UpdateHarga Sembako Jawa Timur Hari Ini 19 Januari 2026: Cabai Rawit Naik, Ayam Kampung Turun

Senin, 19 Januari 2026 | 13:42:03 WIB
UpdateHarga Sembako Jawa Timur Hari Ini 19 Januari 2026: Cabai Rawit Naik, Ayam Kampung Turun

JAKARTA — Pergerakan harga kebutuhan pokok di Jawa Timur kembali menunjukkan dinamika pada awal pekan ini. Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan, sementara sebagian lainnya justru turun atau bertahan stabil. 

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa pasar bahan pangan masih bergerak fluktuatif, sehingga masyarakat perlu terus mencermati perubahan harga agar pengeluaran rumah tangga tetap terkendali.

Berdasarkan pemantauan terbaru, cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mencatat kenaikan paling signifikan. Di sisi lain, harga daging ayam kampung justru mengalami penurunan. Sementara itu, sejumlah bahan pokok lain relatif stabil tanpa perubahan berarti, sehingga memberikan sedikit ruang bagi konsumen dalam mengatur belanja harian.

Fluktuasi Harga Sembako Masih Terjadi

Harga sembako di Jawa Timur diketahui terus berubah dari hari ke hari. Pada perdagangan hari ini, cabai rawit, cabai merah keriting, serta daging ayam ras tercatat mengalami kenaikan. Sebaliknya, harga cabai merah besar dan daging ayam kampung justru turun dibandingkan hari sebelumnya.

Memantau harga sembako secara rutin menjadi hal penting, tidak hanya bagi pelaku usaha dan pedagang, tetapi juga bagi masyarakat umum. Informasi harga harian dapat membantu konsumen menyesuaikan pola belanja, sekaligus menghindari lonjakan pengeluaran di tengah situasi harga yang tidak menentu.

Selain itu, fluktuasi harga sembako juga menjadi indikator kondisi pasokan dan permintaan di pasar. Perubahan kecil pada satu komoditas dapat berdampak pada pola konsumsi rumah tangga, terutama bagi masyarakat yang sangat bergantung pada kebutuhan pokok sehari-hari.

Daftar Harga Sembako Jawa Timur 19 Januari 2026

Berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, berikut harga rata-rata sembako per Senin, 19 Januari 2026 pukul 10.06 WIB.

Beras premium tercatat Rp14.839 per kilogram, sementara beras medium berada di level Rp12.888 per kilogram. Harga gula kristal putih mencapai Rp16.506 per kilogram.

Untuk minyak goreng, harga minyak goreng curah tercatat Rp18.589 per kilogram. Minyak goreng kemasan premium dijual Rp20.334 per liter, sedangkan kemasan sederhana Rp17.500 per liter. Adapun Minyakita berada di harga Rp17.012 per liter.

Harga daging sapi paha belakang tercatat Rp119.817 per kilogram. Daging ayam ras berada di level Rp35.142 per kilogram, sementara daging ayam kampung tercatat Rp68.709 per kilogram.

Harga telur ayam ras mencapai Rp27.644 per kilogram dan telur ayam kampung Rp46.006 per kilogram. Untuk produk susu, susu kental manis merek Bendera dijual Rp12.433 per kemasan 370 gram, sedangkan merek Indomilk Rp12.439 per kemasan 370 gram. Susu bubuk merek Bendera tercatat Rp41.988 per kemasan 400 gram, dan Indomilk Rp41.107 per kemasan 400 gram.

Garam bata tercatat Rp1.801, sedangkan garam halus Rp9.264 per kilogram. Harga cabai merah keriting berada di Rp26.998 per kilogram, cabai merah besar Rp24.081 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp37.696 per kilogram.

Sementara itu, bawang merah tercatat Rp34.157 per kilogram dan bawang putih Rp32.643 per kilogram. Harga gas elpiji tercatat Rp19.746.

Cabai Rawit Naik, Ayam Kampung Turun

Berdasarkan perbandingan dengan harga sebelumnya, cabai rawit merah mengalami kenaikan Rp3.608 atau sekitar 10,59 persen. Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting sebesar Rp123 atau 0,46 persen, serta daging ayam ras yang naik Rp189 atau 0,54 persen.

Sebaliknya, harga cabai merah besar tercatat turun Rp302 atau 1,24 persen. Penurunan juga terjadi pada daging ayam kampung sebesar Rp340 atau 0,49 persen.

Pergerakan harga ini menunjukkan bahwa tidak semua komoditas mengalami tekanan kenaikan secara bersamaan. Beberapa bahan justru mengalami koreksi harga, yang dapat dimanfaatkan konsumen untuk mengatur menu dan kebutuhan rumah tangga.

Beragam Faktor Pemicu Perubahan Harga

Perubahan harga sembako tidak terjadi tanpa sebab. Ada berbagai faktor yang memengaruhi naik turunnya harga bahan pokok di pasar. Salah satu faktor utama adalah keseimbangan antara permintaan dan penawaran. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga cenderung naik. Sebaliknya, pasokan yang melimpah dapat menekan harga.

Faktor cuaca juga memiliki pengaruh besar, terutama terhadap komoditas pertanian seperti cabai dan bawang. Cuaca ekstrem, bencana alam, atau perubahan musim dapat menurunkan produksi, sehingga pasokan berkurang dan harga meningkat.

Selain itu, kebijakan pemerintah turut berperan dalam menentukan harga sembako. Kebijakan impor, subsidi, pajak, maupun regulasi lainnya dapat memengaruhi ketersediaan dan harga bahan pokok di pasar.

Kenaikan biaya produksi dan distribusi, seperti harga pupuk, bahan bakar, serta upah tenaga kerja, juga berdampak pada harga jual. Fluktuasi nilai tukar mata uang menjadi faktor tambahan, terutama untuk komoditas yang masih bergantung pada impor.

Inflasi dan kondisi ekonomi secara umum juga berpengaruh. Saat inflasi tinggi, harga barang dan jasa cenderung meningkat, termasuk sembako. Selain itu, gangguan rantai distribusi seperti masalah logistik, kemacetan, atau hambatan pengiriman dapat menyebabkan keterlambatan pasokan dan memicu kenaikan harga.

Pentingnya Pemantauan Harga Bagi Konsumen

Dengan banyaknya faktor yang memengaruhi harga, tidak mengherankan jika harga sembako kerap berubah. Oleh karena itu, pemantauan harga secara rutin menjadi langkah penting bagi masyarakat. Informasi harga dapat membantu konsumen merencanakan belanja dengan lebih bijak serta menyesuaikan pengeluaran sesuai kondisi pasar.

Perlu dicatat bahwa harga sembako dapat berbeda di setiap pasar dan wilayah. Data yang disajikan merupakan harga rata-rata di Jawa Timur, sehingga masyarakat disarankan tetap menyesuaikan dengan kondisi di daerah masing-masing.

Ke depan, pengawasan harga dan kebijakan yang tepat tetap dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasar, memastikan ketersediaan pasokan, serta melindungi daya beli masyarakat di tengah dinamika harga pangan yang terus bergerak.

Terkini