UNAIR dan OIC Satukan Peneliti Dunia Bahas Energi Terbarukan

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 23 Juni 2026
UNAIR dan OIC Satukan Peneliti Dunia Bahas Energi Terbarukan
Assistant Secretary General for Science and Technology OIC, H.E. Amb Aftab A Khokher. ( Sumber : NET )

BALI - Komitmen memperkuat kolaborasi sains, teknologi, dan inovasi di bidang energi terbarukan menjadi fokus utama dalam rangkaian the 15th Korea-ASEAN Joint Symposium (KAJS) yang berlangsung di Bali pada Senin (22/6/2026).

Keterlibatan Organization of Islamic Cooperation (OIC) melalui Assistant Secretary General for Science and Technology menegaskan pentingnya membangun jejaring riset lintas negara anggota OIC dan ASEAN.

Dalam forum tersebut, Universitas Airlangga (UNAIR) melalui WUACD berperan sebagai penghubung strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan mitra internasional.

Upaya tersebut untuk mendorong pengembangan energi berkelanjutan.

Assistant Secretary General for Science and Technology OIC H.E. Amb Aftab A Khokher, menegaskan bahwa OIC akan melanjutkan berbagai program strategis yang telah berjalan pada 2025 menuju implementasi yang lebih luas pada 2026.

Menurutnya, penguatan inovasi dan pertukaran pengetahuan di antara negara anggota, termasuk Indonesia, Malaysia, dan negara-negara OIC lainnya, menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.

“Jika kami berfokus pada kolaborasi, kami dapat mempercepat pembangunan, khususnya di kawasan ASEAN. Simposium ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk membangun kemitraan. Kami dapat saling membantu, baik antarpeneliti, perguruan tinggi, maupun berbagai institusi dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa artificial intelligence menjadi fokus strategis baru OIC.

Ia juga mengungkapkan terus berupaya mengatasi berbagai tantangan pembangunan yang masih sejumlah negara anggota hadapi, khususnya di kawasan Afrika.

Penguatan komitmen tersebut berwujud Technical Session yang menghadirkan berbagai hasil riset biomassa dan energi terbarukan dari negara anggota OIC, ASEAN, serta mitra internasional.

Sesi ilmiah ini tidak hanya menjadi wadah diseminasi penelitian, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset lanjutan.

Selain itu, sesi ini mendukung pengembangan skema pendanaan bersama, hingga hilirisasi inovasi agar masyarakat dan sektor industri mampu mengimplementasikannya.

Upaya memperkuat kolaborasi tersebut turut tercermin dalam rangkaian Technical Session yang menjadi ruang diseminasi berbagai inovasi biomassa dan energi terbarukan.

Salah satu pemateri, Prof Dr Tech Endry Nugroho Prasetyo dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), memaparkan potensi enzim sebagai biokatalis industri untuk meningkatkan nilai tambah biomassa.

Dalam paparannya, Prof. Endry menjelaskan bahwa berbagai jenis enzim memiliki peluang besar untuk diterapkan pada sektor industri berbasis biomassa.

Cellulases dapat meningkatkan fleksibilitas serat, proses fibrillation, serta efisiensi degumming bambu.

Sementara itu, keratinase berpotensi meningkatkan rasio konversi pakan ayam, sedangkan laccase dapat bermanfaat dalam proses biopulping, pemutihan pulp, deinking, mengurangi permasalahan pitch, hingga menghasilkan bio-binder berbasis lignin untuk pelapis kertas.

Kombinasi laccase dengan cellobiose dehydrogenase (CDH) juga mampu menurunkan kandungan senyawa fenolik pada limbah minyak serta meningkatkan hasil ekstraksi protein dedak padi.

Melalui forum internasional ini, UNAIR kembali menegaskan perannya sebagai simpul kolaborasi global.

UNAIR berperan strategis mempertemukan perguruan tinggi, organisasi internasional, dan komunitas ilmiah dalam membangun ekosistem riset yang berdampak.

Sinergi antara OIC, negara-negara ASEAN, dan berbagai mitra internasional nantinya akan mampu mempercepat lahirnya inovasi biomassa dan energi terbarukan.

Upaya ini tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap kebutuhan masyarakat, industri, dan agenda transisi energi berkelanjutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua