Desa Energi Berdikari Keliki: Wujudkan Ketahanan Pangan Energi Bersih

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 02 Juni 2026
Desa Energi Berdikari Keliki: Wujudkan Ketahanan Pangan Energi Bersih
Desa Energi Berdikari Keliki. ( Sumber : NET )

JAKARTA - Pertamina memperkuat dedikasi terhadap kelestarian lingkungan serta pemberdayaan ekonomi warga lewat beragam program yang tersebar di seluruh Indonesia.

Salah satu inisiatif utamanya adalah program Desa Energi Berdikari (DEB).

DEB merupakan sebuah konsep desa inovatif yang mengoptimalkan energi bersih guna memicu kemandirian masyarakat melalui penerapan energi baru terbarukan (EBT).

DEB Keliki di Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali, hadir sebagai wujud nyata upaya Pertamina dalam menyediakan akses energi terbarukan di wilayah pedesaan.

Program ini dirancang untuk menjadikan energi terbarukan sebagai solusi atas berbagai kebutuhan warga setempat.

Fokus utama DEB Keliki mencakup pengolahan sampah menjadi kompos serta penguatan ketahanan pangan lewat sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Proses pengelolaan sampah dan operasional pompa air sawah kini ditopang oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Jajaran Dewan Komisaris Pertamina meninjau secara langsung pelaksanaan program tersebut sekaligus menyerap penjelasan mengenai dampak positifnya terhadap masyarakat DEB Keliki pada Kamis (28/5/2026).

Local Hero sekaligus Ketua BUMDes Yowana Bakti Keliki, I Wayan Sumada, memaparkan bahwa dukungan Pertamina melalui pembinaan, pendampingan, serta fasilitasi telah memberikan dampak signifikan bagi penduduk desa.

“Di Desa Keliki setidaknya menghasilkan sekitar 7 ton sampah per hari. Dengan produktivitas yang sangat tinggi tersebut, kehadiran Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sangat membantu masyarakat dalam mengelola dan mengolah sampah,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (1/6/2026).

Demi menunjang program tersebut, Pertamina menyediakan PLTS dengan kapasitas 10,5 kilowatt peak (kWp).

Fasilitas ini mampu menghasilkan energi surya sebesar 14.256 kWh tiap tahunnya.

Selain menekan biaya listrik hingga Rp 21 juta per tahun, PLTS tersebut juga berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 13,7 ton ekuivalen karbon dioksida (CO2eq) per tahun.

Sumada menambahkan, bantuan Pertamina turut mendorong perubahan gaya hidup warga dalam memilah sampah rumah tangga, baik organik, anorganik, maupun residu.

“Saat ini kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sudah sangat tinggi berkat kerja sama kami dengan Pertamina. Kami mengelola sampah untuk dikembalikan ke alam sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan,” ucapnya.

Selain pengelolaan sampah, DEB Keliki turut menggunakan PLTS berkapasitas 17,5 kWp untuk menggerakkan pompa air tanah tenaga surya demi mendukung pengairan sawah saat musim kemarau.

Sistem ini membantu mengairi tujuh subak, yakni Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.

PLTS untuk irigasi ini menghasilkan energi surya sebanyak 84.000 kWh per tahun, memangkas emisi GRK hingga 23,1 ton CO2eq per tahun, serta menghemat biaya listrik sekitar Rp 35 juta per tahun.

Dari sektor pertanian tersebut, DEB Keliki berhasil memproduksi padi organik yang meningkatkan produktivitas panen secara signifikan.

Sebelum program ini ada, hasil panen hanya mencapai 5–5,5 ton per hektare (ha), namun setelah pendampingan, produktivitas melonjak menjadi 8,7 ton per ha.

Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani, mengaku kagum dengan keberhasilan program yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.

“Program DEB Keliki menunjukkan komitmen Pertamina dalam mendukung masyarakat melalui berbagai program yang dimiliki. Melihat keberhasilan ini, saya dan jajaran Dewan Komisaris sangat senang. Semoga program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) perusahaan dapat terus memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

DEB Keliki kini bertransformasi menjadi ekosistem percontohan bagi ekonomi masyarakat.

Melalui sektor agrikultur dan kegiatan eco village, program ini telah membantu sekitar 1.200 kepala keluarga, melibatkan sembilan pekerja, serta bekerja sama dengan 15 pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pemuda setempat.

Pengelolaan sampah juga menghasilkan produk bernilai tambah seperti pupuk organik, kompos, dan ecoenzyme.

Keberhasilan ini menarik banyak kunjungan dari berbagai kalangan, mulai dari wisatawan mancanegara hingga akademisi perguruan tinggi.

Hingga kini, tercatat sedikitnya 6.000 orang telah berkunjung untuk mempelajari pertanian berbasis energi bersih, pengelolaan sampah, serta menikmati produk lokal desa tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua