Investasi Danantara Rp234 Triliun Dorong Saham BUMN dan Crowding-In Efek Positif
- Selasa, 27 Januari 2026
JAKARTA — Rencana alokasi investasi Danantara Indonesia senilai US$14 miliar atau setara Rp234,90 triliun pada 2026 dinilai akan menjadi faktor penggerak baru bagi pasar modal, khususnya saham-saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dengan peran sebagai pengelola aset strategis, Danantara diproyeksikan tidak hanya memperkuat fundamental emiten pelat merah, tetapi juga mendorong partisipasi investor swasta melalui mekanisme crowding-in effect.
Pendekatan investasi berskala besar ini menempatkan Danantara sebagai aktor penting dalam membangun kepercayaan pasar. Intervensi yang dilakukan tidak sekadar berupa penempatan dana, melainkan juga menyasar restrukturisasi dan penguatan tata kelola perusahaan, sehingga memberikan sinyal positif terhadap prospek jangka menengah dan panjang saham BUMN.
Baca JugaDanantara Siap Masuk Pasar Modal Lewat IPO BUMN dan Strategi Pengelolaan Aset
Peran Danantara dalam Membangun Kepercayaan Pasar
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai kehadiran Danantara sebagai pengelola aset aktif dapat meningkatkan kepercayaan pasar melalui intervensi langsung maupun penguatan fundamental perusahaan. Dampak awalnya terlihat dari respons positif terhadap sejumlah saham BUMN, seperti PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), yang mengalami perbaikan sentimen seiring ekspektasi restrukturisasi.
“Kehadiran Danantara sebagai pengelola aset aktif meningkatkan kepercayaan pasar dan volume perdagangan, yang pada akhirnya mendorong apresiasi nilai pasar saham BUMN secara berkelanjutan seiring dengan pelaksanaan restrukturisasi yang nyata,” ujarnya.
Menurut Abida, proyek strategis yang dijalankan Danantara juga memiliki daya tarik bagi investor institusi maupun global karena mengedepankan model kemitraan strategis. Di sisi lain, langkah Danantara membangun reputasi internasional, termasuk melalui partisipasi pada forum global seperti World Economic Forum (WEF) Davos, turut memperkuat citra Indonesia sebagai mitra investasi yang transparan dan kredibel.
Kolaborasi konkret dalam proyek infrastruktur energi, sektor kesehatan, hingga hilirisasi industri dinilai memberikan sinyal kepastian hukum sekaligus potensi keuntungan yang terukur. Salah satu contohnya adalah proyek pabrik soda kaustik senilai US$800 juta yang menjadi representasi arah investasi jangka panjang berbasis nilai tambah.
Sektor Strategis yang Berpotensi Mendapat Re-Rating
Dari perspektif valuasi, Abida memproyeksikan sektor telekomunikasi, energi terbarukan, serta hilirisasi mineral sebagai kelompok industri yang berpeluang memperoleh sentimen paling kuat. Fokus Danantara pada sektor strategis diyakini mendorong re-rating valuasi emiten yang terlibat langsung dalam proyek-proyek tersebut.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) disebut telah menunjukkan optimalisasi aset digital yang mendukung prospek sektor telekomunikasi. Sementara itu, sektor mineral diuntungkan oleh pendanaan proyek smelter serta arah kebijakan transisi menuju energi bersih.
“Dengan kondisi valuasi indeks saham utama, yakni IDX30 yang saat ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya, langkah restrukturisasi Danantara membuka ruang apresiasi yang luas bagi emiten di sektor-sektor tersebut untuk mencapai nilai intrinsik yang lebih tinggi,” pungkas Abida.
Dengan demikian, strategi Danantara tidak hanya berdampak pada kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga berpotensi mengubah persepsi pasar terhadap valuasi saham BUMN secara keseluruhan.
Crowding-In Effect dan Daya Tarik Investor Swasta
Pandangan senada disampaikan Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi. Ia menuturkan bahwa alokasi investasi jumbo dari Danantara akan menjadi katalis utama bagi proses re-rating valuasi emiten pelat merah. Kucuran dana tersebut diperkirakan memberi jaminan likuiditas bagi proyek-proyek pemerintah sekaligus membantu proses penyehatan neraca keuangan atau deleveraging BUMN.
“Alokasi tersebut berpotensi menjadi katalis re-rating valuasi karena pasar dapat merespons positif seiring dengan adanya jaminan likuiditas proyek dan proses deleveraging, sehingga menurunkan risiko arus kas yang selama ini membebani emiten BUMN,” pungkas Wafi kepada Bisnis.
Lebih jauh, Wafi menekankan bahwa kehadiran Danantara sebagai penyokong dana dapat memicu crowding-in effect, yakni kondisi ketika keterlibatan pemerintah justru mendorong masuknya investor swasta. Dengan adanya komitmen finansial pemerintah yang kuat, profil risiko proyek menjadi lebih rendah di mata global.
“Kebijakan tersebut berpeluang memicu efek crowding-in, mengingat komitmen finansial pemerintah dapat menurunkan profil risiko proyek,” ujarnya.
Dalam proyeksi KISI Sekuritas, tiga sektor utama diperkirakan akan menerima sentimen positif paling kuat dari rencana investasi Danantara, yaitu infrastruktur, energi dan hilirisasi, serta perbankan. Ketiga sektor tersebut dianggap memiliki keterkaitan langsung dengan proyek-proyek strategis nasional yang memerlukan dukungan pendanaan jangka panjang.
Sumber Dana dan Proyek Prioritas 2026
Sebelumnya, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa dana investasi sebesar US$14 miliar atau setara Rp234,90 triliun (kurs Jisdor Rp16.779 per dolar AS) berasal dari setoran dividen BUMN serta rencana penerbitan obligasi kedua dalam beberapa bulan mendatang.
“Tahun lalu kami sudah berkomitmen sekitar US$8 miliar ... tetapi total tahun ini mencapai US$14 miliar yang harus kami gunakan,” ujarnya dalam Reuters Global Markets Forum di Davos, Swiss.
Stockbit Sekuritas juga mencatat bahwa alokasi dana tersebut akan menyasar sejumlah proyek strategis pada 2026, baik melalui investasi langsung maupun pasar publik. Sejumlah proyek bahkan telah memasuki tahap awal pelaksanaan.
Salah satu agenda utama Danantara adalah pengembangan proyek waste-to-energy (WTE) yang dijadwalkan memasuki tahap pengumuman pemenang lelang pada pertengahan Februari 2026, kemudian dilanjutkan dengan groundbreaking pada Maret 2026. Tahap pertama proyek ini difokuskan di Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta, dengan estimasi kebutuhan dana Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Selain itu, Danantara juga merencanakan lelang tahap kedua untuk enam kota lainnya.
Dengan kombinasi antara pendanaan besar, fokus sektor strategis, dan upaya membangun kepercayaan global, investasi Danantara dinilai memiliki potensi kuat untuk mengubah lanskap saham BUMN sekaligus menarik modal swasta, menjadikannya motor baru bagi dinamika pasar modal Indonesia pada 2026.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Satu Data Indonesia Dorong Percepatan Kopdes Merah Putih Nasional Pemerintah Daerah
- Selasa, 27 Januari 2026
Kemenperin Perbarui Skema KIPK Demi Optimalkan Penyerapan Pembiayaan 2026
- Selasa, 27 Januari 2026
Jarang di Sadari 5 Brand Indonesia Terkenal yang Ternyata Berasal dari Singkatan Unik
- Selasa, 27 Januari 2026
Jadwal Layanan SIM Keliling Jakarta Selasa 27 Januari 2026 di Lima Lokasi
- Selasa, 27 Januari 2026
Berita Lainnya
Kontrak PLTA PLN Perkuat Kinerja dan Ekspansi MPX Logistics Lewat Proyek
- Selasa, 27 Januari 2026
Anak Usaha CBDK Tambah Modal, Struktur Keuangan IPN Menguat hingga Rp8 Triliun
- Selasa, 27 Januari 2026
Beragam Strategi Adaro Andalan Dukung Transisi Energi Bersih Pemerintah Menuju 2060
- Senin, 26 Januari 2026








.jpg)


