Hindari Macet, Warga Kediri Pilih Perahu Tambang Pasca Jembatan Ditutup
KEDIRI - Penutupan Jembatan Kaliombo I yang memutus akses utama Kediri dan Tulungagung memberikan efek yang besar bagi pergerakan mobilitas masyarakat sekitar.
Salah satu fenomena yang amat kentara ialah melonjaknya kuantitas pemakai jasa transportasi perahu tambang di wilayah Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri.
Masyarakat yang terbiasa melewati jalur jembatan tersebut sekarang berganti memanfaatkan moda perahu tambang sebagai rute pengganti demi menyingkat waktu sekaligus memotong jarak perjalanan mereka.
Dalam kurun waktu dua hari belakangan, kesibukan di area penyeberangan sungai itu terpantau jauh lebih padat daripada hari-hari biasanya.
Barisan antrean para pengendara roda dua beserta pejalan kaki yang berniat menyeberang tampak memadati kawasan dermaga darurat di tepi Sungai Brantas tersebut.
Masyarakat menjatuhkan pilihan pada perahu tambang lantaran dinilai lebih efisien ketimbang mesti berputar arah melewati rute pengalihan yang sudah diatur oleh pihak terkait selama masa perbaikan jembatan berjalan.
Seorang warga setempat, Zainal Abidin, mengutarakan bahwa kehadiran angkutan air ini amat meringankan beban pergerakan transportasi warga.
Berdasarkan penuturannya, apabila pengendara mengikuti rute pengalihan resmi yang ada, mereka terpaksa menempuh rute yang lebih memutar dengan jarak ekstra hingga berkisar tujuh kilometer jauhnya.
Situasi itu pun kian dipersulit oleh problem kemacetan lalu lintas yang sering melanda lantaran adanya penumpukan volume kendaraan di beberapa pos pengalihan arus lalu lintas.
“Jadi ya memang banyak orang mencari alternatif supaya lebih cepat sampai di tempat tujuan,” kata Zainal, Kamis (4/6/2026).
Fasilitas penyeberangan air itu berperan sebagai urat nadi konektivitas yang krusial antara area Kota Kediri dengan wilayah Kecamatan Mojo.
Maka tidak mengejutkan jika semenjak akses Jembatan Kaliombo ditutup total, kuantitas warga yang menyeberang terus memperlihatkan tren kenaikan.
Sektor usaha perahu tambang milik Ali pun ikut merasakan berkah peningkatan penumpang semenjak kebijakan pengerjaan proyek perbaikan jembatan itu diterapkan.
Pihaknya mengalkulasikan bahwa angka keterisian penumpang meroket hingga menyentuh kisaran 50 persen jika disandingkan dengan hari biasa.
Ali menambahkan, jika pada waktu normal satu kali jalan perahu umumnya cuma memuat berkisar 10 orang, sekarang kapasitasnya mampu menampung hingga 15 orang dalam satu kali trip penyeberangan.
Lonjakan volume penumpang ini berlangsung hampir sepanjang hari, khususnya sewaktu memasuki jam-jam padat ketika warga mulai beraktivitas pergi maupun kembali dari tempat kerja.
Walaupun roda bisnis jasa penyeberangan ini tengah mengalami lonjakan permintaan yang terbilang tinggi, pihak pemilik perahu tambang berkomitmen penuh untuk mempertahankan harga tiket.
Sampai dengan saat ini, “(Pengguna) mulai naik dua hari ini. Tapi tarif penyeberangan tetap Rp2.000,” terangnya.
Langkah untuk tidak menaikkan tarif ongkos ini diambil demi memberikan kemudahan bagi warga yang ikut terdampak langsung oleh penutupan Jembatan Kaliombo.
Di kala tingginya urgensi akan sarana transportasi pengganti, kehadiran moda perahu tambang saat ini bertransformasi menjadi jalan keluar utama yang digemari warga agar tetap bisa bermobilisasi secara kilat dan praktis selama proyek perbaikan jembatan diproses.