Indonesia Pilih Dekarbonisasi Fosil Dibanding Hapus Batu Bara
JAKARTA - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha memastikan Indonesia tidak akan mengeliminasi energi fosil secara perlahan dalam proses transisi energi dari Sumbernya.
Pihak penguasa menetapkan opsi skema dekarbonisasi fosil demi meminimalkan polusi sekaligus memelihara ketahanan energi nasional.
"Strategi transisi energi Indonesia bukan phasing out fossil, melainkan dekarbonisasi fosil," kata Satya dalam diskusi Menjaga Pasokan Batu Bara untuk Kebutuhan Nasional di Jakarta, Selasa.
Satya memaparkan pihak penguasa sudah menjalankan keputusan tersebut semenjak masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Salah satu wujudnya adalah memanfaatkan instrumen carbon capture and storage (CCS) pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) demi mereduksi emisi karbon.
Berdasarkan pandangan Satya, Indonesia wajib mengamankan ketersediaan pasokan energi sebab masih menyimpan cadangan batu bara dalam volume besar.
Ia juga beranggapan fenomena krisis energi di beberapa negara merefleksikan urgensi mempertahankan stabilitas antara transisi energi dan jaminan pasokan.
Pada waktu yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pihak penguasa tetap memberdayakan batu bara untuk PLTU agar distribusi energi tetap konstan dan beban tarif listrik tetap bersahabat.
Bahlil menganggap Indonesia tidak perlu terlalu cepat meninggalkan batu bara, terlebih saat Amerika Serikat dan sekian negara Eropa kembali mengoperasikan energi fosil demi mendongkrak ketahanan energi mereka.
"Batu bara tetap jalan dulu. Kita harus mengutamakan efisiensi dan jangan membebani rakyat dengan tarif listrik yang mahal," ujar Bahlil.