Danantara: Stabilitas Nilai Tukar Kunci Ketahanan Ekonomi Indonesia 2026
- Selasa, 13 Januari 2026
JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan mengalami perbaikan signifikan.
Hal ini didorong oleh percepatan dan peningkatan kualitas belanja pemerintah, serta pelonggaran kebijakan moneter yang mulai memberikan dampak positif pada sektor riil.
Laporan Danantara Economic Outlook 2026 menegaskan bahwa perpaduan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih proaktif akan memberikan stimulus kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca JugaTabel Angsuran KUR BRI 2026 Lengkap, Persyaratan dan Dokumen Penting
Percepatan dan Kualitas Belanja Pemerintah sebagai Motor Penggerak Ekonomi
Salah satu faktor utama yang menjadi pendorong ekonomi di tahun 2026 adalah belanja pemerintah yang semakin cepat dan berkualitas.
Tidak hanya mempercepat realisasi anggaran, pemerintah juga fokus pada efektivitas alokasi belanja agar tepat sasaran dan berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi.
Kebijakan fiskal ini tidak hanya menyalurkan dana untuk proyek-proyek infrastruktur, tetapi juga berbagai program sosial yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat luas.
Peningkatan kualitas belanja menjadi kunci utama untuk memastikan stimulus fiskal tidak hanya berdampak sementara, melainkan mampu meningkatkan kapasitas dan produktivitas ekonomi.
Dengan belanja yang lebih cepat dan tepat sasaran, pemerintah mendorong terciptanya multiplier effect yang memperkuat perekonomian di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, perdagangan, hingga jasa.
Pelonggaran Moneter dan Implikasinya terhadap Aktivitas Ekonomi
Sepanjang tahun 2025, kebijakan moneter Indonesia mengalami pelonggaran signifikan dengan penurunan suku bunga sebanyak 125 basis poin.
Laporan Danantara mengindikasikan bahwa efek dari kebijakan ini mulai terasa pada tahun 2026, di mana pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi di sektor riil menunjukkan peningkatan.
Pelonggaran moneter ini membuka akses pembiayaan yang lebih murah bagi pelaku usaha dan masyarakat, sehingga meningkatkan investasi dan konsumsi domestik.
Dengan suku bunga yang lebih rendah, pelaku bisnis menjadi lebih terdorong untuk mengembangkan usaha, sementara konsumen juga lebih leluasa dalam berbelanja dan memenuhi kebutuhan melalui kredit yang lebih terjangkau.
Namun, efektivitas pelonggaran moneter sangat bergantung pada kondisi makroekonomi dan sinergi dengan kebijakan fiskal. Oleh karena itu, koordinasi yang erat antara otoritas moneter dan fiskal menjadi kunci sukses dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stabilitas Nilai Tukar dan Cadangan Devisa sebagai Pilar Ketahanan Ekonomi
Dalam konteks dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi prioritas utama pemerintah dan Bank Indonesia.
Fluktuasi nilai tukar yang tinggi dapat menimbulkan ketidakpastian di pasar dan mempengaruhi biaya produksi serta inflasi.
Ketahanan cadangan devisa Indonesia yang kuat menjadi penyangga penting untuk menghadapi tekanan eksternal, termasuk potensi perubahan arah arus modal global yang dapat menimbulkan volatilitas pasar keuangan.
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang baik juga berperan dalam menjaga keseimbangan makroekonomi, memberikan bantalan agar perekonomian tetap tangguh menghadapi gejolak global.
Dengan kondisi tersebut, diharapkan nilai tukar rupiah dapat terjaga stabil, mendukung iklim investasi yang kondusif dan memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dan investor.
Tantangan dalam Menjaga Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Meski terdapat optimisme terhadap perbaikan perekonomian, tantangan baru mulai muncul seiring dengan penguatan aktivitas ekonomi. Potensi tekanan inflasi menjadi perhatian utama karena meningkatnya permintaan domestik dan harga komoditas global.
Selain itu, kenaikan imbal hasil surat berharga negara dapat mempengaruhi biaya pembiayaan pemerintah dan sektor swasta.
Volatilitas nilai tukar juga masih menjadi risiko yang harus diwaspadai, apalagi jika tekanan eksternal semakin meningkat. Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah potensi kenaikan kredit bermasalah (non-performing loan) yang dapat membebani sistem keuangan dan menghambat penyaluran kredit.
Mengelola risiko-risiko ini secara disiplin dan berbasis data, serta kolaborasi erat dengan berbagai pihak terkait seperti perbankan, lembaga keuangan non-bank, dan sektor riil, sangat penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap sehat dan berkelanjutan.
Reformasi Struktural untuk Menembus Batas Pertumbuhan Ekonomi
Selama sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stagnan di kisaran 5 persen, yang dianggap sebagai batas atas atau growth ceiling. Untuk menembus batas tersebut, diperlukan reformasi struktural yang mendalam dan terintegrasi.
Reformasi ini mencakup peningkatan produktivitas melalui penguatan kapasitas produksi di sektor pangan dan industri, pendalaman pasar keuangan untuk mendukung pembiayaan investasi jangka panjang, serta penguatan kualitas sumber daya manusia.
Danantara menekankan bahwa menaikkan batas atas pertumbuhan ekonomi jauh lebih kompleks daripada hanya mendorong permintaan lewat kebijakan fiskal dan moneter.
Reformasi ini memerlukan koordinasi lintas sektor, inovasi, dan investasi dalam jangka panjang agar produktivitas nasional bisa meningkat secara signifikan.
Pendalaman likuiditas domestik juga menjadi fokus utama, karena stagnasi likuiditas relatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sejak krisis keuangan Asia menjadi hambatan struktural.
Tanpa peningkatan likuiditas yang memadai, pembiayaan proyek publik berisiko menekan investasi swasta, bukannya memperkuatnya.
Oleh karena itu, ekosistem pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan harus dibangun untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkualitas. Peningkatan penerimaan pajak juga menjadi kunci untuk menjaga ruang fiskal dan stabilitas pembiayaan pemerintah.
Memasuki tahun 2026, ekonomi Indonesia berada pada titik optimisme dengan dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang semakin sinergis.
Namun, keberhasilan pertumbuhan tidak hanya bergantung pada stimulus makroekonomi jangka pendek, melainkan juga pada kemajuan reformasi struktural yang memungkinkan peningkatan produktivitas dan daya saing nasional.
Tantangan dalam bentuk risiko inflasi, volatilitas nilai tukar, dan pengelolaan risiko kredit harus terus diwaspadai dan dikelola dengan cermat.
Dengan langkah-langkah yang tepat dan konsisten, Indonesia berpeluang meningkatkan batas atas pertumbuhan ekonominya, membuka peluang baru bagi kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Prediksi IHSG Menguat Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham Pilihan 13 Januari 2026
- Selasa, 13 Januari 2026
Berita Lainnya
Prediksi IHSG Menguat Hari Ini, Simak Rekomendasi Saham Pilihan 13 Januari 2026
- Selasa, 13 Januari 2026
Terpopuler
1.
Strategi Cerdas Investasi Emas 2026 di Tengah Kenaikan Harga
- 13 Januari 2026
2.
Kenaikan Harga Buyback Emas Antam 13 Januari 2026 di Pegadaian
- 13 Januari 2026
3.
AAUI Ungkap Tantangan dan Peluang Baru Asuransi Kesehatan 2026
- 13 Januari 2026








