Syamsir Abduh: Transisi Energi Tidak Cukup Andalkan Energi Terbarukan

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 02 Juni 2026
Syamsir Abduh: Transisi Energi Tidak Cukup Andalkan Energi Terbarukan
Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh. (Sumber: NET)

JAKARTA - Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menegaskan bahwa kesuksesan transisi energi di Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada percepatan pemanfaatan energi terbarukan saja.

Menurutnya, agenda transisi energi harus disusun melalui pendekatan holistik yang meliputi kebijakan, teknologi, investasi, keandalan sistem kelistrikan, sumber daya manusia, penerimaan publik, serta inovasi berkelanjutan.

Pandangan ini disampaikannya dalam sebuah keterangan yang dikutip pada Minggu (31/05/2026).

Syamsir menjelaskan bahwa negara berkembang seperti Indonesia memiliki tantangan dekarbonisasi yang lebih rumit dibandingkan negara maju.

Di satu sisi, pemerintah diwajibkan untuk menekan emisi karbon.

Namun di sisi lain, kebutuhan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan daya saing industri, dan memperluas akses listrik terus meningkat.

“Keberhasilan transisi energi harus menjaga keseimbangan antara target penurunan emisi dengan ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.

Syamsir berpendapat bahwa kebijakan energi merupakan fondasi utama untuk menentukan arah transisi energi nasional.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai wajib menghadirkan regulasi yang konsisten, jelas, dan berjangka panjang guna menjamin kepastian bagi investor serta pelaku usaha di sektor energi baru terbarukan.

Selain kebijakan, Syamsir menyoroti bahwa modernisasi jaringan listrik adalah faktor krusial dalam mendukung transisi energi.

Ia menjelaskan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dalam skala masif membutuhkan sistem kelistrikan yang andal dan fleksibel.

Hal ini berkaitan dengan karakteristik sumber energi seperti tenaga angin dan surya yang bersifat intermiten atau sangat bergantung pada kondisi alam.

Kondisi tersebut memerlukan dukungan teknologi penyimpanan energi serta penguatan jaringan transmisi agar pasokan listrik tetap stabil.

Syamsir turut menekankan pentingnya peningkatan investasi di sektor energi terbarukan serta teknologi penyimpanan energi.

Menurutnya, investasi yang memadai diperlukan agar proses transisi energi berjalan tanpa mengganggu keandalan pasokan listrik yang menopang aktivitas industri dan ekonomi.

“Transisi energi tidak boleh menurunkan tingkat keandalan energi yang selama ini menopang aktivitas industri dan ekonomi masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Syamsir menyoroti urgensi pengembangan sumber daya manusia dalam menghadapi perubahan ekosistem energi global.

Ia menilai tenaga kerja di sektor energi harus dipersiapkan melalui peningkatan kompetensi teknologi, penguasaan inovasi energi bersih, serta digitalisasi sistem energi.

Di sisi lain, aspek penerimaan publik dan inklusi sosial merupakan elemen yang tidak boleh diabaikan dalam pelaksanaan transisi energi.

Menurutnya, proses transisi harus dijalankan secara terukur, adaptif, dan bertahap untuk meminimalkan risiko terhadap keberlangsungan industri nasional maupun stabilitas ekonomi.

Syamsir menambahkan bahwa riset dan inovasi harus menjadi bagian vital dalam strategi transisi energi Indonesia.

Dengan langkah tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya berperan sebagai pengguna teknologi energi bersih, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan teknologi terkait.

“Riset dan inovasi harus menjadi penggerak utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi energi, tetapi juga menjadi pemain utama dalam pengembangan teknologi energi bersih,” tandasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua