Minat Investasi Emas Meningkat, Nasabah Bullion Bank Tembus 5,7 Juta Orang
- Jumat, 06 Maret 2026
JAKARTA - Emas kembali menjadi salah satu instrumen investasi yang semakin diminati masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Ketidakpastian ekonomi global serta fluktuasi berbagai instrumen keuangan mendorong banyak orang mencari aset yang dianggap lebih aman untuk menjaga nilai kekayaan mereka. Dalam kondisi seperti ini, emas sering dipandang sebagai pilihan investasi yang relatif stabil.
Fenomena tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah masyarakat yang memanfaatkan layanan bank emas atau bullion bank. Layanan ini memungkinkan masyarakat menabung emas, memanfaatkan emas sebagai jaminan pinjaman, hingga melakukan transaksi investasi berbasis logam mulia secara lebih mudah dan terintegrasi.
Baca JugaKolaborasi PRIMA dan Pegadaian Perluas Akses Investasi Emas Digital Masyarakat
Pemerintah juga mencatat adanya peningkatan signifikan jumlah nasabah yang menggunakan layanan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa literasi masyarakat terhadap investasi emas semakin berkembang, seiring dengan kemudahan akses yang diberikan melalui lembaga keuangan resmi.
Jumlah Nasabah Bullion Bank Terus Bertambah
Minat masyarakat untuk menabung emas terus meningkat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mencatat, jumlah nasabah bank emas atau bullion bank mengalami peningkatan.
Sebagaimana diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi memberikan izin penyelenggaraan kegiatan usaha bullion kepada PT Bank Syariah Indonesia (BSI), dan PT Pegadaian.
Airlangga menyebut, pada Februari 2025 jumlah nasabah bank emas mencapai 3,2 juta. jumlah ini meningkat menjadi 5,7 juta nasabah pada saat ini.
“Februari tahun lalu yaitu jumlah nasabahnya 3,2 juta sekarang sudah mencapai 5,7 juta jadi itu meningkat dengan pesat,” tutur Airlangga dalam agenda Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi keuangan untuk Kesejahteraan.
Peningkatan jumlah nasabah tersebut menunjukkan bahwa masyarakat semakin memanfaatkan fasilitas investasi emas yang disediakan oleh lembaga keuangan. Selain sebagai instrumen investasi, emas juga kerap dimanfaatkan sebagai jaminan pembiayaan oleh sebagian masyarakat.
Jumlah Emas yang Digadaikan Meningkat Signifikan
Ia menyampaikan bahwa jumlah emas yang digadaikan di Pegadaian mengalami peningkatan signifikan, yakni menjadi 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton. Selain itu, masyarakat yang memanfaatkan emas sebagai jaminan pinjaman juga meningkat sebesar 38,5 ton atau senilai sekitar Rp102 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai alat investasi, tetapi juga menjadi sumber likuiditas bagi masyarakat ketika membutuhkan dana cepat. Kemudahan dalam proses gadai emas menjadikan instrumen ini semakin populer di berbagai kalangan.
Peningkatan aktivitas gadai emas juga menandakan bahwa masyarakat semakin percaya terhadap lembaga keuangan yang menyediakan layanan berbasis emas. Dengan sistem yang semakin transparan serta dukungan regulasi dari pemerintah, layanan tersebut menjadi salah satu alternatif pembiayaan yang banyak digunakan.
Pemanfaatan Emas di BSI Turut Bertambah
Peningkatan serupa juga terjadi di BSI, di mana jumlah emas yang dimanfaatkan telah mencapai sekitar 22 ton. Ia menambahkan, salah satu faktor yang turut mempengaruhi inflasi adalah meningkatnya pembelian emas.
Hal ini menunjukkan bahwa tren investasi emas tidak hanya terjadi di satu lembaga keuangan, tetapi juga meluas ke berbagai institusi yang menyediakan layanan serupa. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memanfaatkan emas sebagai aset investasi maupun jaminan pembiayaan, peran bullion bank menjadi semakin penting dalam sistem keuangan nasional.
Perkembangan tersebut juga mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola aset keuangan mereka secara lebih beragam. Selain instrumen investasi konvensional seperti deposito atau saham, emas kini kembali menjadi salah satu pilihan utama.
Ketidakpastian Global Dorong Harga Emas Naik
Menurutnya, harga emas saat peluncuran Bullion Bank masih berada di kisaran US$ 3.000 per ons troi, sementara saat ini telah naik menjadi sekitar US$ 5.000 per ons troi. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kondisi perang dan ketidakpastian global, sehingga emas kembali menjadi salah satu instrumen safe haven bagi masyarakat untuk menyimpan nilai kekayaan.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, emas kerap dianggap sebagai aset yang relatif aman dibandingkan instrumen investasi lainnya. Ketika terjadi konflik geopolitik, tekanan ekonomi, maupun fluktuasi pasar keuangan, permintaan terhadap emas biasanya meningkat.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong harga emas mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Seiring dengan meningkatnya permintaan, emas kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu aset lindung nilai yang banyak dipilih oleh investor maupun masyarakat umum.
Dengan meningkatnya jumlah nasabah bullion bank serta bertambahnya volume emas yang diperdagangkan maupun digadaikan, tren investasi emas diperkirakan masih akan berlanjut. Dukungan regulasi, kemudahan akses layanan, serta meningkatnya literasi keuangan masyarakat menjadi faktor penting yang dapat mendorong perkembangan sektor ini di masa mendatang.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Tunjangan Profesi Guru Madrasah Mulai Cair Bertahap Pekan Ini dari Kemenag
- Jumat, 06 Maret 2026
Cinema XXI Raih Pendapatan Rp5,9 Triliun Sepanjang 2025, Penonton Meningkat
- Jumat, 06 Maret 2026
Minat Investasi Emas Meningkat, Nasabah Bullion Bank Tembus 5,7 Juta Orang
- Jumat, 06 Maret 2026
Kolaborasi PRIMA dan Pegadaian Perluas Akses Investasi Emas Digital Masyarakat
- Jumat, 06 Maret 2026
Berita Lainnya
Penyaluran Kredit BCA Januari 2026 Capai Rp948,95 Triliun, Tumbuh 6,26 Persen
- Jumat, 06 Maret 2026
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Jumat, 6 Maret 2026
- Jumat, 06 Maret 2026











