Indonesia Usulkan Tarif 200 Persen untuk Produk Impor China
- Sabtu, 12 Oktober 2024
Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah mengusulkan tarif hingga 200 persen untuk berbagai produk impor asal China, dengan tujuan melindungi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semakin tertekan oleh persaingan harga dari produk-produk murah luar negeri. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyebut bahwa lonjakan produk impor dari China akibat perang dagang AS-China menjadi ancaman serius bagi industri lokal.
Usulan tarif ini mencakup beragam produk seperti pakaian, alas kaki, kosmetik, dan keramik.
"Amerika Serikat bisa memberlakukan tarif tinggi pada barang impor mereka, dan kita juga bisa melakukannya untuk memastikan UMKM kita bisa bertahan," ujar Zulkifli dalam keterangannya kepada media lokal.
Baca JugaGibran Optimistis Pariwisata Bisa Menjadi Penggerak Perekonomian Nasional
Rencana ini muncul setelah ribuan pekerja di Jakarta melakukan protes menuntut tindakan tegas terhadap impor China, yang dinilai mengancam kelangsungan hidup sekitar 64 juta UMKM di seluruh Indonesia. Produk-produk murah dari China dianggap mendominasi pasar lokal, membuat banyak pengusaha lokal kesulitan bersaing dari segi harga.
Namun, kebijakan ini tidak luput dari kritikan para ekonom yang memperingatkan dampak negatifnya terhadap industri lain yang bergantung pada impor bahan baku. Siwage Dharma Negara, peneliti senior di ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, mengatakan bahwa penerapan tarif yang terlalu tinggi dapat merugikan industri yang memerlukan bahan baku impor untuk produksi lokal.
"Mengurangi impor saja tidak cukup, kita juga membutuhkan kebijakan yang mendukung efisiensi dan pertumbuhan usaha lokal," katanya.
Meskipun China adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dengan total perdagangan bilateral mencapai lebih dari $127 miliar tahun lalu, hubungan antara kedua negara mungkin terganggu jika tarif ini diberlakukan. Beijing telah menyatakan akan memantau perkembangan situasi dengan cermat dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan China.
Namun, beberapa pihak meyakini bahwa kebijakan ini tidak akan sepenuhnya mempengaruhi kerja sama ekonomi kedua negara, terutama dalam sektor perdagangan mineral kritis seperti nikel, di mana China menyerap lebih dari 80 persen produksi nikel Indonesia.
Pada akhirnya, meski usulan tarif ini disambut baik oleh banyak pelaku usaha lokal, kebijakan ini dinilai harus disertai dengan dukungan terhadap inovasi dan peningkatan kualitas produk dalam negeri agar bisa bersaing di pasar global yang semakin kompetitif.
Redaksi
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
TNI AD Siap Percepat Pembangunan Ribuan Jembatan Demi Infrastruktur Nasional
- Selasa, 13 Januari 2026
Bulog Perkuat Layanan Pangan Nasional Melalui Penerapan Sistem Margin Fee
- Selasa, 13 Januari 2026
Kopdes Merah Putih Tingkatkan Kesempatan Kerja Bagi Generasi Muda Indonesia
- Selasa, 13 Januari 2026
Emas Kembali Menguat, Peluang Investasi Logam Mulia Jadi Lebih Menjanjikan
- Selasa, 13 Januari 2026
Kia Siapkan Strategi Baru Untuk Perkuat Posisi Bisnis Otomotif Indonesia
- Selasa, 13 Januari 2026
Berita Lainnya
Bulog Dorong Fleksibilitas Pembelian Beras SPHP Demi Pemerataan Akses Pangan Nasional
- Senin, 12 Januari 2026
Bulog Fokus Awal Tahun, Target Serapan Beras Besar Jaga Stabilitas Pangan
- Senin, 12 Januari 2026
Program SPHP Beras 2025 Diperpanjang hingga 31 Januari 2026 Lewat Skema RPATA
- Senin, 12 Januari 2026
Terpopuler
1.
2.
Cara Tag Semua Orang di Grup WhatsApp, Wajib Tahu!
- 12 Januari 2026
3.
Marketing Funding adalah: Tugas, Jenjang Karier, dan Gaji
- 12 Januari 2026
4.
Ini Ciri Ciri WhatsApp Diblokir, Penyebab, dan Solusi Praktisnya
- 12 Januari 2026











