Strategi SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Banyu Urip

Strategi SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Banyu Urip
Menteri ESDM Arifin Tasrif

JAKARTA – Berbagai langkah guna menghambat laju penurunan produksi secara alami terus diupayakan di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited.

 Sejumlah prosedur teknis diterapkan demi memastikan level produksi minyak nasional tetap prima di tengah tantangan depresiasi alami sumur migas.

Djoko Siswanto, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), menyatakan bahwa pengelola Lapangan Banyu Urip secara konsisten melakukan inovasi untuk meminimalisir laju penurunan produksi organik.

Baca Juga

Viral Video Asusila, Satpol PP Tutup Akses Rel Stasiun Jatinegara

"Dalam rangka perang melawan penurunan produksi alamiah, Banyu Urip terus melakukan upaya menahan laju penurunan produksi dengan berbagai cara antara lain menahan keluarnya air dan gas dari sumur dengan injeksi kimia dan High Rate Test untuk menahan gas yang turut terproduksi dan memasang plug untuk menahan air yang juga turut terproduksi," jelas Djoko dalam keterangannya, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan bahwa rangkaian upaya tersebut berhasil memberikan tambahan hasil minyak yang tergolong signifikan. "Lumayan tambahan produksi minyak sumurannya bisa 1.000 – 2.000 barel per hari (bph)," ucapnya.

Di samping memaksimalkan sumur yang sudah ada, operator Blok Cepu juga tetap menjalankan program penambahan produksi melalui kampanye pemboran Banyu Urip Infill Clastic (BUIC).

 Agenda ini merupakan salah satu taktik inti untuk menjaga angka produksi minyak nasional tetap kuat di tengah tren penurunan alami pada lapangan migas yang sudah berumur.

BUIC merupakan program pemboran terkini di Lapangan Banyu Urip yang menambah tujuh sumur baru, sekaligus menjadi aktivitas pemboran perdana sejak tahun 2016. 

Proses pemboran ini dimulai pada April 2024 dan selesai pada Juni 2025, atau 10 bulan lebih awal dari target yang telah ditentukan.

Capaian produksi dari agenda pemboran BUIC ini dilaporkan mampu menyumbang tambahan hingga 30.000 barel minyak per hari. 

Melalui tambahan tersebut, output Blok Cepu merangkak naik dari posisi 150 ribu bph menjadi kisaran 170 ribu hingga 180 ribu bph, atau mencakup sekitar 25 persen lifting minyak nasional.

Djoko menganggap beragam intervensi teknologi yang diterapkan ExxonMobil di Blok Cepu terbukti mumpuni dalam menjaga produktivitas. 

Selain pengeboran sumur baru di program BUIC, kenaikan produksi juga dipicu oleh perawatan sumur aktif serta pengaktifan kembali sumur yang tidak aktif (idle).

Salah satu keberhasilan terbaru adalah peningkatan hasil dari Sumur Banyu Urip A07 melalui skema Water Shut-Off (WSO).

 Produksi di sumur tersebut melesat dari 4.800 bph ke angka 12.300 bph, alias meningkat sekitar 7.500 bph, melampaui target awal yang semula hanya 1.000 bph.

Lapangan Banyu Urip merupakan pilar utama produksi minyak di dalam negeri. 

Pihak ExxonMobil mengungkapkan bahwa secara total Blok Cepu telah memproduksi lebih dari 650 juta barel minyak mentah dan berkontribusi terhadap lebih dari 25 persen total produksi minyak nasional.

Talita Malinda

Talita Malinda

Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Laba Shell Melonjak USD6,92 Miliar di Q1-2026 Akibat Konflik Iran

Laba Shell Melonjak USD6,92 Miliar di Q1-2026 Akibat Konflik Iran

Kemenkop Dorong Transformasi Koperasi Tambang Modern di Wilayah NTB

Kemenkop Dorong Transformasi Koperasi Tambang Modern di Wilayah NTB

ADPMET Perjuangkan Kenaikan DBH Migas untuk Pembangunan Daerah

ADPMET Perjuangkan Kenaikan DBH Migas untuk Pembangunan Daerah

ICRES: Pajak EBT Jangan Sampai Menghambat Investasi Hijau Nasional

ICRES: Pajak EBT Jangan Sampai Menghambat Investasi Hijau Nasional

Bareskrim Bongkar Gudang Sabu 29,4 Kg di Apartemen Kelapa Gading

Bareskrim Bongkar Gudang Sabu 29,4 Kg di Apartemen Kelapa Gading