Dampak Gempa Venezuela: 1.700 Orang Tewas dan Ekonomi Terpuruk

Korban gempa Venezuela telah melebihi 1.700 orang dengan kerusakan bangunan yang meluas. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:13:21 WIB

JAKARTA - Bencana gempa bumi kembar yang melanda Venezuela pekan lalu memicu kerusakan parah di berbagai daerah.

Selain menelan korban jiwa lebih dari 1.700 orang, peristiwa ini diperkirakan telah merusak atau menghancurkan puluhan ribu bangunan berdasarkan analisis awal citra satelit.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menaksir bahwa sekitar 58.870 bangunan di wilayah terdampak kemungkinan mengalami kerusakan atau hancur akibat gempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni.

Estimasi tersebut didasarkan pada analisis citra radar satelit Sentinel-1 milik Badan Antariksa Eropa (ESA) yang dilakukan oleh peneliti dari Oregon State University, Corey Scher dan Jamon Van Den Hoek.

“Sekitar 58.870 bangunan kemungkinan mengalami kerusakan atau hancur di wilayah terdampak,” tulis kedua peneliti dalam analisis awal yang dipublikasikan NASA.

Kendati demikian, mereka menekankan bahwa hasil tersebut masih berupa penilaian cepat berdasarkan perubahan permukaan yang dideteksi satelit dan belum diverifikasi melalui survei lapangan.

Sementara itu, Ketua Majelis Nasional, Jorge Rodriguez, melaporkan bahwa setidaknya 855 bangunan terkonfirmasi rusak, dengan 189 di antaranya roboh total.

Hingga Senin (29/6), pemerintah Venezuela mencatat sekitar 1.700 orang meninggal dunia dan 5.000 lainnya mengalami luka-luka.

Meskipun angka resmi orang hilang belum dirilis, berbagai estimasi menyebutkan jumlahnya mencapai puluhan ribu.

Amerika Serikat turut membantu membuka kembali Pelabuhan La Guaira agar bantuan kemanusiaan dapat disalurkan, sekaligus membantu memulihkan operasional Bandara Internasional Simon Bolivar yang terdampak gempa.

Menurut PBB, sebanyak 27 negara telah mengirimkan hampir 40 tim pencarian dan penyelamatan yang terdiri dari lebih dari 2.000 personel serta lebih dari 160 anjing pelacak.

Walaupun peluang menemukan korban selamat kian menipis setelah melewati masa emas 72 jam, harapan belum sepenuhnya hilang setelah seorang pria berusia 21 tahun berhasil dievakuasi hidup-hidup dari reruntuhan di kota pesisir Tanaguarena pada Senin (29/6).

Situasi di La Guaira sangat memprihatinkan; gudang pelabuhan sementara difungsikan sebagai kamar jenazah untuk menampung ratusan kantong jenazah yang belum teridentifikasi, sementara banyak keluarga masih menunggu kabar tentang kerabat mereka.

Di Caracas, krematorium beroperasi hampir tanpa henti, dengan 60 hingga 70 pemakaman berlangsung setiap harinya antara Jumat hingga Minggu.

“Ada 11 orang di rumah kami. Hanya dua yang selamat karena saat gempa kami sedang bekerja,” ujar Wilker Molalla saat menunggu kepastian nasib keluarganya.

Kesaksian serupa diberikan Sergio Vergara, yang mendapati jasad keponakan beserta keluarganya di bawah reruntuhan.

“Itu pengalaman yang mengerikan saat mengeluarkan jasad keponakan saya dan anak-anaknya,” katanya.

PBB memperkirakan sekitar 7 juta orang terdampak bencana ini, dengan total kerugian ekonomi mencapai 6,7 miliar dolar AS (sekitar Rp109 triliun), atau setara dengan 6 persen dari PDB Venezuela.

Di tengah pemulihan, situasi politik memanas setelah pemimpin oposisi, Maria Corina Machado, menuduh pemerintah menghambat kepulangannya dari pengasingan dengan menutup wilayah udara komersial.

“Saya siap dan berada di dekat Venezuela. Saya akan melakukan apa pun agar bisa kembali dan bertemu rakyat Venezuela,” kata Machado.

Pemerintah sendiri belum menanggapi tuduhan tersebut di tengah upaya memulihkan negara pascagempa yang dipimpin oleh Presiden Sementara, Delcy Rodriguez. 

Reporter: Talita Malinda