Defisit Neraca Dagang Mei 2026 Dipicu Kenaikan Biaya Impor Migas

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 03 Juli 2026
Defisit Neraca Dagang Mei 2026 Dipicu Kenaikan Biaya Impor Migas
Sebuah kendaraan melaju di samping deretan kontainer kargo di Terminal Kontainer Internasional Jakarta (FOTO: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menerangkan, kekurangan neraca perdagangan yang terjadi akhir-akhir ini utamanya diakibatkan oleh bertambahnya biaya impor minyak serta gas seiring melonjaknya harga energi global.

Purbaya mengatakan, tanah air sesungguhnya sudah merasakan surplus neraca perdagangan selama beberapa tahun belakangan.

Dia menuturkan, keadaan tersebut baru berganti ketika biaya impor migas melambung.

“Karena itu, kami impor migas, (ketika) harganya naik,” kata Purbaya, Rabu malam, 1 Juli 2026.

Berdasar informasi yang mencatat pertama kalinya neraca dagang kekurangan setelah memperoleh surplus dagang selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Terakhir, neraca dagang tanah air memperoleh surplus US$ 89,1 juta pada April 2026.

Purbaya menyebut, neraca perdagangan tanah air secara kumulatif pada periode Januari-Mei 2026 masih tercatat surplus US$ 4,03 miliar.

Jumlah ini ditunjang surplus komoditas nonmigas sebesar US$ 16,31 miliar, sedangkan komoditas migas masih kekurangan US$ 12,28 miliar.

Dia mengaku, belum memeriksa secara mendalam komponen impor gas yang ikut memengaruhi neraca dagang.

Namun, dia memastikan kenaikan impor energi menjadi pemicu utama yang mendorong peralihan dari surplus menjadi kekurangan.

Selain menyoroti neraca dagang, Purbaya juga menyikapi perkembangan inflasi.

Menurut dia, kenaikan harga sejumlah komoditas masih dipengaruhi faktor musiman sehingga desakan inflasi diprediksi bakal melandai.

Purbaya optimistis penurunan harga minyak global secara berangsur-angsur akan memangkas desakan terhadap inflasi domestik.

“Saya berharap setelah harga minyak turun, tekanan terhadap inflasi juga akan berkurang secara bertahap mengikuti pergerakan harga minyak dunia,” ujarnya.

Sebelumnya, mengumumkan neraca perdagangan tanah air mengalami kekurangan sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026.

Catatan ini membuat tren surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 akhirnya usai.

“Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar,” ujar keterangan resmi, Rabu (1/7/2026).

Menyampaikan, kekurangan pada Mei 2026 utamanya diakibatkan oleh neraca perdagangan komoditas minyak dan gas bumi yang minus US$ 3,76 miliar.

Penyumbang kekurangan terbanyak dari komoditas migas berasal dari hasil minyak serta minyak mentah.

“Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus US$ 2,15 miliar. Komoditas penyumbang utama surplus ini adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja,” jelasnya.

Menurut informasi, total nilai ekspor Mei 2026 tercatat sejumlah US$ 23,20 miliar, menyusut 5,73 persen jika dibandingkan dengan Mei 2025.

Penyusutan nilai ekspor secara tahunan ini didorong oleh lesunya performa ekspor migas maupun nonmigas.

Ekspor migas tercatat sejumlah US$ 0,76 miliar atau menyusut 31,76 persen.

Sementara itu, nilai ekspor nonmigas mengalami penyusutan 4,50 persen menjadi US$ 22,45 miliar pada Mei 2026.

Di sisi lain, angka impor melambung hingga 22,16 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Rinciannya, impor migas menyentuh US$ 4,51 miliar (meningkat pesat 70,78 persen) dan impor nonmigas mencapai US$ 20,30 miliar (naik 14,69 persen).

Sebelumnya, mencatat inflasi sebesar 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026.

Salah satu pemicu utamanya yakni kenaikan harga BBM nonsubsidi yang terjadi selama dua kali pada bulan tersebut.

Menjabarkan, terjadi inflasi sebesar 0,44 persen secara bulanan pada Juni 2026, atau kenaikan IHK dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026.

“Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 3,34 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi 1,79 persen,” jelasnya, Rabu (1/7/2026).

Menyampaikan, kelompok pengeluaran inflasi bulanan terjadi pada transportasi sebesar 2,29 persen.

Kelompok transportasi memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,28 persen.

Inflasi pada kelompok transportasi disumbang oleh kenaikan bensin, tarif angkutan udara, serta pelumas atau oli mesin.

Adapun inflasi pada komoditas bensin dipicu oleh penyesuaian harga beberapa jenis BBM nonsubsidi.

“Kami tahu bersama pada tanggal 1 Juni 2026 terjadi kenaikan harga pada Pertamax Turbo, tapi juga penurunan harga pada Dexlite dan Pertamina Dex. Kemudian, pada tanggal 10 Juni terjadi kenaikan harga pada Pertamax,” bebernya.

“Sementara kenaikan untuk tarif transportasi udara didorong oleh kenaikan permintaan, seiring dengan adanya periode libur sekolah pada bulan Juni ini,” dia menambahkan. 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua