Strategi Ekspansi TOWR ke Data Center dan Energi Terbarukan

Ilustrasi saham nikel. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Kamis, 21 Mei 2026 | 09:58:53 WIB

JAKARTA  - TOWR berniat merambah lini bisnis baru demi meningkatkan efisiensi serta memperluas sumber pendapatan.

Perusahaan diperkirakan menyiapkan belanja modal sebesar Rp2 triliun untuk merealisasikan rencana tersebut.

Terdapat dua anak usaha yang akan terlibat dalam ekspansi ini, yaitu Protelindo dan iForte.

Protelindo akan mencakup bisnis penyewaan peralatan telekomunikasi, sistem daya, berbagi peralatan, berbagi daya, panel surya, manajemen energi pintar, hingga instalasi jaringan listrik.

Sementara itu, iForte akan fokus pada layanan pusat data, telekomunikasi nirkabel atau microwave, penyewaan menara, dan aktivitas induk usaha.

TOWR membutuhkan dana belanja modal sekitar Rp2,07 triliun, di mana porsi terbesar atau senilai Rp1,47 triliun dialokasikan untuk pusat data iForte.

Sisanya akan digunakan untuk panel surya Protelindo Rp447 miliar, aktivitas induk usaha iForte Rp16,5 miliar, penyewaan menara iForte Rp21 miliar, serta telekomunikasi nirkabel iForte Rp117 miliar.

Bisnis pusat data menjadi proyek dengan skala terbesar dalam rencana ekspansi ini.

iForte berencana membangun pusat data berkapasitas 10 MW secara bertahap.

Terkait kapasitas tersebut, angka ini tergolong tidak terlalu besar jika disandingkan dengan pemimpin pasar saat ini yakni DCII, karena hanya setara dengan 7,8 persen dari total kapasitas terpasang mereka.

Dalam simulasi keterbukaan informasi, TOWR berpotensi mencatatkan rata-rata pertumbuhan pendapatan 1,89 persen lebih tinggi dengan adanya rencana ini dibandingkan tanpa rencana.

Selain itu, pertumbuhan laba bersih tahun berjalan berpeluang lebih tinggi sebesar 2,05 persen dibandingkan skenario tanpa rencana.

Total pendapatan dari usaha baru pada periode 2026-2035 diproyeksikan berkontribusi sekitar 26,35 persen terhadap pendapatan tahun 2025.

Artinya, kontribusi pendapatan dari bisnis baru saat beroperasi optimal pada 2035 diperkirakan mencapai Rp3 triliun.

Margin laba bersih diprediksi berada di level 36 persen, meningkat dari posisi 30 persen pada tahun 2025.

Sepanjang periode 2020-2025, pendapatan TOWR meningkat dari Rp7,45 triliun menjadi Rp13,33 triliun.

Perubahan paling signifikan terletak pada komposisi segmen, di mana kontribusi jasa non-menara melonjak dari 15,0 persen menjadi 34,5 persen terhadap pendapatan.

Pada RUPS Luar Biasa tanggal 20 Mei 2026, pemegang saham telah menyetujui rencana ekspansi tersebut, dengan prioritas utama pada bisnis energi baru terbarukan.

Direktur TOWR, Indra Gunawan, menyatakan bahwa perseroan segera mengeksekusi rencana tersebut setelah KLBI disetujui.

"Kami sudah memiliki captive market-nya di site yang tidak terjangkau listrik PLN. Sehingga dampaknya akan langsung terasa ke pembukuan tahun 2027 (untuk full year-nya)," ujarnya dalam RUPSLB pada 20 Mei 2026.

Indra menjelaskan bahwa bisnis energi terbarukan ini menyasar area menara perseroan yang selama ini masih menggunakan genset diesel karena belum teraliri listrik PLN.

"Kami mau migrasi dari genset diesel ke energi terbarukan. Ini akan menjadi solusi daya listrik untuk area yang belum terhubung dengan PLN dengan lebih efisien," ujarnya.

Penjualan listrik tersebut akan dilakukan langsung oleh perseroan kepada operator seluler di lokasi menara terkait.

Dana ekspansi akan dipenuhi melalui kombinasi pinjaman bank yang sudah tersedia dan kas internal.

Dalam RUPS Tahunan di hari yang sama, TOWR mengumumkan pembagian dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp800 miliar atau sekitar Rp6,89 per lembar saham.

Reporter: Talita Malinda