JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Rabu, 22 Oktober 2025 hingga Kamis, 23 Oktober 2025.
Peringatan ini disampaikan melalui kanal resmi BMKG sebagai upaya mitigasi dini agar masyarakat dapat mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan hujan lebat hingga angin kencang.
BMKG menekankan bahwa peringatan dini cuaca ini dibuat berdasarkan akumulasi curah hujan harian tertinggi dalam satu provinsi. Mayoritas wilayah di Indonesia masuk kategori Waspada hujan, yang artinya ada kemungkinan hujan sedang hingga lebat. Meski demikian, BMKG memastikan tidak ada provinsi yang masuk kategori Awas, sehingga potensi hujan ekstrem belum terjadi dalam dua hari ke depan.
Baca JugaSeskab: Kerja Sama Maritim Indonesia–Inggris Diproyeksi Serap 600 Ribu Tenaga Kerja
Peringatan dini ini sangat penting terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan banjir, longsor, atau wilayah pesisir yang berisiko terdampak angin kencang. Masyarakat diminta untuk terus mengikuti update BMKG dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari agar tetap aman.
Wilayah Berpotensi Hujan dan Intensitasnya
BMKG merinci wilayah yang diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat pada Rabu, 22 Oktober 2025. Di antaranya adalah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, serta beberapa provinsi di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Selain itu, beberapa provinsi diprediksi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, seperti Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Maluku. Wilayah ini diimbau meningkatkan kewaspadaan karena curah hujan tinggi dapat memicu banjir lokal maupun genangan di permukiman.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang di wilayah Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Timur. Angin kencang berisiko merusak bangunan ringan, pohon tumbang, dan gelombang tinggi di laut.
Peringatan Cuaca Kamis Menunjukkan Tren Serupa
Memasuki Kamis, 23 Oktober 2025, pola cuaca di Indonesia relatif konsisten. Wilayah berpotensi hujan sedang hingga lebat mencakup Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Sementara itu, beberapa provinsi diperkirakan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, seperti Aceh, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Maluku, dan Papua. Wilayah-wilayah ini diminta meningkatkan kewaspadaan agar dampak dari hujan deras dapat diminimalkan.
Nusa Tenggara Timur kembali tercatat berpotensi mengalami angin kencang, sehingga masyarakat di daerah tersebut diminta memperhatikan kondisi bangunan dan aktivitas di luar rumah. BMKG menegaskan pentingnya pemantauan rutin terhadap informasi cuaca untuk menyesuaikan aktivitas dan meminimalisasi risiko.
Faktor Penyebab dan Implikasi Cuaca Ekstrem
Fluktuasi cuaca yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor alamiah, termasuk perubahan tekanan atmosfer, pola angin, dan pergerakan massa udara dari wilayah Samudra Pasifik dan Hindia. Intensitas hujan yang tinggi pada musim tertentu juga bisa dikaitkan dengan fenomena cuaca global seperti La Nina atau El Nino.
Dampak cuaca ekstrem dapat meliputi banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi di darat, laut, maupun udara. Selain itu, angin kencang dapat menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang pada atap rumah, pohon tumbang, dan gangguan distribusi listrik. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk menyiapkan peralatan darurat, mengamankan dokumen penting, dan memperhatikan protokol keselamatan yang berlaku di wilayah masing-masing.
BMKG menghimbau agar seluruh pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, terus melakukan koordinasi dan memperhatikan update cuaca harian. Dengan kewaspadaan dini, risiko bencana akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi fenomena alam yang tidak menentu.
Tips Masyarakat Hadapi Cuaca Ekstrem
Sebagai upaya mitigasi, BMKG menyarankan masyarakat untuk:
Memantau informasi cuaca secara rutin melalui media resmi BMKG.
Menghindari aktivitas di area rawan banjir atau longsor saat hujan lebat terjadi.
Mengamankan perabotan rumah dan memastikan atap bangunan kuat menghadapi angin kencang.
Menyediakan perlengkapan darurat seperti senter, obat-obatan, dan makanan siap saji.
Mengedukasi anggota keluarga, khususnya anak-anak, tentang protokol keselamatan ketika cuaca ekstrem melanda.
Peringatan dini BMKG ini menjadi alat penting untuk meminimalkan risiko kerugian akibat hujan lebat dan angin kencang, sekaligus mengingatkan masyarakat agar selalu waspada dan siap menghadapi cuaca yang tidak menentu. Dengan koordinasi lintas sektor dan kesadaran warga, potensi dampak negatif dari cuaca ekstrem dapat ditekan seminimal mungkin.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasnur Internasional Waspadai Dampak Tidak Langsung Pelemahan Rupiah Tahun 2026
- Kamis, 22 Januari 2026
ITDC Olah Air Laut Jadi Air Bersih, Perkuat Pasokan Air Pariwisata Hijau Bali
- Kamis, 22 Januari 2026
Menteri PU Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Sanitasi Pascabencana Aceh Tamiang
- Kamis, 22 Januari 2026
Indonesia dan Inggris Sepakat Perkuat Pembiayaan Alam Berkelanjutan Berbasis Model Aceh
- Kamis, 22 Januari 2026
Berita Lainnya
Pemerintah Targetkan RPP Penataan Jabatan Polisi Aktif Rampung Akhir Januari 2026
- Kamis, 22 Januari 2026
Hujan Diprediksi Mengguyur Jakarta Seharian, Warga Diimbau Tetap Waspada dan Siaga
- Kamis, 22 Januari 2026
Prabowo Mendarat di Swiss, Indonesia Siap Tampil di World Economic Forum Davos 2026
- Kamis, 22 Januari 2026
Mendagri Dorong Percepatan Pengembalian TKD untuk Daerah Terdampak Bencana
- Kamis, 22 Januari 2026
Presiden Prabowo Bertemu Raja Charles III dalam Agenda Lingkungan Indonesia-Inggris
- Kamis, 22 Januari 2026











