Papua Selatan Gelar Lokakarya Pengolahan Sampah Jadi Energi
JAYAPURA - Sampah organik berupa sisa makanan dari rumah tangga, pasar, kawasan wisata dan sektor pertanian serta perkebunan selama ini belum terkelola dengan baik.
Padahal, limbah organik tersebut dapat diolah menjadi energi terbarukan.
Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam lokakarya yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi, Energi dan Sumber Daya Mineral setempat bersama World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.
Di wilayah perkotaan Provinsi Papua Selatan, khususnya Kota Merauke, volume sampah harian tercatat melonjak hingga mencapai kisaran 69 hingga 100 ton per hari.
Dari total timbulan tersebut, komposisi terbesarnya didominasi oleh sampah organik (mencakup sisa makanan dan sisa tumbuhan).
"Kegiatan ini merupakan langkah penting dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah organik dan Food Loss and Waste (FLW) di daerah ini," kata Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Papua Selatan Agustinus Joko Guritno, di Jayapura, Jumat (26/6/2026).
Menurut Guritno, pengelolaan sampah organik terutama sisa makanan dari rumah tangga, pasar, kawasan wisata, maupun limbah organik dari sektor pertanian dan perkebunan masih didominasi dengan cara konvensional seperti pembuangan ke tempat pemrosesan akhir kemudian dibiarkan begitu saja.
"Praktik ini bukan hanya menghabiskan ruang lahan tetapi juga menghasilkan emisi gas metana yang tinggi, yang merupakan salah satu kontributor utama perubahan iklim," ujarnya.
Dia menjelaskan di sisi lain, sampah organik sebenarnya menyimpan energi terbarukan yang besar, misalnya melalui pengelolaan kompos maupun pemanfaatan limbah biomassa menjadi bahan bakar alternatif bagi masyarakat.
Dia mengatakan lokakarya memiliki arti strategis karena mempertemukan pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha pengelolaan sampah, lembaga pendidikan, masyarakat hukum adat, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Menurut dia, dengan pertemuan itu seluruh pihak dapat bekerja bersama mulai dari wacana dan proyek percontohan menuju pengelolaan sisa pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir berbasis data, teknologi tepat guna.
Guritno menambahkan pihaknya mengapresiasi WWF Indonesia yang telah memberikan dukungan teknis, fasilitasi, dan penguatan kapasitas sehingga kolaborasi tersebut menjadi contoh yang baik antara pemerintah daerah dengan mitra pembangunan dalam mendorong pengelolaan sisa pangan dan sampah organik untuk energi terbarukan di Papua Selatan.