Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Energi Angin di Wilayah Indonesia

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 24 Juni 2026
Tantangan dan Peluang Pemanfaatan Energi Angin di Wilayah Indonesia
Ilustrasi PLTB. ( Sumber : NET )

JAKARTA - Potensi energi angin di Indonesia dinilai sangat besar untuk mendukung target transisi energi nasional.

Namun, keterbatasan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah utama yang harus diselesaikan agar pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dapat berjalan optimal.

Direktur PT wpd Indonesia Energy, Gerry Julian, menyebut Indonesia memiliki potensi energi angin mencapai 7,2 gigawatt (GW) sebagaimana tercantum dalam RUPTL PLN 2025–2035.

Potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah, mulai dari pesisir selatan Pulau Jawa, Sulawesi, Aceh, hingga Sumatera.

Menurut Gerry, potensi tersebut menjadikan energi angin sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang berpeluang besar memperkuat bauran energi nasional di masa depan.

"Kami melihat Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Angin dapat menjadi bagian penting dalam mendukung transisi energi nasional," ujar Gerry seperti dikutip dari Majalah Listrik Indonesia Edisi 110, Selasa (23/6/2026).

Sejak masuk ke Indonesia pada Juni 2021, PT wpd Indonesia Energy telah melakukan berbagai studi dan pengukuran kecepatan angin di sejumlah wilayah.

Hingga saat ini, perusahaan asal Jerman tersebut telah mengembangkan enam proyek PLTB yang tersebar di Sulawesi, Jawa, dan Sumatera.

Beberapa proyek bahkan telah memasuki tahap pembebasan lahan dan studi lanjutan, yang menunjukkan komitmen perusahaan dalam mengembangkan energi angin di Indonesia.

"Kami sudah melakukan pengukuran angin, studi lokasi, hingga pembebasan lahan. Jadi kami tidak hanya melihat peluang, tetapi benar-benar menyiapkan fondasi proyeknya," katanya.

Meski demikian, pengembangan energi angin masih menghadapi sejumlah tantangan.

Selain karakteristik angin yang tergolong rendah hingga sedang dibandingkan negara Eropa, aspek infrastruktur menjadi kendala yang paling sering ditemui.

Gerry menjelaskan, pembangunan PLTB membutuhkan dukungan pelabuhan, jalan akses, dan fasilitas logistik yang memadai untuk mengangkut komponen berukuran besar seperti baling-baling turbin dan generator.

"Baling-baling turbin bisa mencapai panjang sekitar 90 meter dan generatornya sangat berat. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, proses pembangunan menjadi sulit dilakukan," jelasnya.

Ia mencontohkan wilayah pesisir selatan Jawa yang memiliki potensi angin cukup baik, namun masih terkendala oleh keterbatasan fasilitas pelabuhan dan akses transportasi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi turbin angin dinilai mampu menjawab tantangan kondisi angin Indonesia.

Teknologi terbaru kini mampu menghasilkan daya 6 hingga 7 MW per unit dan dirancang untuk beroperasi pada kecepatan angin yang lebih rendah.

Selain tantangan teknis, aspek regulasi dan perizinan juga masih menjadi perhatian investor, meskipun perusahaan tetap optimistis melanjutkan pengembangan proyek.

Saat ini, enam proyek yang dikembangkan diproyeksikan memiliki kapasitas gabungan lebih dari 600 MW, sebagai langkah penting mengoptimalkan potensi nasional sebesar 7,2 GW.

"Kami yakin angin di Indonesia bukan hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga peluang besar untuk mendukung masa depan energi bersih nasional," pungkas Gerry.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua