Sektor Hulu Migas RI Berpacu Genjot Produksi di IPA Convex 2026

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 21 Mei 2026
Sektor Hulu Migas RI Berpacu Genjot Produksi di IPA Convex 2026
Bincang Senior di IPA Convex 2026 (FOTO: NET)

KABUPATEN TANGERANG – Sektor hulu migas nasional saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk menggenjot volume produksi minyak dan gas bumi di dalam negeri, terlebih dengan adanya tantangan energi dan situasi geopolitik dunia.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi panel bertajuk "Indonesian Upstream Projects: Current Status & Future Outlook" yang bertempat di stan IPA pada ajang bergengsi The 50th IPA Convention & Exhibition 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).

"Tahun lalu bersama kepemimpinan Pak Djoko Siswanto (Kepala SKK Migas) kami melihat ada secercah inklinasi di 2025, karena dari produksi 580 (ribu bopd) kami naik sedikit, 582 ribu (bopd). Itu dengan syarat ada project onstream," kata Rikky Rahmat Firdaus, Deputi Eksplorasi, Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas di hadapan para senior migas yang hadir pada acara Bincang-Bincang Migas tersebut.

Pada momen itu, Suyitno Patmosukismo selaku Dirjen Migas periode 1988-1995 memberikan petuah agar target capaian produksi migas bisa terus dipacu.

"Yang penting adalah mempermudah segala sesuatunya," ucap Suyitno.

Ia pun menambahkan, SKK Migas dituntut untuk adaptif dalam melakukan transformasi agar seluruh operasional di sektor hulu migas dapat berjalan optimal.

"Apakah sudah ada perubahan? Apakah betul handicap-handicap yang lalu sudah teratasi?" tanya Suyitno.

Merespons pertanyaan itu, Rikky memaparkan bahwa Menteri ESDM telah menginstruksikan untuk memberikan kemudahan bagi setiap investasi yang masuk ke tanah air.

"Jadi dari tahun lalu ada 301 undeveloped discover, kami sudah bergerak, saat ini catatannya sudah 279. Lalu inisiatif EOR, dari sebelumnya 12 inisiatif EOR, saat ini ada 17 inisiatif EOR," ungkapnya.

Kendati demikian, SKK Migas tentu tidak dapat melangkah sendirian.

Rikky menilai, performa sektor hulu migas idealnya turut dijadikan sebagai KPI oleh instansi-instansi lainnya.

"Jadi hulu migas jadi komplementer, bukan jadi saingan lembaga-lembaga lainnya," ucapnya.

Lebih dalam lagi, Rikky menguraikan rentetan proyek hulu migas yang berhasil onstream sepanjang tahun 2025 sebagai bukti nyata dari komitmen pendongkrakan produksi.

Beberapa di antaranya yakni Lapangan Forel dan Terubuk kelolaan Medco yang berkontribusi sebesar 20.000 bopd, hingga proyek Lapangan Banyu Urip melalui pengeboran Infill Clastic yang sanggup menggelontorkan 15.000 sampai 30.000 bopd.

"Dua project besar itu yang menyebabkan kami di tahun 2025 ada secercah harapan," tegasnya.

Rikky juga menjabarkan bahwa total Wilayah Kerja (WK) Migas yang ada saat ini mencapai 157 WK.

Secara rinci, sebanyak 106 WK telah memasuki fase eksploitasi, 46 WK dalam status eksplorasi aktif, sementara 5 WK eksplorasi sisanya sudah berstatus terminasi.

"Dari sisi cadangan, alhamdulillah kami masih punya cadangan (terbukti) 2,3 billion barrel oil (BBO) dan gasnya 34,78 TCF (triliun kaki kubik gas)," jelas Rikky.

Dalam agenda diskusi hangat para praktisi senior migas yang dipandu oleh S. Herry Putranto selaku Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) ini, tampak hadir sejumlah tokoh senior sektor terkait.

Di antaranya adalah Wakil Menteri ESDM periode 2013-2014 Susilo Siswoutomo, serta sederet mantan Dirjen Migas Kementerian ESDM seperti Suyitno Patmosukismo, Rachmat Soedibjo, dan Tutuka Ariaji.

Turut hadir pula jajaran profesional kawakan di bidang migas seperti Trijana Kartoatmodjo, Prijambodo Mulyosudirdjo, Michael Sumarijanto, Abdul Muin, Lukman Machfoedz, Dipnala Tamzil, Widhyawan Prawiraatmaja, Ananda Idris, Nurman Djumiril, Andang Bachtiar, Haposan Napitupulu, Maizar Rachman, Benny Lubiantara, hingga Salis S. Aprilian.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua