JAKARTA - Bank Indonesia (BI) diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2025, seiring dengan dinamika ekonomi domestik dan global yang masih penuh tantangan. Tekanan inflasi yang dipicu oleh momentum tahun ajaran baru, kenaikan konsumsi liburan, serta lonjakan harga bahan bakar non-subsidi menjadi salah satu alasan utama BI diprediksi tidak akan melakukan penyesuaian suku bunga dalam waktu dekat.
Prediksi tersebut disampaikan oleh Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky. Ia menilai, mempertahankan suku bunga tetap di level 5,5 persen menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam situasi saat ini.
“Melihat perkembangan kondisi domestik dan global, kami berpandangan Bank Indonesia masih perlu menahan BI-Rate di 5,50 persen untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujar Riefky.
Baca JugaTabel Angsuran KUR BRI 2026 Lengkap, Persyaratan dan Dokumen Penting
Sebelumnya, pada RDG Juni 2025, BI juga menahan suku bunga di level yang sama. Hal ini sejalan dengan perkembangan inflasi yang menunjukkan tren meningkat. Pada Juni 2025, inflasi tercatat naik signifikan menjadi 1,87 persen secara tahunan (year on year/yoy), dari sebelumnya 1,60 persen pada Mei 2025.
Di sisi global, Riefky menyoroti sikap The Fed yang masih mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen sejak Desember 2024. The Fed masih mengedepankan sikap hati-hati sambil menunggu perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja, di tengah ketegangan perdagangan yang dipicu tarif baru dari Amerika Serikat.
Dalam periode yang sama, situasi ketegangan geopolitik turut menjadi pertimbangan penting BI dalam mengambil keputusan kebijakan moneter. Riefky menggarisbawahi, pengenaan tarif resiprokal 32 persen oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia sejak Juli 2025 dinilai tidak berdampak signifikan terhadap pasar keuangan domestik. Pasar saham maupun pasar obligasi masih menunjukkan ketahanan dan tidak mengalami tekanan arus keluar modal yang berarti.
“Pasar merespons tarif resiprokal dengan tenang, karena dinilai sudah diantisipasi sebelumnya. Tekanan terhadap pasar saham maupun obligasi relatif terkendali,” tambah Riefky.
Dengan mempertahankan BI-Rate, BI diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara menahan tekanan inflasi dan menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Mendagri Nilai Penugasan Taruna KKP Perkuat Percepatan Pemulihan Bencana
- Kamis, 15 Januari 2026
Menag Dorong Peran Strategis BP4 Kepri Cegah Lonjakan Perceraian Daerah
- Kamis, 15 Januari 2026
Kemenhaj Perketat Sistem Kesehatan Haji dengan Penguncian Data Digital
- Kamis, 15 Januari 2026
Berita Lainnya
Prediksi IHSG Menguat Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham Pilihan 13 Januari 2026
- Selasa, 13 Januari 2026
Terpopuler
2.
Biar Tak Cepat Lelah, Ini Tujuh Minuman Ideal Sebelum Olahraga
- 15 Januari 2026
3.
4.
7 Cara Menyimpan Nasi Matang Agar Tetap Pulen Tanpa Rice Cooker
- 15 Januari 2026












