Indonesia Terima Tiga Jet Tempur Rafale, Ini Spesifikasi Lengkapnya dan Keunggulan

Selasa, 27 Januari 2026 | 10:53:08 WIB
Indonesia Terima Tiga Jet Tempur Rafale, Ini Spesifikasi Lengkapnya dan Keunggulan

JAKARTA - Kekuatan udara Indonesia memasuki babak baru dengan kedatangan jet tempur generasi modern buatan Prancis. 

Setelah menunggu sejak kontrak diteken beberapa tahun lalu, pemerintah akhirnya menerima pengiriman perdana pesawat tempur Rafale. Kehadiran alutsista ini tidak hanya menambah jumlah armada, tetapi juga membawa lompatan teknologi yang signifikan bagi TNI Angkatan Udara.

Pengiriman awal tersebut menjadi penanda konkret dari kerja sama pertahanan strategis antara Indonesia dan Prancis. Pesawat tempur multirole ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi, mulai dari pengamanan wilayah udara hingga operasi tempur intensitas tinggi. Dengan karakteristik tersebut, Rafale diproyeksikan menjadi tulang punggung baru kekuatan udara nasional.

Kedatangan Perdana Rafale di Tanah Air

Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan bahwa tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia pada Jumat, 23 Januari 2026. Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.

“Dapat kami sampaikan bahwa tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia,” ujar Rico.

Ketiga jet tempur tersebut kini sudah berada di Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Pesawat ini selanjutnya akan dioptimalkan penggunaannya oleh TNI AU untuk berbagai kebutuhan operasional.

“Secara administratif dan teknis, pesawat tersebut telah diserahterimakan dan sudah dapat digunakan oleh TNI AU,” kata Rico.

Kedatangan Rafale sekaligus menandai langkah penting dalam program modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia. Jet tempur buatan Dassault Aviation ini diproyeksikan menggantikan sebagian pesawat tempur lama yang telah memasuki usia operasional lanjut.

Nilai Kontrak dan Strategi Pertahanan Jangka Panjang

Berdasarkan laporan The Straits Times yang mengutip Reuters, Indonesia menandatangani kontrak pembelian Rafale dengan Prancis sejak 2022. Nilai kontrak awal mencapai sekitar US$ 8 miliar atau setara Rp 133,9 triliun dan diperluas pada tahun berikutnya.

Indonesia tercatat sebagai salah satu pembeli utama alutsista Prancis di kawasan Asia Tenggara. Secara keseluruhan, Indonesia memesan 42 unit jet tempur Rafale, disertai pembelian sejumlah kapal perang serta kapal selam rancangan Prancis.

Pemerintah juga menegaskan bahwa pengiriman Rafale tidak berhenti pada tahap awal ini. Unit-unit tambahan akan dikirimkan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan, meskipun jumlah per tahap belum dirinci secara resmi.

Jet tempur Rafale dirancang untuk mampu menjalankan misi secara mandiri dengan ketergantungan minimal terhadap dukungan logistik maupun sistem pengintaian eksternal. Keunggulan ini dinilai relevan dengan kebutuhan pertahanan Indonesia yang memiliki wilayah udara sangat luas.

Peresmian kedatangan Rafale secara resmi masih menunggu agenda Presiden Prabowo Subianto.

“Seremoni penerimaan resmi akan dilaksanakan kemudian, menyesuaikan dengan agenda dan ketersediaan waktu Bapak Presiden,” ujar Rico.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk pembaruan kekuatan udara. Selain Rafale, Indonesia juga mempertimbangkan pesawat tempur J-10 dari China dan F-15EX dari Amerika Serikat. Dalam rencana jangka panjang, Indonesia telah menandatangani kontrak pembelian 48 pesawat tempur KAAN dari Turki serta membuka peluang kerja sama dengan Pakistan dalam pengembangan pesawat tempur dan drone bersenjata.

Keunggulan Rafale untuk Kebutuhan Indonesia

Rafale dikenal sebagai jet tempur multirole yang mampu menjalankan berbagai jenis misi, mulai dari superioritas udara, serangan darat, hingga misi pengintaian. Kemampuan ini membuat Rafale cocok digunakan di berbagai kondisi medan dan situasi konflik.

Dengan sistem avionik canggih dan kemampuan membawa beragam persenjataan, Rafale memberikan fleksibilitas tinggi bagi TNI AU. Jet ini juga dirancang untuk memiliki daya tahan operasional yang tinggi, sehingga dapat digunakan dalam waktu lama tanpa perawatan kompleks di medan operasi.

Keunggulan lainnya terletak pada kemampuannya beroperasi secara relatif mandiri. Rafale tidak sepenuhnya bergantung pada sistem pendukung eksternal, sehingga dapat menjalankan misi dengan tingkat kesiapan tinggi. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Indonesia yang membutuhkan pesawat tempur dengan jangkauan luas dan kesiapan tempur cepat.

Spesifikasi Jet Tempur Dassault Rafale

Berikut spesifikasi jet tempur Dassault Rafale:

Tahun mulai digunakan: Digunakan sejak 2001 oleh Angkatan Laut Prancis dan 2006 oleh Angkatan Udara Prancis.

Jumlah produksi: Lebih dari 240 unit hingga 2024 dan masih terus diproduksi untuk kebutuhan ekspor.

Panjang pesawat: 15,3 meter.

Rentang sayap: 10,9 meter.

Berat maksimum lepas landas: Sekitar 24.000 kilogram.

Mesin: Dua mesin turbofan Safran M88-2.

Kecepatan maksimum: Sekitar 1.915 kilometer per jam.

Jangkauan terbang: Radius tempur sekitar 1.850 kilometer dan jarak ferry hingga 3.700 kilometer dengan tangki bahan bakar tambahan.

Ketinggian operasional maksimum: Sekitar 50.000 kaki atau 15.240 meter.

Kapasitas senjata: Memiliki 14 titik gantung senjata (13 pada varian laut Rafale M) dengan total muatan hingga 9.500 kilogram.

Awak: Satu orang untuk Rafale C dan Rafale M, serta dua orang untuk Rafale B versi kursi ganda.

Rafale dan Arah Modernisasi Alutsista

Kedatangan Rafale bukan sekadar penambahan armada, melainkan bagian dari transformasi besar kekuatan udara Indonesia. Dengan teknologi yang lebih mutakhir dibandingkan pesawat tempur generasi lama, Rafale diharapkan mampu meningkatkan daya tangkal dan kesiapan tempur nasional.

Dalam konteks geopolitik kawasan, modernisasi alutsista menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan wilayah. Rafale diposisikan sebagai salah satu elemen kunci dalam strategi pertahanan udara Indonesia ke depan.

Dengan pengiriman awal yang telah terealisasi, publik kini menunggu kedatangan unit-unit berikutnya. Rafale bukan hanya simbol kerja sama internasional, tetapi juga representasi komitmen pemerintah dalam memperkuat pertahanan negara melalui teknologi mutakhir dan perencanaan jangka panjang.

Terkini