Untan Temukan Potensi Energi Terbarukan 466 MW di Sambas
PONTIANAK – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Tanjungpura menemukan potensi pengembangan energi terbarukan di Kabupaten Sambas mencapai 466 megawatt (MW).
Potensi tersebut dinilai mampu mendukung kebutuhan listrik masyarakat sekaligus menekan emisi karbon di Kalimantan Barat.
Penelitian dilakukan LPPM Untan bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kalbar melalui kajian bertajuk “Analisis Potensi Energi Terbarukan sebagai Alternatif Pengurangan Emisi Karbon di Kalbar”.
Data PLN UID Kalbar menunjukkan sistem kelistrikan Kalbar saat ini memiliki daya mampu pasok sekitar 668 MW dengan beban puncak rata-rata mencapai 600 MW.
Ketua Tim Peneliti, Erdi, mengatakan penelitian menemukan tiga sumber energi terbarukan unggulan yang berpotensi dikembangkan di Kabupaten Sambas, yakni energi surya, tenaga air, dan biomassa. “Kami sudah menemukan tiga jenis energi terbarukan unggulan Kabupaten Sambas yang dapat dikembangkan potensinya untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus menekan emisi karbon di Kalbar,” kata Erdi dilansir Antara, Senin (25/5).
Dari tiga sumber energi tersebut, tenaga surya mendominasi dengan potensi sebesar 45 persen.
Biomassa menyumbang 35 persen, sedangkan tenaga air mencapai 20 persen.
Menurut Erdi, energi surya sangat potensial dikembangkan di Kecamatan Paloh, Tebas, Teluk Keramat, Sejangkung, dan Sajingan Besar.
Penelitian juga memetakan potensi tenaga air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sambas, DAS Sebangkau, dan DAS Paloh.
Kawasan itu dinilai memiliki debit air yang cukup untuk mendukung pembangkit listrik ramah lingkungan.
Sementara itu, biomassa diproyeksikan berkembang dari limbah perkebunan kelapa sawit.
Sebanyak 11 perkebunan kelapa sawit skala besar di Sambas disebut memiliki potensi daya realistis mencapai 93,8 MW.
Erdi mengatakan pengembangan energi terbarukan tersebut diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca sebesar 32 ribu hingga 97 ribu ton CO2 per tahun.
Angka itu berasal dari baseline emisi karbon Kabupaten Sambas yang mencapai 108 ribu hingga 162 ribu ton CO2 per tahun.
Pengembangan energi bersih di wilayah perbatasan dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi Kalbar.
Hingga kini, sebagian pasokan listrik Kalbar masih disuplai dari Malaysia. “Pengembangan pembangkit energi terbarukan ini juga akan menambah bauran energi bersih, selain itu menambah keandalan daya listrik karena sampai saat ini PLN masih mengimpor listrik dari Malaysia untuk menerangi Kalbar,” kata Erdi.
Temuan tersebut dinilai menjadi peluang strategis bagi Sambas sebagai wilayah perbatasan untuk mandiri energi sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional pada 2030.
Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Kalbar, Haryanto, menilai biomassa dari limbah cair sawit menjadi salah satu sumber energi yang paling realistis dikembangkan di Kalbar.
Menurut dia, Kalbar memiliki lebih dari 100 perkebunan kelapa sawit skala besar yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif berbasis limbah industri. “Sudah ada program Palm Oil Mill Effluent atau POME yang mampu menghasilkan gas metan untuk energi listrik alternatif dan sudah ada juga kolaborasi dengan PLN, tinggal realisasinya saja,” katanya.
Pengembangan energi terbarukan di Sambas bukan hanya berkaitan dengan listrik dan emisi karbon.
Bagi masyarakat perbatasan, ketersediaan listrik yang stabil juga berpengaruh terhadap pendidikan, layanan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi warga.
Di sejumlah desa perbatasan, pasokan listrik yang belum stabil masih menjadi kendala aktivitas masyarakat pada malam hari.
Kehadiran energi bersih dinilai dapat membuka akses kehidupan yang lebih layak sekaligus mempercepat pembangunan kawasan perbatasan.
Sebelumnya, PT PLN Unit Induk Wilayah (UID) Kalbar juga mengakui bahwa potensi energi baru terbarukan (EBT) di Kalbar sangat besar dan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk memperkuat pasokan listrik di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Sambas.
Pemanfaatan energi bersih terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional sekaligus meningkatkan keandalan listrik di Kalbar.
Saat ini pembangkit listrik dari EBT masih di kisaran lima persen dari total daya yang ada.
Salah satu potensi terbesar berasal dari limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) yang dapat diolah menjadi sumber listrik berbasis biogas.
PLN mencatat pemanfaatan biomassa sawit di Kalbar sudah mulai berjalan, salah satunya melalui PLTBg milik PT Sarana Esa Cita di Kabupaten Sambas yang menghasilkan daya hingga 2 MW.
Sebagian listrik dari pembangkit tersebut telah disalurkan ke sistem PLN sejak 2021.
PLN juga menilai pengembangan energi surya, biomassa, dan tenaga air di Sambas dapat memperkuat sistem kelistrikan Khatulistiwa serta mengurangi ketergantungan pasokan listrik dari Malaysia.