Transisi Energi Gagal, Indonesia Terancam Rugi Rp40.000 Triliun
JAKARTA - Wakil Rektor III Institut Teknologi PLN (ITPLN), Purnomo, memaparkan bahwa Indonesia menghadapi risiko kerugian ekonomi hingga Rp40.000 triliun pada tahun 2048 jika transisi energi nasional tidak terlaksana dengan optimal.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam Seminar Series Dies Natalis ke-28 ITPLN bertajuk “Orchestrating the Solar Sovereignty Roadmap: Synergizing Global Innovation for National Energy Sovereignty and Local Excellence”, Selasa (02/06/2026).
Purnomo menyebut estimasi kerugian tersebut merujuk pada kajian Bank Indonesia yang memprediksi dampak pemanasan global dapat mencapai kisaran 40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di tahun 2048.
“Berdasarkan studi Bank Indonesia, potensi kerugian akibat pemanasan bumi bisa mencapai 40 persen dari PDB nasional pada 2048. Kalau diperkirakan PDB kami saat itu Rp100.000 triliun, maka potensi loss-nya sekitar Rp40.000 triliun,” ujar Purnomo.
Ia memaparkan bahwa dampak perubahan iklim tidak sekadar mengganggu aktivitas ekonomi, tetapi juga berisiko memengaruhi kondisi fiskal serta moneter nasional.
Karena itu, transisi energi dianggap sebagai instrumen vital untuk mereduksi risiko ekonomi jangka panjang akibat kenaikan suhu global.
Purnomo menyatakan Indonesia telah menargetkan pencapaian net zero emission pada 2060.
Komitmen ini ditegaskan melalui ratifikasi Paris Agreement serta berbagai kebijakan sektor energi, termasuk Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Menurutnya, percepatan transisi energi harus dilakukan sejak dini guna menekan risiko kenaikan suhu global yang lebih ekstrem di masa depan.
“Kalau kami terlambat memulai transisi energi, suhu bumi bisa melampaui dua derajat Celsius dan dampaknya akan jauh lebih besar,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Purnomo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat implementasi transisi energi.
Ia menilai pengembangan energi surya dapat menjadi salah satu pilar utama untuk mendukung penurunan emisi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tema seminar mengenai “orkestrasi” mencerminkan kebutuhan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat.
Menurutnya, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan sangat krusial agar target transisi energi dapat dicapai secara berkelanjutan dan efektif.
ITPLN menilai bahwa percepatan transisi energi tidak hanya terbatas pada pemenuhan target lingkungan, melainkan juga merupakan strategi menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam menghadapi risiko perubahan iklim.