JAKARTA - Krisis sampah tak lagi sekadar masalah kebersihan, melainkan juga tantangan besar bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Namun, Kabupaten Cirebon kini memilih jalur progresif: mengubah ancaman menjadi sumber energi. Lewat pemanfaatan teknologi pengolahan sampah, pemerintah setempat berambisi menghadirkan energi bersih hingga 10 megawatt (MW).
Langkah konkret ini diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten Cirebon dan PT Global Energy Investama, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi alternatif dari limbah. Penandatanganan berlangsung di Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon dan disaksikan langsung oleh Bupati Cirebon, Imron.
Upaya ini menjadi sinyal kuat bahwa Kabupaten Cirebon tidak ingin lagi menunda penanganan sampah yang terus menumpuk dan mencemari lingkungan. Melalui pendekatan inovatif, limbah yang sebelumnya menjadi beban kini akan diolah menjadi kekuatan baru bagi sektor energi.
Baca JugaBulog Perkuat Layanan Pangan Nasional Melalui Penerapan Sistem Margin Fee
Dalam pernyataannya, Bupati Imron mengakui bahwa masalah sampah bukan hal baru dan masih terus menjadi persoalan yang kompleks. "Sampah memang menjadi permasalahan kita semua. Kami pun sudah berkali-kali mengadakan arahan, bimbingan ke desa-desa, ternyata sampah masih saja menjadi permasalahan," ungkapnya.
Kolaborasi dengan PT Global Energy Investama dinilai sebagai langkah strategis yang bukan hanya seremonial, tetapi harus segera diwujudkan dalam tindakan nyata. Imron berharap proyek ini bisa menjadi tonggak perubahan dalam pengelolaan lingkungan di daerahnya.
“Mudah-mudahan kerja sama ini bisa cepat terlaksana dan menjadikan Kabupaten Cirebon bersih,” tegasnya.
Langkah awal dari proyek besar ini adalah pelaksanaan studi kelayakan (feasibility study/FS), yang akan menjadi dasar teknis dan ekonomis sebelum masuk tahap konstruksi pembangkit listrik tenaga sampah. Menurut Direktur Utama PT Global Energy Investama, Masnizon, konstruksi pembangkit tersebut sendiri akan memakan waktu lebih dari satu tahun.
“Target pelaksanaannya kita mulai dengan FS dulu. Kalau semuanya berjalan lancar, sekitar dua tahun. Karena konstruksinya saja bisa lebih dari satu tahun. Target kami membangun pembangkit listrik tenaga sampah,” kata Masnizon.
Ia menekankan bahwa proyek ini akan menghadirkan manfaat ganda: menyelesaikan masalah limbah dan sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Energi sebesar 10 MW direncanakan dihasilkan setiap harinya, dengan estimasi kebutuhan bahan baku sampah sebesar 600 ton per hari.
“Kalau 10 MW itu sekitar 600 ton per hari. Sedangkan produksi sampah di sini kan sekitar 1.200 ton per hari. Tapi sebagian memang sudah tertangani oleh proyek lain, proyek dari pemerintah. Jadi kami ambil sekitar separuhnya saja,” jelas Masnizon.
Jika produksi sampah dari wilayah Cirebon mengalami fluktuasi atau kekurangan pasokan, pihak pengelola sudah mempertimbangkan opsi untuk mengambil bahan baku dari daerah-daerah sekitar seperti Indramayu, Kuningan, dan Majalengka.
“Kalau memang kekurangan sampah, bisa ambil dari Indramayu, Kuningan, Majalengka juga bisa,” tambahnya.
Keberadaan proyek ini juga diharapkan dapat menjadi model percontohan di tingkat Jawa Barat. Menurut Masnizon, beberapa kabupaten lain juga telah dijajaki untuk kemungkinan kerja sama serupa, namun Cirebon menjadi prioritas karena memiliki volume produksi sampah harian yang tinggi dan urgensi penanganan yang besar.
Di sisi lain, proyek ini juga bisa memacu kesadaran publik dan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Dengan sinergi antara pemerintah, swasta, dan warga, pengolahan sampah tidak lagi semata-mata bergantung pada pengangkutan dan pembuangan, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.
Transformasi sampah menjadi energi bukanlah hal mudah, namun Cirebon kini sedang membuka jalan. Dengan target jelas dan dukungan infrastruktur yang akan dibangun, proyek ini membawa harapan besar tidak hanya bagi kebersihan lingkungan, tetapi juga bagi ketahanan energi daerah.
Ketika upaya ini terealisasi sepenuhnya, manfaatnya bisa dirasakan tidak hanya oleh warga Cirebon, tetapi juga berpotensi direplikasi ke kota-kota lain yang menghadapi tantangan serupa. Dengan visi berani dan langkah terukur, Cirebon bergerak dari krisis menuju solusi.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Berita Lainnya
Produksi dan Konsumsi Jagung Melonjak 23 Persen, Pemerintah Siapkan Ekspor Nasional
- Sabtu, 10 Januari 2026
Pertamina Klaim Distribusi BBM Berangsur Normal, 97 Persen SPBU Aceh Sudah Aktif
- Sabtu, 10 Januari 2026
Rekomendasi 5 Rumah Murah di Probolinggo dengan Harga Terjangkau Mulai Rp150 Juta
- Sabtu, 10 Januari 2026
Terpopuler
1.
Kerja Singkat Pakai Canva Bisa Hasilkan Uang Banyak
- 14 Januari 2026
2.
Apple Siri Kini Gunakan Google Gemini, Elon Musk Soroti
- 14 Januari 2026
3.
Apakah Makan Malam Hanya Dengan Buah Itu Aman?
- 14 Januari 2026
4.
Minuman Herbal Alami Untuk Menjaga Kelenjar Getah Bening
- 14 Januari 2026
5.
Cara Ampuh Menurunkan Gula Darah Setelah Makan Dengan Cepat
- 14 Januari 2026












