Strategi MOSAIC Percepat Transisi Energi Surya Melalui Komunitas
JAKARTA - Muslims for Shared Action on Climates Impact (MOSAIC) menyatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia harus terus ditingkatkan, salah satunya melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berbasis komunitas.
"Energi matahari yang berpotensi 207,8 gigawatt baru dimanfaatkan sekitar 0,07 persen, sementara panas bumi baru 8,9 persen," kata Bendahara Umum MOSAIC Hidayat Tri Sutardjo, di Jakarta, Rabu.
Hidayat menuturkan bahwa target Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan listrik tenaga surya hingga mencapai 100 gigawatt (GW) perlu didukung dengan langkah yang signifikan.
Untuk itu, MOSAIC bersama sejumlah lembaga lain terus mengupayakan dukungan melalui penelitian serta diskusi antarlembaga guna merealisasikan target tersebut.
Pihaknya juga sedang berupaya membangun PLTS berbasis komunitas dengan memanfaatkan sumber pendanaan terutama dari kalangan umat Islam.
"Kami tidak bisa hanya mengandalkan proyek-proyek skala industri besar semata. Kami perlu menyentuh akar rumput. Di sinilah pentingnya konsep PLTS berbasis Komunitas," ujarnya pada saat diskusi “Potensi Keuangan Islam untuk Pendanaan PLTS Berbasis Komunitas”.
Dia mengungkapkan alasan pemilihan pendekatan komunitas adalah untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat dalam memiliki serta mengelola energinya sendiri.
Selain itu, transisi energi tidak sekadar menjadi isu lingkungan, namun juga berfungsi sebagai alat pemberdayaan kesejahteraan sosial.
Proyek PLTS berbasis komunitas tersebut memerlukan pembiayaan yang bersifat lebih bankable sekaligus memberikan dampak sosial.
"Celah pembiayaan yang besar membuka ruang bagi keuangan Islam untuk hadir sebagai solusi nyata, melalui skema blanded finance yang mengintegrasikan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf dengan instrumen seperti Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS)," katanya menambahkan.