BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Agustus, Sebagian Besar Wilayah Lebih Kering

BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Agustus, Sebagian Besar Wilayah Lebih Kering
BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Agustus, Sebagian Besar Wilayah Lebih Kering

JAKARTA - Setelah melalui musim hujan, Indonesia diproyeksikan kembali memasuki periode kemarau secara bertahap mulai April 2026. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberikan gambaran rinci mengenai awal hingga puncak musim kering tahun depan, termasuk wilayah mana saja yang akan terdampak lebih awal dan bagaimana karakter musimnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. “Puncak musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia atau di 429 zona musim atau sekitar 61,4 persen dari keseluruhan, diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada bulan Agustus 2026," kata Kepala BMK Teuku Faisal Fathani.

Baca Juga

Mudik Gratis 2026 InJourney Airports Resmi Dibuka, Layani Rute Makassar–Surabaya via Kapal Laut

Prediksi ini menjadi salah satu informasi kunci yang perlu diantisipasi, terutama oleh sektor pertanian, sumber daya air, kehutanan, dan kebencanaan.

Awal Musim Kemarau Dimulai Bertahap Sejak April 2026

Selain memaparkan puncak kemarau, BMKG juga menjelaskan kapan awal musim kering mulai dirasakan di berbagai daerah. Selain puncak musim kemarau, BMKG juga memaparkan awal musim kemarau 2026 yang diprediksi mulai terjadi secara bertahap sejak April 2026.

"Awal musim kemarau bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia sejumlah 699," jelasnya.

Memasuki Mei 2026, cakupan wilayah yang terdampak kemarau semakin meluas. Kemudian pada Mei 2026, sebanyak 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah menyusul memasuki musim kemarau.

Pergerakan musim kering terus berlanjut pada bulan berikutnya. Sementara itu, pada Juni 2026 terdapat 163 zona musim atau 23,3 persen wilayah yang mulai mengalami kemarau.

Awal musim kemarau tersebut diperkirakan dimulai dari wilayah Nusa Tenggara dan bergerak secara bertahap ke arah barat hingga mencakup wilayah Indonesia lainnya.

Sebagian Besar Wilayah Diprediksi Lebih Kering dari Normal

Tidak hanya waktu kedatangan dan puncaknya, BMKG juga mengungkapkan sifat musim kemarau tahun depan. Dari sisi sifat musim, BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari rata-rata klimatologis periode 1991-2020.

Sebanyak 451 zona musim diprakirakan mengalami akumulasi curah hujan di bawah normal selama periode kemarau. Kondisi ini mengindikasikan potensi kekeringan yang lebih luas dibandingkan rata-rata tahunan, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap defisit air.

Informasi mengenai sifat musim ini menjadi penting bagi pemerintah daerah dan sektor terkait untuk menyiapkan langkah mitigasi. Sektor pertanian, misalnya, perlu menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan irigasi agar produksi tetap terjaga di tengah kemungkinan curah hujan yang lebih rendah.

Hampir Separuh Wilayah Alami Kemarau Lebih Awal

Selain diperkirakan lebih kering, musim kemarau 2026 juga diprediksi datang lebih cepat di banyak wilayah. Jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun terakhir, awal musim kemarau 2026 di 325 zona musim atau 46,5 persen wilayah diprediksi datang lebih awal dari biasanya.

Sementara itu, 173 zona musim atau 23,7 persen wilayah diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang sesuai dengan kondisi normal.

Data tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh wilayah Indonesia akan memasuki kemarau lebih cepat dari pola klimatologis umumnya. Percepatan awal musim ini tentu perlu menjadi perhatian, terutama dalam perencanaan pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Dengan gambaran lengkap mulai dari awal, puncak, hingga sifat musim kemarau 2026, BMKG memberikan dasar informasi yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak. Prediksi bahwa puncak kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah menjadi penanda penting dalam menyusun strategi antisipasi sejak dini.

Kesiapan menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih kering dan di banyak wilayah datang lebih awal menjadi kunci untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul, baik terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, maupun potensi bencana hidrometeorologi.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kemendagri Perkuat Cold Chain Berbasis BUMD Pangan untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan

Kemendagri Perkuat Cold Chain Berbasis BUMD Pangan untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan

BNPB Kebut Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatera Tuntas Tiga Tahun

BNPB Kebut Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatera Tuntas Tiga Tahun

Wamenaker Tegaskan Pelatihan Vokasi Harus Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Peluang Kerja Nasional

Wamenaker Tegaskan Pelatihan Vokasi Harus Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Peluang Kerja Nasional

Update Harga Sembako Jatim 4 Maret 2026, Elpiji 3 Kg dan Cabai Naik, Daging Sapi Ikut Terkerek

Update Harga Sembako Jatim 4 Maret 2026, Elpiji 3 Kg dan Cabai Naik, Daging Sapi Ikut Terkerek

Update PIP Maret 2026 SD, SMP, SMA dan SMK, Ini Cara Cek Status Pencairan Dana Terbaru

Update PIP Maret 2026 SD, SMP, SMA dan SMK, Ini Cara Cek Status Pencairan Dana Terbaru