JAKARTA - Konflik yang tengah terjadi di Iran telah mendorong harga minyak mentah dunia melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini memicu peningkatan minat yang signifikan terhadap proyek-proyek energi terbarukan yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan energi global.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, fenomena tersebut disampaikan oleh Private Infrastructure Development Group (PIDG).
Lembaga pembiayaan multilateral yang didanai oleh pemerintah Eropa Barat, Australia, dan Kanada ini melihat adanya urgensi baru dari berbagai negara untuk mengamankan pasokan energi mereka.
PIDG menargetkan untuk menggalang dana sebesar US$3 miliar di pasar negara berkembang pada tahun ini.
Jumlah target penghimpunan dana tersebut tercatat sama dengan pencapaian yang mereka peroleh pada tahun sebelumnya.
Manajemen lembaga pembiayaan optimistis bahwa aktivitas pasar akan bergerak sangat dinamis menjelang akhir tahun.
Faktor eksternal berupa ketidakpastian pasokan bahan bakar fosil menjadi katalis utama pergeseran fokus investor.
"Kami memperkirakan paruh kedua tahun ini akan berjalan kuat," kata Marco Serena, Kepala Petugas Dampak Berkelanjutan PIDG.
"Hal ini didorong oleh minat baru pada infrastruktur energi terbarukan dari negara-negara pasar berkembang dan investor swasta, khususnya untuk memperkuat ketahanan energi."
Gangguan rantai pasok di pasar energi global serta kerentanan yang terekspos akibat konflik di Timur Tengah kini menghidupkan kembali gairah transaksi obligasi hijau di negara-negara berkembang.
Banyak negara bergegas mencari pendanaan alternatif demi membiayai proyek energi bersih.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
Melalui diversifikasi ke energi terbarukan, negara-negara berkembang berharap dapat memitigasi dampak buruk dari lonjakan harga minyak mentah dunia.