JAKARTA - Upaya Indonesia untuk mencapai kemandirian energi terus diperkuat melalui berbagai strategi berbasis sumber daya dalam negeri.
Salah satu langkah yang kini menjadi fokus pemerintah adalah mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar, khususnya solar, dengan memanfaatkan potensi besar sektor pertanian.
Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas energi nasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi sektor agrikultur untuk memberikan kontribusi lebih luas. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas domestik.
Baca JugaIKN Diproyeksikan Tampung 4.000 ASN pada 2028, Ini Penjelasan Basuki
Kementerian Pertanian (Kementan) mengakselerasi program hilirisasi sektor pertanian dengan membidik penghentian impor solar melalui optimalisasi biofuel berbasis kelapa sawit (B50) serta pengembangan bioetanol (E20). Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan langkah strategis ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto guna memperkuat ketahanan energi nasional di tengah memanasnya dinamika geopolitik global.
“Janji Bapak Presiden bahwa kita menyetop impor solar dan digantikan oleh biofuel sawit B50. Itu potensinya mencapai 5,3 juta ton,” ujar Amran.
Strategi Penghentian Impor Solar
Pemerintah menempatkan penghentian impor solar sebagai salah satu target utama dalam agenda kemandirian energi. Melalui pemanfaatan biofuel berbasis sawit, Indonesia berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dari luar negeri.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah tekanan global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya dalam negeri, pemerintah berharap dapat menciptakan sistem energi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, kebijakan ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan, baik dari sisi penghematan devisa maupun peningkatan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Pengembangan Biofuel B50 Berbasis Sawit
Program biofuel B50 menjadi salah satu pilar utama dalam strategi ini. Dengan memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan baku, Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan energi alternatif dalam skala besar.
Potensi produksi yang mencapai jutaan ton menunjukkan bahwa biofuel bukan sekadar alternatif, tetapi dapat menjadi solusi utama dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia.
Penggunaan biofuel juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga mendukung upaya transisi menuju energi yang lebih bersih.
Dorongan Pengembangan Bioetanol E20
Selain biofuel B50, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E20. Bahan bakar ini dirancang menggunakan campuran bensin dengan etanol yang bersumber dari komoditas pertanian seperti jagung, ubi kayu, hingga tebu.
Menurut Amran, Indonesia memiliki cadangan bahan baku yang melimpah, termasuk produk sampingan industri gula yang selama ini belum tergarap optimal untuk energi.
“Bahan baku kita yang dieksport itu ada 1 juta ton molase atau tetes tebu. Ini memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi etanol secara domestik,” tambahnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya berperan dalam penyediaan pangan, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung kebutuhan energi nasional.
Peran BUMN dalam Hilirisasi Energi
Dalam implementasinya, Kementan menggandeng Badan Pengaturan BUMN sebagai motor penggerak hilirisasi di lapangan. Sinergi ini diharapkan mampu membuka potensi aset-aset BUMN untuk mempercepat transisi energi berbasis pertanian.
Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, menyatakan dukungannya untuk melakukan unlocking potensi di sejumlah perusahaan pelat merah guna memastikan rantai pasok hilirisasi berjalan independen.
“Kita akan memastikan BUMN menjadi lebih mandiri dan independen dalam mendukung pembinaan sektor yang dilakukan Kementerian Pertanian,” kata Tedi.
Kolaborasi ini menjadi penting untuk memastikan bahwa program hilirisasi tidak hanya berjalan di tingkat kebijakan, tetapi juga terealisasi secara konkret di lapangan.
Dampak Ekonomi dan Kesejahteraan Petani
Senada, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebutkan bahwa peran sektor pertanian kini menjadi kian strategis. Setelah swasembada pangan tercapai, sektor ini diproyeksikan menjadi penyumbang utama dalam transisi bioenergi nasional.
Pemerintah optimistis akselerasi biofuel dan bioetanol ini tidak hanya akan menekan defisit neraca dagang akibat impor energi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada komoditas petani dan meningkatkan kesejahteraan di tingkat hulu.
Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya berfokus pada energi, tetapi juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang luas. Peningkatan nilai komoditas diharapkan dapat mendorong pertumbuhan sektor pertanian sekaligus memperkuat ekonomi nasional secara keseluruhan.
Langkah menuju kemandirian energi melalui biofuel dan bioetanol menjadi bukti bahwa Indonesia berupaya memanfaatkan potensi dalam negeri secara maksimal. Jika terealisasi dengan baik, kebijakan ini berpeluang besar mengubah peta energi nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di masa depan.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Infinix Zero Ultra Resmi Meluncur, Fast Charging 180W dan Kamera 200MP Jadi Andalan
- Selasa, 31 Maret 2026
Terungkap! OPPO Find X9s Pro Hadir dengan Dual Kamera 200MP dan Performa Gahar
- Selasa, 31 Maret 2026
Prakiraan Cuaca Indonesia 31 Maret 2026: Palembang Berpotensi Hujan Petir
- Selasa, 31 Maret 2026
Proyek Blok Masela Dipercepat, Bahlil Sebut Nilai Investasi Bisa Rp300 Triliun
- Selasa, 31 Maret 2026
Berita Lainnya
Elnusa Targetkan Efisiensi Operasi Hingga 25 Persen, Fokus Jadi Low Cost Operator
- Selasa, 31 Maret 2026











