Usai Terisolasi Pascabanjir, Jembatan Bailey Rampung Dibangun dan 16 Desa Aceh Tengah Pulih Aksesnya
- Rabu, 21 Januari 2026
JAKARTA - Setelah sempat terputus akibat bencana alam, akses penghubung antarwilayah di Kabupaten Aceh Tengah akhirnya kembali terbuka.
Rampungnya pembangunan Jembatan Bailey di jalur Silih Nara–Rusip Antara menjadi kabar penting bagi masyarakat yang selama beberapa bulan terakhir harus menghadapi keterisolasian. Jembatan ini menjadi jalur vital bagi aktivitas sosial dan ekonomi, khususnya bagi warga di 16 desa yang terdampak langsung banjir bandang pada akhir 2025.
Dengan selesainya jembatan darurat tersebut, mobilitas warga kembali berjalan normal. Distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan kini dapat dijangkau tanpa harus memutar jauh atau melewati medan berbahaya. Kehadiran Jembatan Bailey menjadi penanda awal pemulihan wilayah pascabencana di kawasan dataran tinggi Aceh Tengah.
Baca JugaDampak Program MBG Terasa di Daerah, Aktivitas Belajar Siswa Meningkat
“Pasca-bencana daerah ini terisolir, ada sekitar 16 desa yang terdampak. Hari ini semuanya sudah bisa dilewati,” ujar Bupati Aceh Tengah Haili Yoga di Aceh Tengah.
Peran Vital Jembatan Totor Pelang bagi Masyarakat
Jembatan Bailey yang kini terpasang merupakan pengganti sementara Jembatan Totor Pelang, atau yang juga dikenal sebagai Jembatan Pelang. Sejak lama, jembatan ini menjadi urat nadi penghubung dua kecamatan dan memegang peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Namun, bencana banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 merobohkan jembatan tersebut dan memutus akses total ke sejumlah desa. Kondisi itu membuat warga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk menjual hasil pertanian dan menjangkau fasilitas umum.
“Namun, banjir bandang pada akhir November 2025 telah merobohkan jembatan tersebut. Dampaknya desa-desa di wilayah itu terisolasi total,” ucap Haili.
Kini, dengan difungsikannya kembali jalur tersebut, aktivitas masyarakat perlahan kembali pulih. Jalur distribusi hasil bumi tak lagi terhambat, dan layanan dasar kembali dapat diakses dengan lebih mudah.
“Hari ini masyarakat bahagia karena sudah bisa lewat. Ekonomi mulai bergerak kembali. Ini adalah harapan masyarakat sejak awal pasca-bencana dan hari ini mulai terwujud,” terang Haili.
Kolaborasi Pusat, Daerah, TNI, dan Warga
Pembangunan Jembatan Bailey ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), TNI, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat terlibat langsung dalam proses pembangunan yang dilakukan secara intensif.
Kolaborasi tersebut menjadi kunci percepatan pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak bencana. Meski bersifat sementara, jembatan ini dirancang agar dapat digunakan dengan aman, selama masyarakat mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Pemerintah daerah mengimbau agar pengguna jembatan memperhatikan batasan teknis, terutama terkait tonase kendaraan. Jembatan Bailey memiliki batas beban maksimum antara 15 hingga 20 ton, sehingga pengawasan bersama sangat diperlukan.
“Mohon ini dijaga bersama. Jika ada kendaraan yang melebihi tonase harus tegas. Ini jalan kita bersama. Pengawasan dari masyarakat sangat penting,” tandas Haili Yoga.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah juga memastikan pembangunan jembatan permanen akan segera dilakukan agar konektivitas wilayah lebih kuat dan berkelanjutan.
Di Balik Rampungnya Jembatan: Rasa Lega Prajurit TNI
Di balik selesainya pembangunan jembatan, tersimpan kisah para prajurit TNI yang bekerja tanpa mengenal waktu. Bagi mereka, rampungnya jembatan bukan soal kebanggaan, melainkan rasa lega karena warga dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Komandan Batalyon Zeni Tempur 16/Dhika Anoraga, Letkol Czi Rudy Haryanto, menyampaikan bahwa prajuritnya bekerja bergantian selama 24 jam tanpa henti demi mempercepat penyelesaian jembatan.
“Lega. Letih, yang selama ini mungkin kurang tidur dan harus terus-terusan berjibaku menyelesaikan jembatan, begitu melihat jembatan itu bermanfaat buat mereka, kami hanya bisa terdiam dan melihat sambil mengucapkan syukur,” kata Rudy.
Menurutnya, ketenangan muncul saat melihat warga tak lagi harus menuruni jurang atau menyeberangi sungai untuk beraktivitas.
“Bukan kebanggaan yang kami dapatkan, tapi rasa ketenangan karena melihat masyarakat bisa terbantu dengan jembatan yang dibangun. Yang sebelumnya mereka harus menuruni jurang, menyebrangi sungai, naik jurang lagi, namun dengan ada jembatan tersebut, mereka tidak perlu lagi harus turun dan naik jurang,” jelas Rudy.
Tantangan Berat di Lapangan Pascabanjir
Proses pembangunan jembatan darurat bukan tanpa hambatan. Rudy mengungkapkan, tantangan terbesar di lapangan bukan hanya jembatan yang rusak atau hilang, tetapi juga material banjir yang menumpuk dan menghambat akses menuju lokasi pembangunan.
Banyak titik dipenuhi kayu gelondongan, puing rumah, dan sampah banjir. Bahkan, di beberapa lokasi, jalan menuju jembatan justru tergerus aliran sungai. Kondisi geografis yang berubah drastis juga menjadi tantangan tersendiri.
Ia mencontohkan kondisi di Teupin Mane, di mana lebar sungai berubah signifikan pascabanjir.
“Sebelum banjir, lebar sungai 120 meter, namun setelahnya menjadi 180 meter,” ujarnya.
Akibatnya, prajurit harus membersihkan area kerja terlebih dahulu sebelum memasang jembatan darurat. Meski membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, upaya tersebut terus dilakukan agar infrastruktur dasar dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
Dengan rampungnya Jembatan Bailey di Aceh Tengah, harapan pemulihan wilayah pascabencana kini mulai terwujud, sekaligus menjadi langkah awal menuju pembangunan infrastruktur permanen yang lebih kuat ke depan.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Asei Siapkan Strategi Jaga Laba Berkelanjutan di Tengah Tantangan 2026
- Rabu, 21 Januari 2026
Menteri ATR Siap Refocusing Anggaran Tangani Dampak Pascabencana Sumatera
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
Menko Airlangga Tekankan Peran Swasta dalam Percepatan Aksesi Indonesia ke OECD
- Rabu, 21 Januari 2026
Mengulas Lengkap Manfaat Beasiswa LPDP bagi Penerima Studi Dalam Negeri
- Rabu, 21 Januari 2026
Pariwisata Indonesia Kian Mendunia, Puluhan Penghargaan Internasional Diraih Awal 2026
- Selasa, 20 Januari 2026












