltanya sebagai pengganti.

Pemulihan ini juga bergantung pada peralihan ke energi terbarukan lain seperti solar panel, angin, serta panas bumi untuk menggantikan energi fosil sebelum habis.

"Saya berharap tidak buru-buru menebang hutan. Mudah-mudahan ada moratorium penebangan hutan atau moratorium deforestasi. Siapa tahu didengar dan itu jadi lebih baik buat kami semua," kata Jumhur.

Gagasan penghentian sementara ini menegaskan janji pencapaian keseimbangan antara aspek epistemologi, ekonomi, serta ekologi agar kemajuan bangsa tidak berat sebelah.

"Intinya nanti akan ada hitungannya, deltanya berapa. Misalnya menebang hutan, hijaunya hilang, tapi kemudian menanam hutan yang lain yang juga bisa menyerap emisi tapi juga sekaligus bisa menghasilkan bahan bakar yang rendah emisi karena sebelumnya kami memakai BBM berbahan bakar fosil," kata Jumhur.

Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menekankan kesediaan kalangan akademisi untuk mendukung penuh agenda penyelamatan bumi ini secara nyata.

"Sekarang Pak Jumhur Hidayat dan tim sedang berjuang membuat ekologi jadi recover, bangkit kembali, pulih kembali," tutur Sudirman Said.

Janji pemulihan ekologi ini juga diterapkan langsung di tingkat wilayah melalui kebijakan mitigasi serta adaptasi perubahan iklim di aglomerasi Tegal-Brebes.

Tahapan nyata di lokasi diwujudkan melalui pengolahan ribuan ton sampah menjadi energi listrik, penanaman ribuan mangrove di pesisir, gerakan penanaman pohon serentak, sampai kewajiban industri untuk menyediakan 40 persen kawasan mereka sebagai ruang terbuka hijau.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua