JAKARTA - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) berhasil menorehkan kinerja positif sepanjang kuartal I 2026 dengan pencapaian produksi minyak dan gas bumi (migas) yang melebihi target.
Hingga penutupan Maret 2026, hasil produksi migas PHI di wilayah Kalimantan menyentuh angka 60,44 ribu barel minyak per hari (mbopd) serta 619 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd).
Realisasi tersebut setara dengan 120% untuk produksi minyak dan 105% untuk produksi gas jika dibandingkan dengan target tahunan.
Tak hanya aspek produksi, PHI juga menunjukkan performa keselamatan kerja yang unggul dengan catatan zero fatality, nihil Lost Time Incident (LTI), serta total 57,36 juta jam kerja selamat.
Direktur Utama PHI, Sunaryanto, menjelaskan bahwa capaian ini adalah bukti dedikasi perusahaan dalam menjaga stabilitas produksi migas nasional, terutama di area Kalimantan.
“Di PHI, kami terus berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi demi keberlanjutan produksi migas perusahaan yang penting dalam mendukung pencapaian target produksi nasional dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Sunaryanto dalam keterangannya pada Kamis (14/5/2026).
Menurut Sunaryanto, implementasi inovasi serta peningkatan keandalan fasilitas menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas lapangan migas yang telah masuk kategori mature.
"Penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, dan mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan,” katanya.
PHI pun terus menggencarkan program pemeliharaan, perbaikan, hingga reaktivasi sumur guna mendongkrak produktivitas sekaligus memperlama usia operasional lapangan migas.
Salah satu terobosan yang dilakukan adalah metode High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta di Lapangan Mutiara dan Pamaguan oleh PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).
Teknologi tersebut berfungsi menangani minyak berkadar lilin tinggi agar tidak membeku dalam pipa melalui penggunaan pelarut khusus, sehingga aliran produksi tetap lancar.
PHM juga melakukan pengembangan teknologi guna memaksimalkan produksi pada sumur emulsi yang berada di Lapangan Tunu.
Di tempat lain, PHSS mengaplikasikan teknologi Permanent Coiled Tubing Gas Lift (PCTGL) di Lapangan Louise, Samboja, dan Mutiara melalui proses penyuntikan gas bertekanan agar minyak mudah terangkat.
Inovasi ini terbukti efektif meningkatkan hasil sumur dan menyokong pencapaian target produksi perusahaan pada triwulan pertama tahun ini.
Tambahan pasokan minyak juga diperoleh dari PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui Lapangan Kerindingan, Sapi, serta sumur sisipan baru di area lepas pantai.
Sedangkan untuk gas, performa positif didorong oleh beroperasinya platform kedua dan ketiga dari Proyek Sisi Nubi AOI garapan PHM pada akhir Februari dan Maret 2026.