Garuda Indonesia Setop Rute Jakarta Bengkulu, Ini Alasan Resmi Kemenhub
- Selasa, 31 Maret 2026
JAKARTA - Penghentian rute penerbangan Jakarta–Bengkulu oleh Garuda Indonesia menjadi perhatian publik, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada akses transportasi udara di wilayah tersebut.
Keputusan ini bukan tanpa alasan, karena dipengaruhi oleh sejumlah faktor operasional dan strategi bisnis maskapai. Kementerian Perhubungan pun memberikan penjelasan terkait latar belakang kebijakan tersebut.
Maskapai pelat merah itu diketahui telah menghentikan layanan penerbangan pada rute tersebut sejak akhir Maret 2026. Kebijakan ini mencerminkan dinamika industri penerbangan yang terus menyesuaikan diri dengan kondisi pasar, termasuk tingkat permintaan penumpang dan efisiensi operasional.
Baca JugaMendagri Apresiasi Program BSPS, Dinilai Bantu Warga Kurang Mampu
Penghentian Resmi Berlaku Sejak Akhir Maret 2026
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap alasan di balik penghentian operasional rute penerbangan Garuda Indonesia (GIA) Jakarta–Bengkulu.
Sebelumnya, maskapai pelat merah tersebut resmi menghentikan layanan rute itu per 28 Maret 2026, dengan penerbangan terakhir tercatat pada tanggal yang sama.
Keputusan ini menandai berakhirnya layanan penerbangan langsung Garuda Indonesia untuk rute tersebut, yang sebelumnya menjadi salah satu pilihan transportasi udara bagi masyarakat Bengkulu menuju ibu kota dan sebaliknya.
Persaingan dengan Citilink Pengaruhi Permintaan Penumpang
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F Laisa mengatakan keputusan tersebut dipengaruhi oleh kondisi permintaan penumpang yang terbagi dengan maskapai Citilink.
“Informasi dari Direktur Niaga PT GIA, kenapa GIA berhenti operasi di Bengkulu, karena PT Citilink juga beroperasi di Bengkulu sehingga secara demand penumpangnya terbagi dengan Citilink,” ujar Lukman.
Keberadaan Citilink sebagai maskapai dengan segmen pasar yang berbeda namun tetap melayani rute serupa membuat jumlah penumpang Garuda Indonesia tidak optimal. Hal ini berdampak langsung pada keberlanjutan operasional rute tersebut.
Load Factor Rendah Jadi Pertimbangan Utama
Ia menjelaskan, tingkat keterisian kursi atau load factor pada penerbangan Garuda Indonesia di rute tersebut juga relatif rendah.
Untuk kelas ekonomi, load factor (LF) tercatat hanya sekitar 65%, sementara kelas bisnis berada di kisaran 20%.
Menurut Lukman, kondisi tersebut menjadi bagian dari pertimbangan maskapai dalam melakukan penyesuaian strategi jaringan penerbangan (network planning).
“Adapun load factor (LF) PT GIA ekonomi hanya 65%, bisnis 20%," ujar Lukman.
"Tetapi PT GIA saat ini sedang melakukan penyesuaian network planningnya, sehingga diharapkan di masa depan, PT GIA bisa beroperasi kembali di seluruh provinsi di Indonesia,” lanjut dia.
Rendahnya tingkat keterisian kursi menunjukkan bahwa rute tersebut belum mampu memberikan keuntungan optimal bagi maskapai. Oleh karena itu, evaluasi jaringan penerbangan menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Konfirmasi dari Pihak Bandara Bengkulu
Mengutip Antara, PT Angkasa Pura (AP) II Kantor Cabang Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu menyebutkan operasi penerbangan Garuda Indonesia di bandara itu telah berhenti.
Selama ini maskapai itu beroperasi melakukan penerbangan dari Jakarta ke Bengkulu maupun sebaliknya.
"Memang benar penerbangan (Garuda Indonesia) berhenti beroperasi dan kemarin tanggal 28 Maret 2026 adalah 'last flight-nya," kata General Manager Angkasa Pura Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu Muhammad Haekal di Kota Bengkulu, Minggu.
Pernyataan ini memperkuat bahwa penghentian rute tersebut telah resmi dilakukan dan bukan sekadar wacana. Aktivitas penerbangan Garuda Indonesia di bandara tersebut kini tidak lagi beroperasi.
Alasan Resmi Maskapai Masih Menunggu Penjelasan
Untuk alasan resmi penghentian penerbangan maskapai tersebut di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, dirinya tidak mengetahuinya.
"Untuk resminya silakan tanyakan langsung ke pihak maskapinya," ujar dia.
Meski Kementerian Perhubungan telah memberikan gambaran umum terkait faktor penyebabnya, pernyataan resmi dari pihak maskapai tetap menjadi rujukan utama. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan bisnis maskapai memiliki pertimbangan internal yang lebih kompleks.
Secara keseluruhan, penghentian rute Jakarta–Bengkulu oleh Garuda Indonesia mencerminkan tantangan yang dihadapi industri penerbangan dalam menjaga keseimbangan antara permintaan pasar dan efisiensi operasional. Dengan strategi penyesuaian jaringan yang tengah dilakukan, diharapkan ke depan maskapai dapat kembali memperluas layanannya, termasuk kemungkinan membuka kembali rute yang saat ini dihentikan.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Pink Moon April 2026 Muncul Rabu Malam, BRIN Jelaskan Waktu dan Cara Melihatnya
- Selasa, 31 Maret 2026
Ditjenpas Siap Terapkan WFH Sesuai Regulasi Pemerintah Pusat Secara Bertahap
- Selasa, 31 Maret 2026
Garuda Indonesia Setop Rute Jakarta Bengkulu, Ini Alasan Resmi Kemenhub
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Ditjenpas Siap Terapkan WFH Sesuai Regulasi Pemerintah Pusat Secara Bertahap
- Selasa, 31 Maret 2026
BGN Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Jalan Meski ASN Terapkan WFH
- Selasa, 31 Maret 2026
Siap Hadapi TKA 2026 SD dan SMP, Mendikdasmen Tegaskan Sanksi Tegas bagi Kecurangan
- Selasa, 31 Maret 2026
Pemutakhiran DTSEN Ditekankan Mensos Demi Ketepatan Penyaluran Bansos Nasional
- Selasa, 31 Maret 2026









