JAKARTA - Upaya pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pengembangan industri berbasis hilirisasi kembali memasuki fase penting.
Danantara Indonesia memastikan kesiapan pelaksanaan groundbreaking sejumlah proyek strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia pada awal 2026. Proyek-proyek ini diharapkan menjadi penggerak nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperluas dampak ekonomi di daerah.
Rencana tersebut menandai dimulainya tahap awal pembangunan fisik setelah melalui proses perencanaan dan persiapan investasi. Groundbreaking menjadi sinyal bahwa proyek hilirisasi yang selama ini disiapkan mulai memasuki tahap implementasi nyata di lapangan.
Baca JugaKAI Daop 3 Cirebon Hadirkan KA Ranggajati Generasi Stainless Steel Baru
Lima Proyek Siap Groundbreaking Awal Tahun
CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan bahwa terdapat lima proyek hilirisasi yang siap memasuki tahap groundbreaking pada awal 2026. Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 8 Januari 2026.
“Bauksit, Refinery [fasilitas permurnian] aluminium di Mempawah, yang saya ingat ya. Kemudian Refinery di Cilacap. Kemudian di Banyuwangi. Saya lupa, pokoknya ada lima lah,” terang Rosan.
Kelima proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, dan industri berbasis sumber daya alam yang selama ini menjadi prioritas pemerintah dalam kebijakan hilirisasi nasional.
Target Groundbreaking Akhir Januari 2026
Selain proyek yang dijadwalkan pada awal tahun, Rosan juga memerinci bahwa sejumlah proyek penghiliran bahkan ditargetkan mulai melakukan groundbreaking lebih cepat, yakni pada akhir Januari 2026. Proyek-proyek ini memiliki nilai investasi besar dan dinilai strategis bagi penguatan industri nasional.
Salah satunya adalah pengembangan smelter alumina di Mempawah dengan nilai investasi mencapai US$2,4 miliar. Proyek ini juga mencakup pembangunan smelter grade alumina dari bauksit senilai US$890 juta. Fasilitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas pengolahan bauksit dalam negeri sekaligus mengurangi ekspor bahan mentah.
Proyek Energi Terbarukan dan Industri Pangan
Tidak hanya fokus pada sektor mineral, Danantara juga menyiapkan proyek-proyek di bidang energi terbarukan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan fasilitas produksi bioavtur di kilang Cilacap dengan nilai investasi sebesar US$1,1 miliar. Proyek ini diharapkan mendukung pengembangan bahan bakar ramah lingkungan dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, terdapat pula pengembangan fasilitas bioetanol dengan nilai investasi US$80 juta. Proyek ini menjadi bagian dari diversifikasi energi berbasis sumber daya terbarukan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia.
Di sektor pangan, Danantara juga melakukan pengembangan pada fasilitas budidaya unggas. Dari total 12 fasilitas yang telah berjalan, sebanyak lima fasilitas ditargetkan untuk dikembangkan lebih lanjut dalam waktu dekat sebagai bagian dari proyek hilirisasi.
“Kemudian kelapa, fasilitas kelapa terintegrasi, ini sudah jalan di Morowali, US$100 juta,” terang Rosan yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Laporan Langsung kepada Presiden Prabowo
Sebelumnya, pada Minggu, 4 Januari 2026, Rosan telah melaporkan perkembangan lima titik proyek hilirisasi Danantara kepada Presiden Prabowo Subianto. Laporan tersebut disampaikan langsung di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari koordinasi antara pemerintah dan pelaku investasi dalam memastikan kesiapan proyek-proyek strategis nasional yang akan segera memasuki tahap pembangunan.
Investasi Rp100 Triliun di Berbagai Provinsi
Informasi terkait rencana groundbreaking proyek Danantara juga disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram resminya. Dalam unggahan tersebut, Teddy menyebutkan bahwa lima proyek hilirisasi itu direncanakan menjalani tahap groundbreaking pada awal Februari 2026.
“Program tersebut akan dilakukan di beberapa provinsi Indonesia dengan total investasi sebesar 6 miliar USD atau sekitar 100 triliun rupiah,” tulis Teddy di akun Instagram @sekretariat.kabinet.
Total nilai investasi tersebut mencerminkan skala besar proyek hilirisasi yang tengah disiapkan Danantara. Investasi ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan kapasitas industri nasional, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Bahas Proyek Waste to Energy
Selain proyek hilirisasi berbasis sumber daya alam, Rosan juga disebut membahas pengembangan proyek Waste to Energy. Program ini berfokus pada penertiban pengelolaan sampah agar dapat mengurangi volume sampah terbuka sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
Proyek Waste to Energy dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, karena menggabungkan aspek lingkungan dan ekonomi dalam satu program terpadu.
Komitmen Hilirisasi Berkelanjutan
Dengan kesiapan groundbreaking sejumlah proyek strategis tersebut, Danantara Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendukung kebijakan hilirisasi nasional. Pelaksanaan proyek-proyek ini diharapkan dapat memperkuat fondasi industri pengolahan dalam negeri serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di berbagai wilayah Indonesia pada 2026 dan seterusnya.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
BMKG Prediksi Hujan Ringan Guyur Jakarta Sepanjang Hari, Senin 12 Januari 2026
- Senin, 12 Januari 2026
Berita Lainnya
Lengkap! Jadwal KA Prameks Jogja–Kutoarjo Senin 12 Januari 2026 dengan Tarif Terjangkau
- Senin, 12 Januari 2026
Nusatama Percepat Transformasi Logistik dengan Truk Listrik Industri Berat
- Sabtu, 10 Januari 2026











