Industri Telekomunikasi Perlu Efisiensi Biaya Melalui Energi Hijau

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Industri Telekomunikasi Perlu Efisiensi Biaya Melalui Energi Hijau
Ilustrasi BTS 4G. (Sumber Foto: suara.com)

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan sorotan terhadap lambatnya penerapan sistem energi terbarukan oleh para operator seluler di Indonesia pada Rabu (20/5/2026), padahal industri telekomunikasi sedang menghadapi risiko saturasi pendapatan.

Kondisi pasar saat ini memperlihatkan pertumbuhan bisnis yang cenderung stagnan, sehingga melakukan efisiensi biaya operasional melalui sektor energi menjadi pilihan yang sangat penting.

Berdasarkan data PricewaterhouseCoopers (PwC) yang dikutip dari Detik iNET, proyeksi pertumbuhan pendapatan industri seluler periode 2021 hingga 2032 diperkirakan hanya menyentuh 1,2 persen.

Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr. Moch Mardi Marta Dinata, memaparkan bahwa berkurangnya penggunaan layanan konvensional mendesak para pelaku industri untuk melakukan perubahan pada strategi bisnis mereka.

"Jadi saat ini operator harus giat-giatnya untuk menggenjot sales mereka, membuat paket-paket menarik untuk bisa meraih revenue yang lebih karena legacy services sudah sangat sedikit digunakan, telepon dan SMS," ujar Dr. Moch Mardi Marta Dinata.

Upaya efisiensi pengeluaran energi dianggap mendesak karena sektor tersebut memakan porsi besar, yakni mencapai 20 persen dari total biaya operasional perusahaan telekomunikasi.

"90% dari total 20% itu digunakan untuk membeli bahan bakar dan juga listrik," terang Dr. Moch Mardi Marta Dinata.

Merujuk pada analisis McKinsey, ada empat faktor utama dalam upaya mereduksi biaya energi, yakni keterjangkauan, pemangkasan emisi, keandalan pasokan, serta daya saing industri.

Pemanfaatan sumber daya ramah lingkungan dianggap mampu memberikan dampak penghematan finansial paling maksimal bagi jaringan operator.

"Dengan penambahan renewable energy, penggunaannya bisa menggunakan solar PV, wind turbine, micro hydro kinetic, atau lain sebagainya yang sesuai dengan kondisi atau profil dari site tersebut. Tapi di sini tinggal pertanyaan, kenapa sampai sekarang operator telekomunikasi di Indonesia khususnya belum mengimplementasikan renewable energy system ini di jaringan mereka?" tanya Dr. Moch Mardi Marta Dinata.

Uji coba pemasangan infrastruktur ramah lingkungan sebenarnya telah dimulai sejak belasan tahun lalu oleh PT Telkom Indonesia di area Kalimantan dan Sumatera.

"Berarti kan ada barrier dari operator, kenapa sampai sekarang sudah hampir 15 tahun, bahkan lebih dari 15 tahun belum juga mengimplementasikan ini secara menyeluruh?" tandas Dr. Moch Mardi Marta Dinata.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua