MKI Soroti Tantangan Teknis Rencana PLN Bangun PLTS di Jalan Tol

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 08 Juli 2026
MKI Soroti Tantangan Teknis Rencana PLN Bangun PLTS di Jalan Tol
Teknisi melakukan pengecekan rutin pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya. ( Sumber : NET )

JAKARTA - Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) memandang rencana PT PLN (Persero) untuk menggunakan koridor jalan tol guna membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) merupakan salah satu solusi memercepat pencapaian target kapasitas PLTS nasional sebesar 100 gigawatt (GW).

Ketua Bidang Keandalan Sistem MKI Ahmad Syauki mengatakan keunggulan utama penggunaan koridor jalan tol ada pada potensi replikasi yang tinggi, sehingga bisa menambah ketersediaan lahan buat pengembangan PLTS.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo memaparkan jaringan jalan tol yang dioperasikan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sepanjang 802,2 kilometer berpotensi menyediakan lahan sekitar 400–500 hektare jika sisi kiri dan kanan jalan digunakan dengan lebar 3–5 meter.

Potensi itu diperkirakan setara dengan kapasitas sekitar 0,5 gigawatt peak (GWp).

Menurut Ahmad, potensi tersebut masih bisa bertambah karena total konsesi jalan tol Jasa Marga Group mencapai sekitar 1.736 kilometer, dengan ruas yang telah beroperasi sekitar 1.264–1.284 kilometer.

“Ini penting karena kebutuhan kapasitas PLTS untuk mencapai target 100 GW membutuhkan banyak sumber lahan sekaligus, bukan hanya satu atau dua lokasi besar,” katanya kepada dari Sumbernya, Selasa (7/7/2026).

Selain ketersediaan lahan, koridor jalan tol dianggap memiliki keunggulan dari segi infrastruktur kelistrikan karena umumnya telah dilewati jaringan distribusi serta berada dekat dengan gardu induk.

Hal tersebut dianggap mampu mengurangi kebutuhan pembangunan jaringan transmisi atau distribusi baru dibandingkan proyek PLTS yang dibangun di tempat terpencil.

PLN juga berencana mengintegrasikan PLTS di koridor jalan tol dengan battery energy storage system (BESS).

Kombinasi tersebut diprediksi sanggup menyediakan kapasitas penyimpanan energi hingga 1,5 gigawatt hour (GWh).

Menurut Ahmad, sistem penyimpanan energi merupakan komponen penting guna mengatasi karakter intermiten PLTS agar listrik tetap bisa digunakan saat beban puncak.

“Daya yang dihasilkan tidak hanya digunakan saat matahari bersinar, tetapi juga dapat disalurkan ketika kebutuhan listrik meningkat,” katanya.

Keuntungan lainnya berasal dari aspek percepatan pengerjaan.

Status lahan yang telah berada dalam koridor jalan tol membuat proses pembebasan lahan dari pihak ketiga tidak diperlukan, sehingga konstruksi bisa dimulai lebih cepat.

Dia berpendapat skema itu searah dengan upaya percepatan pengembangan energi surya yang selama ini didorong PLN melalui bermacam program quick wins guna meraih target kapasitas PLTS 100 GW.

Syauki juga menekankan manfaat nonteknis dari penggunaan koridor infrastruktur yang sudah ada.

Pengalaman pada proyek energi terbarukan di Tol Bali Mandara membuktikan desain infrastruktur yang selaras dengan lingkungan bisa meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap proyek energi baru terbarukan.

Secara keseluruhan, dia memandang pemanfaatan sisi jalan tol untuk pembangunan PLTS menjadi pilihan yang efisien karena menggunakan koridor yang sudah tersedia dan mendukung percepatan penambahan kapasitas listrik tanpa harus membangun ekosistem infrastruktur baru dari awal.

Walau demikian, MKI mengingatkan ada sejumlah kendala yang perlu diantisipasi.

Salah satunya yakni keterbatasan ruang di sepanjang jalan tol.

Lebar lahan yang tersedia cuma sekitar 3–5 meter di kedua sisi jalan, sehingga rancangan panel surya dan struktur penyangga harus disesuaikan.

Situasi tersebut berpotensi membuat kepadatan energi yang dihasilkan per meter persegi lebih rendah dibandingkan PLTS yang dibangun di lahan terbuka.

Selain itu, instalasi yang berada di dekat jalur lalu lintas aktif harus dirancang supaya sanggup menahan getaran kendaraan, paparan debu, serta risiko kecelakaan.

"Standar keselamatan konstruksi di area ini lebih ketat dibanding lahan terbuka biasa," kata Syauki.

Kendala lain datang dari karakteristik jalan tol yang tidak seragam, mulai dari tikungan, perbedaan elevasi, jembatan, hingga flyover, sehingga rancangan PLTS tidak bisa diterapkan secara seragam di seluruh ruas.

Dari sisi sistem kelistrikan, Ahmad berpendapat integrasi pembangkit baru ke jaringan yang sudah ada juga memerlukan perencanaan yang matang.

Kapasitas gardu induk terdekat harus dipastikan sanggup menyerap tambahan daya dari PLTS.

Jika kapasitas gardu tidak cukup, PLN perlu memperkuat infrastruktur kelistrikan yang berimplikasi pada tambahan ongkos investasi dan waktu pengerjaan.

"Titik interkoneksi harus direncanakan dengan cermat. Kalau kapasitas gardu tidak cukup, perlu ada penguatan infrastruktur tambahan," ujarnya.

Dia juga menyoroti aspek operasional jangka panjang.

Panel surya di sepanjang jalan tol bakal lebih rentan terpapar debu kendaraan sehingga membutuhkan pembersihan dan pengecekan secara berkala.

Walau demikian, Ahmad berpendapat berbagai kendala tersebut masih bisa dimitigasi melalui perencanaan serta desain proyek yang matang sejak tahap awal. 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua