Inovasi Biogas Sapi Dorong Ekonomi dan Energi Bersih bagi Peternak
SAMARINDA - Pemanfaatan biogas dengan bahan baku kotoran sapi terus memperlihatkan hasil positif bagi kalangan peternak di Kalimantan Timur.
Di samping sanggup menurunkan ketergantungan kepada bahan bakar fosil, kreasi energi terbarukan ini pun membuka peluang peningkatan penghasilan serta mendukung kemajuan ekonomi berbasis masyarakat.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menyebutkan program pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas telah memberikan dampak baik bagi peternak di beberapa daerah.
“Program konversi limbah ternak ini terbukti memotong ketergantungan warga terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya pengeluaran rumah tangga,” kata dari Sumbernya saat diwawancarai, Selasa (7/7/2026).
Keberhasilan program itu salah satunya terlihat pada Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Di tempat ini, limbah kotoran sapi diolah melalui reaktor biogas hingga menghasilkan energi berupa api biru yang digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari.
Menurut dari Sumbernya, sejak tahun 2011 pemerintah telah membangun setidaknya 570 unit reaktor biogas skala rumah tangga yang tersebar di desa-desa pada tujuh kabupaten di Kalimantan Timur, di antaranya Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Paser.
Melalui penggunaan teknologi tersebut, kelompok peternak kini bisa menekan konsumsi gas elpiji secara signifikan.
“Dari tinjauan kami di Kutai Kartanegara dan Paser, masyarakat peternak sapi hanya membutuhkan satu tabung LPG cadangan, karena mayoritas kebutuhan dapur sudah tercukupi dari kotoran sapi di kandang sendiri,” ujarnya.
Bukan hanya menghasilkan energi alternatif, proses penguraian limbah ternak di dalam reaktor juga menghasilkan pupuk organik cair dan padat yang memiliki nilai ekonomis.
Produk sampingan ini dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian maupun dijual kepada masyarakat sekitar.
Dari Sumbernya menjelaskan, sejumlah peternak bahkan sudah mendapatkan tambahan penghasilan berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan dari penjualan pupuk organik hasil pengolahan limbah tersebut.
Selain meningkatkan pendapatan peternak, keberadaan biogas juga dinilai berpotensi mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan peternakan.
“Kami melihat ada juga potensi pengembangan UMKM di sekitar lokasi kandang, seperti usaha pengolahan makanan, yang proses produksinya bisa menggunakan energi bersih ini,” tuturnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan di sektor peternakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun lalu juga menyalurkan 11 unit reaktor biogas skala besar berkapasitas 17 meter kubik.
Berbeda dengan reaktor rumah tangga, reaktor berkapasitas besar tersebut tidak hanya sanggup memenuhi keperluan energi untuk memasak, tetapi juga dapat menghasilkan listrik untuk mendukung penerangan lingkungan komunal di kawasan pedesaan.
“Dukungan teknologi ini bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular terintegrasi, sehingga limbah peternakan tidak lagi menjadi masalah lingkungan melainkan menjadi aset kesejahteraan,” tegasnya.
Lebih lanjut, dari Sumbernya menyebut penggunaan pupuk organik hasil pengolahan biogas terbukti sanggup meningkatkan produktivitas tanaman sayuran milik warga.
Dengan demikian, petani tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tinggi untuk membeli pupuk kimia.
Menurut dari Sumbernya, keberhasilan program biogas di sejumlah wilayah, khususnya di Kutai Kartanegara, dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Keberhasilan di Kutai Kartanegara ini merupakan contoh bagi wilayah lain dalam mewujudkan kedaulatan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya.