Teknologi Pirolisis: Solusi Pemerintah Ubah Sampah TPA Menjadi BBM

Sampah Gunungan Akan Diolah Jadi BBM. (Sumber Foto: radarbekasi.com)
Penulis: Talita Malinda
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:04:04 WIB

JAKARTA – Pemerintah mulai mengupayakan pengolahan timbunan sampah lama di tempat pembuangan akhir (TPA) agar bisa menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbarukan dengan menerapkan teknologi pirolisis.

Langkah strategis tersebut merupakan bagian dari percepatan implementasi pengolahan sampah menjadi energi, sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengungkapkan bahwa pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada skema pengolahan sampah baru menjadi listrik.

Pemerintah kini mulai menyasar gunungan sampah lama yang ada di berbagai wilayah, seperti Bantar Gebang, Bandung, hingga Bali, untuk diubah menjadi BBM lewat teknologi pirolisis.

“Kalau sebelumnya sampah diolah menjadi energi listrik, sekarang kami dorong timbunan sampah di TPA diubah menjadi BBM terbarukan melalui teknologi pirolisis,” kata tokoh yang akrab disapa Zulhas itu di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Zulhas menjelaskan bahwa skema pirolisis memiliki perbedaan dengan metode waste to energy berbasis insinerator.

Pada metode waste to energy, sampah baru langsung diproses menjadi listrik, sedangkan teknologi pirolisis difokuskan untuk menangani tumpukan sampah lama yang sudah menggunung di area TPA.

Menurut Zulhas, pemerintah menghadapi masalah serius karena volume sampah lama di berbagai daerah yang sangat tinggi.

Bahkan, tumpukan sampah di beberapa TPA dilaporkan telah mencapai ketinggian setara 16 gedung.

“Nah, kami ini sudah punya sampah yang menggunung setinggi 16 gedung. Seperti Bantar Gebang dan tempat-tempat lain yang tinggi-tinggi. Itu sekarang yang pakai pirolisis akan diolah menjadi BBM,” ujarnya.

Berbagai kementerian dan lembaga turut terlibat dalam proyek ini, mulai dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pendidikan Tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Pindad, hingga unsur TNI AD.

Pihak-pihak terkait tersebut memberikan dukungan penuh dalam pengembangan teknologi maupun implementasi operasional di lapangan.

Zulhas menuturkan bahwa pengolahan sampah kini dianggap sebagai komponen penting dari strategi kemandirian energi nasional.

Pemerintah juga bekerja sama dengan Danantara untuk mengembangkan proyek waste to energy serta pengelolaan sampah menggunakan teknologi lainnya.

“Artinya pengolahan sampah tidak lagi dilihat sebagai beban, tetapi sebagai sumber energi dan bagian dari cita-cita kemandirian energi nasional,” tuturnya.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa pemerintah menerapkan skema berbeda untuk penanganan sampah baru dan sampah lama.

Sampah baru akan diproses lewat proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL), sementara timbunan lama akan diproses dengan teknologi khusus.

Ia menyebut sejumlah kota besar menjadi prioritas penanganan sampah lama dikarenakan volume timbunannya yang sangat signifikan.

Jakarta, Bandung, dan Bali termasuk dalam daftar wilayah yang menjadi prioritas tahap awal proyek tersebut.

“Yang paling besar kan Jakarta salah satunya. Nanti sampah lama yang sudah menggunung itu akan menggunakan teknis sendiri, sedangkan sampah baru dengan waste to energy,” kata Pandu.

Pemerintah menargetkan percepatan proyek pengolahan sampah menjadi energi ini dapat berjalan secara bertahap hingga tahun 2028.

Zulhas menyebutkan bahwa separuh dari target proyek diharapkan selesai pada tahun 2027, sementara sisanya dirampungkan pada tahun 2028, termasuk proyek di Bantar Gebang.

Pengolahan sampah menjadi energi diproyeksikan sebagai solusi efektif untuk mengurangi beban TPA sekaligus memperkuat pasokan energi terbarukan di Indonesia.

Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau progres penanganan sampah melalui koordinasi yang ketat antar kementerian dan lembaga terkait.

Reporter: Talita Malinda