Perkuat Ketahanan Energi, PLN EPI Optimalkan Potensi Biomassa
JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat pemanfaatan biomassa sebagai salah satu strategi menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung percepatan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
Perusahaan tidak hanya mendorong penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pengganti sebagian batu bara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), tetapi juga membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, mengatakan pengembangan biomassa memberikan manfaat yang lebih luas dibanding sekadar mengurangi konsumsi batu bara.
Menurutnya, sektor ini juga mampu menciptakan peluang ekonomi baru, membuka lapangan kerja hijau, serta meningkatkan pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Hokkop saat menjadi pembicara dalam Symposium Energy di Institut Teknologi PLN (ITPLN), Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa salah satu implementasi nyata pemanfaatan biomassa dilakukan melalui program co-firing di PLTU.
Melalui skema tersebut, sebagian kebutuhan batu bara digantikan oleh biomassa yang berasal dari limbah pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga sampah perkotaan.
"Batu bara dapat disubstitusi dengan tandan kosong kelapa sawit, cangkang sawit, sekam padi, tongkol jagung, pelepah sawit, limbah kayu, hingga berbagai residu biomassa lainnya. Seluruh bahan tersebut diolah menjadi pelet biomassa untuk menggantikan sebagian penggunaan batu bara di PLTU," ujar Hokkop.
Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan biomassa yang sangat besar dan masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Berdasarkan hasil pemetaan PLN EPI, potensi biomassa yang layak dikembangkan mencapai sekitar 83,4 juta ton per tahun.
Sebaran potensi tersebut meliputi Sumatra sekitar 42,8 juta ton, Kalimantan 18,9 juta ton, Jawa 13,1 juta ton, Sulawesi 5,1 juta ton, Papua dan Maluku 1,9 juta ton, serta Bali dan Nusa Tenggara sekitar 1,5 juta ton setiap tahun.
Sumber biomassa tersebut berasal dari limbah industri kelapa sawit, hasil kehutanan, sektor pertanian, perkebunan, hingga sampah perkotaan.
Hokkop menegaskan bahwa PLN EPI tidak hanya berfokus pada pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif, tetapi juga membangun rantai pasok bioenergi yang melibatkan berbagai pihak.
"Bioenergi bukan hanya mengganti batu bara. Yang kami bangun adalah ekosistem bioenergi dari desa hingga pembangkit listrik. Di dalamnya ada petani, koperasi, pelaku usaha, hingga industri yang bersama-sama memperoleh nilai tambah dari pemanfaatan biomassa," katanya.
Saat ini, program co-firing biomassa telah diterapkan di 52 PLTU dengan kapasitas terpasang mencapai 18.154 megawatt (MW).
Untuk memenuhi kebutuhan operasional pembangkit tersebut, PLN EPI menargetkan penyediaan pasokan biomassa sekitar 9 juta ton per tahun yang akan dipenuhi secara bertahap melalui penguatan rantai pasok nasional.
Selain biomassa padat, perusahaan juga mengembangkan berbagai sumber bioenergi lainnya, seperti biochar, compressed biomethane gas (CBG), biohidrogen, hingga pemanfaatan sampah perkotaan sebagai bahan bakar alternatif pembangkit.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi primer nasional.
Di sisi lain, pemerintah terus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2029.
Dalam dokumen tersebut, ditargetkan penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan sebesar 12,22 gigawatt (GW), dengan kebutuhan investasi sekitar Rp1.682 triliun.
Program ini juga diperkirakan mampu menciptakan sekitar 760 ribu lapangan kerja hijau sebagai bagian dari transformasi sektor energi nasional.
Melalui pengembangan bioenergi, PLN EPI berharap pemanfaatan sumber daya domestik semakin optimal sehingga mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung target bauran energi bersih.
Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting untuk membangun ekosistem bioenergi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi bagi berbagai sektor