Izin Penjualan Minyak Iran Dicabut, Harga Minyak Melesat 5%
HOUSTON - Nilai minyak global menanjak drastis pada transaksi Selasa (7/7/2026) waktu setempat sesudah Amerika Serikat (AS) membatalkan izin umum yang sebelumnya mengizinkan niaga minyak mentah Iran.
Gejolak di Selat Hormuz yang kembali menghangat turut memicu kekhawatiran terkait hambatan pasokan energi secara global.
"Dikutip dari Sumbernya, harga minyak mentah Brent ditutup melonjak US$ 2,17 (3,01%) menjadi US$ 74,16 per barel."
"Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$ 1,89 (2,76%) ke US$ 70,44 per barel."
Pergerakan harga minyak terus berlanjut usai penutupan sesi dagang.
Brent melambung sampai US$ 76,03 per barel, sementara WTI naik menjadi US$ 72,20 per barel sesudah otoritas AS secara sah membatalkan lisensi umum yang mengizinkan niaga minyak Iran.
Jika dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut telah menanjak lebih dari 5%.
Keputusan Washington diambil menyusul tiga kapal tangker yang diserang di Selat Hormuz pada Selasa.
Satu di antaranya merupakan kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik Qatar yang, menurut otoritas Qatar, dihantam pesawat nirawak (drone) Iran.
Di samping itu, kapal tangker minyak berbendera Arab Saudi yang diduga sebagai supertanker Wedyan juga menderita kerusakan di lepas pantai Oman.
Penyebab nyata peristiwa itu masih belum diketahui.
Pemerintah AS mengkritik tindakan Iran di Selat Hormuz dan menyebutnya "sepenuhnya tidak dapat diterima".
Washington menegaskan penyerangan terhadap kapal-kapal di jalur pelayaran strategis tersebut bakal menerima konsekuensi.
Direktur Energy Futures Mizuho Bob Yawger menilai, pembatalan lisensi niaga minyak Iran menjadi tanda bahwa Washington memandang aksi Teheran telah melampaui batas.
Walau begitu, dia memprediksi keputusan tersebut tidak bakal berpengaruh signifikan terhadap kapasitas Iran menjual minyak ataupun peluang tercapainya kesepakatan yang lebih luas.
"Saya tidak melihat kedua belah pihak memiliki kepentingan untuk menggagalkan tercapainya kesepakatan," ujar Yawger.
Direktur Energy and Refining ICIS Ajay Parmar menyatakan, kondisi saat ini memperlihatkan rapuhnya perdamaian sementara antara AS dan Iran.
"Serangan lanjutan masih bisa terjadi dalam beberapa bulan ke depan dan akan terus meningkatkan volatilitas pasar. Jika Iran kembali mengancam menutup Selat Hormuz, harga minyak dapat melonjak jauh lebih tinggi," katanya.
Serupa, analis UBS Giovanni Staunovo menilai meningkatnya gejolak di Timur Tengah serta penyerangan terhadap kapal tangker berpotensi menghambat ekspor minyak dari wilayah tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan diskusi untuk memperoleh kesepakatan final dengan AS tidak akan diteruskan selama intimidasi dari Presiden AS Donald Trump masih berlangsung.
Sebelumnya, Trump mengancam bakal ‘menuntaskan’ perselisihan apabila tidak tercapai kesepakatan.
Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia.
Sebelum meletusnya perang Iran, sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia dikapalkan lewat perairan tersebut.
Di sisi lain, militer Ukraina menyatakan telah menyerang delapan kapal tangker dari armada bayangan (shadow fleet) Rusia yang dimanfaatkan guna menghindari sanksi internasional serta memasok bahan bakar ke Crimea.