Tingkatkan Ketahanan Energi Lewat Sinergi Migas dan EBT

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 18 Juni 2026
Tingkatkan Ketahanan Energi Lewat Sinergi Migas dan EBT
ENERGI NASIONAL. ( Sumber : NET )

JAKARTA – Meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi global.

Kondisi tersebut mendorong Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak rentan terhadap gejolak harga maupun gangguan pasokan yang dapat berdampak pada perekonomian.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, mengatakan tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ketahanan energi melalui strategi yang menyeimbangkan pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) serta percepatan energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Yusri, migas dan EBT tidak seharusnya dipandang sebagai dua sektor yang saling menggantikan.

Keduanya justru perlu berjalan beriringan sebagai instrumen utama untuk menjamin keamanan pasokan energi nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

"Ketahanan energi nasional tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber energi. Indonesia membutuhkan kombinasi yang seimbang antara peningkatan produksi migas dan percepatan pengembangan energi terbarukan agar mampu menghadapi berbagai risiko global yang semakin kompleks," kata Yusri dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).

Ia menjelaskan, sektor hulu migas masih memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Karena itu, peningkatan investasi, percepatan kegiatan eksplorasi, pengembangan lapangan baru, serta optimalisasi produksi perlu terus menjadi prioritas pemerintah dan pelaku industri.

Yusri menilai sejumlah temuan cadangan migas baru, termasuk di wilayah Andaman, menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi sumber daya energi yang besar untuk mendukung ketahanan energi jangka panjang.

Namun, menurutnya, potensi tersebut harus diikuti dengan langkah pengembangan yang lebih cepat agar dapat segera memberikan kontribusi terhadap produksi energi nasional.

Di sisi lain, pengembangan energi baru dan terbarukan juga perlu terus dipercepat sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi transisi energi global.

Yusri menyebut gas bumi dapat memainkan peran penting sebagai energi transisi yang menjembatani kebutuhan energi saat ini dengan target peningkatan bauran energi terbarukan di masa mendatang.

Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dinilai dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan komitmen terhadap pembangunan rendah karbon.

Menurut Yusri, sinergi antara pengembangan migas dan energi terbarukan menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

"Jika sinergi ini dapat dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan energinya, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang," ujarnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua