Strategi Indonesia Percepat Transisi ke Energi Bersih Berkelanjutan

Potensi Energi Terbarukan Indonesia. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Kamis, 21 Mei 2026 | 12:04:04 WIB

JAKARTA – Indonesia tengah memasuki fase krusial dalam upaya perombakan sektor energinya.

Sebagai negara dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat, populasi besar, serta sektor industri yang semakin maju, Indonesia menghadapi tantangan untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mempercepat peralihan ke sumber energi bersih.

Dalam konteks ini, energi terbarukan kini menjadi inti dari arah pembangunan energi nasional dan bukan lagi sekadar agenda pelengkap.

Perubahan tersebut terlihat dari meningkatnya perhatian pada tenaga surya, panas bumi, hidro, bioenergi, hingga potensi hidrogen hijau.

Pemerintah juga mulai memperkuat perencanaan kelistrikan jangka panjang lewat RUPTL PLN 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas sekitar 69,5 GW.

Rencana ini mencakup pengembangan energi terbarukan, sarana penyimpanan energi, serta jaringan transmisi untuk mendukung sistem kelistrikan rendah karbon.

Berdasarkan laporan Market Research Indonesia, target produksi listrik dari sumber energi terbarukan dipatok mencapai 63,21 miliar kWh pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan berlanjut hingga 2029.

Target ini mempertegas bahwa energi bersih sudah dijadikan bagian krusial dari strategi ketahanan energi serta pembangunan ekonomi nasional.

Arah tersebut juga tampak dalam RUPTL 2025–2034, di mana dari rencana penambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 GW, 76% di antaranya berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi.

Target tersebut membuktikan bahwa transisi energi tidak hanya berfokus pada penurunan emisi, melainkan juga pembangunan sistem kelistrikan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

“Transformasi energi Indonesia bukan hanya tentang menambah kapasitas pembangkit terbarukan. Ini adalah perubahan struktural yang mencakup investasi, infrastruktur, regulasi, teknologi, dan kesiapan pasar untuk mendukung sistem energi yang lebih tangguh," jelas Damien Duhamel, Managing Partner untuk Timur Tengah dan Asia di Eurogroup Consulting, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Salah satu kemajuan penting dalam transisi energi Indonesia ialah hadirnya proyek tenaga surya terapung.

Teknologi ini dianggap relevan mengingat banyaknya waduk dan sumber daya air di Indonesia yang dapat dimanfaatkan tanpa memicu konflik penggunaan lahan berskala besar, dengan PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat sebagai bukti nyata.

PLTS Terapung Cirata memiliki kapasitas 192 MW yang diprediksi mampu memproduksi 300.000 MWh listrik setiap tahun.

Proyek ini pun disebutkan mampu memenuhi kebutuhan listrik bagi 50.000 rumah serta menurunkan konsumsi batu bara hingga 117.000 ton per tahun.

Kerja sama antara PLN dan Masdar dalam proyek ini menunjukkan betapa pentingnya kemitraan internasional untuk mempercepat transfer teknologi serta pendanaan energi bersih.

Potensi tenaga surya terapung Indonesia sebenarnya jauh lebih besar dari proyek yang telah ada.

Kementerian Pekerjaan Umum mencatat terdapat 109 bendungan dengan potensi gabungan sekitar 13,89 GW untuk pengembangan surya terapung.

Angka ini ekuivalen dengan sekitar 81% dari target pengembangan tenaga surya nasional sebesar 17,1 GW untuk periode 2025–2034.

Walaupun peluangnya sangat besar, investasi energi terbarukan di Indonesia masih memerlukan percepatan.

Untuk mencapai target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025, Indonesia membutuhkan investasi besar pada pembangkit, jaringan, teknologi penyimpanan, dan proyek pendukung lainnya.

Hambatan pembiayaan masih menjadi kendala, khususnya yang berkaitan dengan bankability proyek, kepastian regulasi, perizinan, serta pembagian risiko bagi pihak investor.

“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, tetapi potensi tersebut membutuhkan eksekusi yang konsisten. Investor perlu melihat kepastian regulasi, proyek yang bankable, dan infrastruktur yang siap agar modal dapat mengalir lebih cepat ke sektor energi bersih," tambah Duhamel.

Selain energi terbarukan konvensional, Indonesia mulai menjadikan hidrogen hijau sebagai bagian dari strategi energi jangka panjang.

Dengan potensi energi terbarukan yang diperkirakan menyentuh 3.687 GW, Indonesia memiliki dasar yang kuat untuk mengembangkan hidrogen hijau lewat proses elektrolisis berbasis energi bersih.

Pengembangan hidrogen hijau bisa menciptakan peluang baru bagi sektor industri, transportasi, kelistrikan, serta kebutuhan energi di masa depan.

Transformasi energi Indonesia memerlukan pendekatan menyeluruh.

Penambahan kapasitas pembangkit terbarukan harus berjalan beriringan dengan penguatan transmisi, penyimpanan energi, pembiayaan proyek, kesiapan teknologi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Jika fondasi kebijakan, investasi, dan infrastruktur terus diperkuat, Indonesia memiliki peluang untuk bergerak dari sekadar pasar energi besar menjadi salah satu pusat pertumbuhan energi bersih di Asia Tenggara.

Reporter: Talita Malinda