Harga Minyak AS Anjlok ke Level Terendah Sejak 2021, Dipicu Kekhawatiran Resesi Global dan Kenaikan Produksi
- Sabtu, 05 April 2025
Jakarta - Harga minyak mentah Amerika Serikat mengalami penurunan tajam minggu ini, menyentuh titik terendah sejak tahun 2021. Penurunan tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global setelah kebijakan tarif impor terbaru yang diumumkan oleh mantan Presiden Donald Trump, serta peningkatan produksi minyak oleh negara-negara anggota OPEC+, Sabtu, 5 April 2025.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan utama untuk pasar minyak AS, turun lebih dari 6% pada Jumat, 4 Maret 2025 ke level US$ 62,72 per barel. Sebelumnya, harga bahkan sempat menyentuh di bawah US$ 61 per barel. Penurunan ini melanjutkan tren merosot 6,6% pada Kamis, 3 Maret 2025, sehingga menciptakan penurunan beruntun selama dua hari berturut-turut yang signifikan.
Kekhawatiran Resesi Global Akibatkan Tekanan Tambahan
Kebijakan perdagangan agresif berupa tarif impor baru yang diumumkan oleh Trump telah memicu kekhawatiran pasar mengenai potensi perlambatan ekonomi global. Ekonom di Wall Street mulai memproyeksikan skenario resesi global sebagai respons atas meningkatnya ketegangan perdagangan internasional.
Baca JugaProduksi dan Konsumsi Jagung Melonjak 23 Persen, Pemerintah Siapkan Ekspor Nasional
Prospek ekonomi yang melemah memicu tekanan besar terhadap harga minyak, karena energi merupakan komoditas yang sangat bergantung pada aktivitas ekonomi, baik dari sisi produksi maupun konsumsi.
Produksi OPEC+ Naik Tajam, Melebihi Ekspektasi Pasar
Di sisi lain, pasar global juga diguncang oleh keputusan delapan anggota OPEC+ yang secara kolektif menaikkan produksi minyak mentah mereka sebesar 411 ribu barel per hari mulai Kamis, 3 Maret 2025. Peningkatan ini lebih besar dan lebih cepat dibandingkan yang sebelumnya diantisipasi oleh analis dan pelaku pasar.
Kebijakan ini dianggap sebagai hasil dari perselisihan internal di tubuh OPEC+, di mana sejumlah negara mendorong produksi lebih tinggi dengan motivasi strategis tertentu.
Kebijakan Energi AS dan Geopolitik Ikut Memengaruhi
Sikap kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap produsen minyak besar seperti Iran dan Venezuela juga menjadi faktor penting yang berpotensi memengaruhi arah harga energi ke depan. Pemerintahan Trump sebelumnya telah menyuarakan dukungan terhadap peningkatan produksi energi domestik sebagai salah satu strategi untuk menekan inflasi yang masih tinggi.
Harga minyak yang lebih rendah dapat menjadi penyeimbang terhadap kenaikan harga komoditas lainnya, khususnya dalam konteks perang dagang global yang masih berlangsung. Pemerintah AS menilai bahwa pasokan energi yang melimpah dan harga yang lebih terjangkau bisa membantu meredam tekanan inflasi, yang hingga kini masih berada di atas target 2% dari Federal Reserve.
Dampak ke Depan: Harga Minyak Terus Diuji Tekanan Global
Dengan meningkatnya pasokan dari OPEC+, kombinasi ketidakpastian ekonomi global dan kebijakan energi proteksionis dari AS telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar minyak. Pelaku industri, investor, dan pengamat kini tengah mengamati apakah tren penurunan ini akan berlanjut atau justru membentuk dasar pemulihan dalam beberapa minggu ke depan.
Namun, untuk saat ini, lintasan harga minyak tampaknya tetap berada dalam tekanan menurun, mencerminkan ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik yang belum mereda.
Tri Kismayanti
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
BMKG Prediksi Hujan Ringan Guyur Jakarta Sepanjang Hari, Senin 12 Januari 2026
- Senin, 12 Januari 2026
Berita Lainnya
Pertamina Klaim Distribusi BBM Berangsur Normal, 97 Persen SPBU Aceh Sudah Aktif
- Sabtu, 10 Januari 2026
Rekomendasi 5 Rumah Murah di Probolinggo dengan Harga Terjangkau Mulai Rp150 Juta
- Sabtu, 10 Januari 2026
Lifting Minyak Nasional Capai 605 Ribu Barel, Pemerintah Optimistis 2026
- Kamis, 08 Januari 2026











