Bupati Berau Ajak Kolaborasi Kelola Sampah Menjadi Bernilai Ekonomi
TANJUNG REDEB - Pemkab Berau terus mengokohkan ketetapan hati dalam merealisasikan pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan ekonomi sirkular.
Keteguhan tersebut kembali ditegaskan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat membuka Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Berau Circular Future 2025 di Hotel Mercure, beberapa waktu lalu.
Di dalam forum tersebut, Pemkab Berau mulai merombak pola pikir lama dalam memandang problematika limbah.
Apabila selama ini sisa rumah tangga identik dengan masalah kebersihan serta pencemaran lingkungan, kini sampah diproyeksikan sebagai salah satu sumber energi terbarukan sekaligus motor penggerak ekonomi hijau di wilayah tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari siasat pemerintah daerah dalam menekan ketergantungan pada sektor pertambangan serta sumber daya alam yang selama ini masih menjadi pilar utama perekonomian.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menilai, penganekaragaman ekonomi harus segera dilaksanakan supaya daerah memiliki landasan yang lebih kokoh serta berkelanjutan di masa depan.
Ditegaskan konsep ekonomi hijau telah menjadi kiblat pembangunan Kabupaten Berau ke depan.
Selain mengoptimalkan potensi sumber daya alam, pemerintah daerah juga terus memacu penguatan sektor pariwisata yang dipandang memiliki prospek besar sebagai penopang ekonomi wilayah.
Akan tetapi, keberhasilan sektor pariwisata tidak sekadar ditentukan oleh keelokan alam yang dimiliki Berau.
Kebersihan lingkungan serta penanganan limbah yang baik menjadi faktor krusial dalam menciptakan destinasi wisata yang bermutu serta berdaya saing.
“Ke depan kami harus menyiapkan fondasi ekonomi yang lebih beragam agar lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Terlebih lagi, penerapan prinsip Sapta Pesona, khususnya unsur kebersihan, menjadi syarat mutlak agar pariwisata Berau sanggup bersaing dengan wilayah lain.
Oleh karena itu, persoalan limbah harus ditangani secara sungguh-sungguh melalui kerja sama lintas sektor.
Sri Juniarsih juga menekankan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja mandiri, terlebih dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran yang membatasi ruang fiskal daerah.
Keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dipandang menjadi bagian vital dalam menyokong pengembangan sistem penanganan sampah yang modern serta berkelanjutan.
“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya meminta perusahaan menjalankan kewajibannya untuk ikut berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat melalui program-program yang memberikan manfaat nyata,” katanya.
Selain itu, dari Sumbernya turut mengajak masyarakat guna merubah cara pandang terhadap limbah, dari yang semula dianggap tidak berharga menjadi sumber daya yang memiliki potensi ekonomi.
Menurut dari Sumbernya, perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci dalam menyokong keberhasilan ekonomi sirkular di daerah.
Dengan meningkatnya jumlah warga serta perkembangan sektor pariwisata, Sri mengingatkan bahwa volume limbah di Kabupaten Berau bakal terus meningkat.
“Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” ujarnya.
Sri Juniarsih menambahkan, dengan sokongan teknologi pengolahan yang tepat, sampah dapat dipilah sesuai sifatnya sehingga memiliki nilai tambah.
Bahkan, sebagian jenis limbah berpotensi didayagunakan sebagai bahan baku pembangkit energi listrik yang sanggup menyokong kebutuhan energi di masa depan.