Dukung Transisi Energi, PLN EPI Optimalkan Potensi Blue Carbon

Dekarbonisasi lewat Blue Carbon Ecosystems. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Senin, 25 Mei 2026 | 20:59:07 WIB

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengintensifkan strategi dekarbonisasi serta transisi energi berkelanjutan melalui pengembangan blue carbon ecosystems dalam rangka peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.

Komitmen tersebut dipaparkan dalam acara HSSE Talk #4 yang mengusung tema “Nature-Based Solutions for Decarbonization: Unlocking the Power of Blue Carbon Ecosystems”.

Acara yang digelar secara daring pada Jumat (22/5/2026) ini diikuti oleh jajaran manajemen dan seluruh insan PLN EPI Group.

Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3KL) PLN EPI, Muhammad Aminuddin, menyampaikan bahwa sebagai pengelola energi primer, PLN EPI tidak hanya mengemban amanah menjaga ketahanan pasokan energi, tetapi juga memastikan operasional bisnis tetap selaras dengan pelestarian lingkungan, terutama di kawasan pesisir yang menjadi lokasi strategis fasilitas energi perusahaan.

“PLN EPI memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Namun di saat yang sama, kami juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ekosistem pesisir yang menjadi rumah bagi mangrove dan padang lamun sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon,” ujar Aminuddin.

Ia memaparkan bahwa ekosistem mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan menyerap karbon hingga 10 kali lebih efektif jika dibandingkan dengan hutan di wilayah daratan.

Potensi tersebut menjadikan ekosistem pesisir sebagai salah satu solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NBS) yang dinilai krusial untuk menyokong target penurunan emisi nasional serta komitmen Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060.

PLN EPI juga memberikan atensi terhadap dampak perubahan iklim yang meningkatkan risiko kenaikan muka air laut, abrasi, serta cuaca ekstrem yang memengaruhi masyarakat di wilayah pesisir.

Merujuk pada data CarbonEthics, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare kawasan mangrove yang mampu menyimpan hingga 3,1 miliar ton karbon dioksida (CO2).

Namun, tercatat sekitar 40 persen dari kawasan tersebut mengalami degradasi selama tiga dekade terakhir.

Aminuddin menambahkan, pengembangan bisnis energi di masa depan harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab serta berorientasi pada keberlanjutan.

Menurutnya, meningkatnya tekanan regulasi, ekspektasi investor, dan berkembangnya pasar karbon domestik menjadi momentum bagi PLN EPI untuk memperkuat strategi bisnis yang nature-positive.

“PLN EPI perlu memposisikan diri sebagai pelopor integrasi nature-positive strategy dalam operasional energi. Keberlanjutan bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dalam membangun bisnis energi masa depan yang resilien dan bernilai tambah,” tambah Aminuddin.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Senior Business Development Manager CarbonEthics, Farhan Prastiyan, sebagai narasumber.

Farhan menuturkan bahwa solusi berbasis alam memiliki potensi besar untuk mitigasi perubahan iklim sekaligus menciptakan manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat pesisir.

Menurut Farhan, upaya rehabilitasi mangrove, konservasi lahan gambut, hingga pengelolaan pesisir yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kapasitas penyerapan karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang berbasis blue economy dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Salah satu bentuk implementasinya dilakukan melalui proyek rehabilitasi mangrove di Tanjung Pakis, Karawang.

Dalam inisiatif tersebut, PLN EPI bermitra dengan CarbonEthics untuk melibatkan komunitas lokal dalam penanaman mangrove, serta menciptakan manfaat ekonomi bagi warga pesisir melalui pelatihan, pengembangan UMKM, hingga ekowisata.

Melalui HSSE Talk #4, PLN EPI berharap seluruh insan perusahaan semakin memahami urgensi menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem pesisir sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.

Langkah ini sejalan dengan tema Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026, “Acting Locally for Global Impact”, yang menekankan pentingnya aksi lokal untuk menciptakan dampak global bagi keberlanjutan bumi.

Reporter: Talita Malinda