Kencana Energi Siapkan Proyek PLTB dan Fokus pada Diversifikasi EBT

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 15 Juni 2026
Kencana Energi Siapkan Proyek PLTB dan Fokus pada Diversifikasi EBT
KEEN Ekspansi EBT Salah Satunya Poryek PLTB. ( Sumber : NET )

JAKARTA - PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) terus memperkuat langkahnya di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).

Meski pembangkit listrik tenaga air (PLTA) masih menjadi fokus utama perusahaan, KEEN mulai memperluas portofolio ke teknologi EBT lainnya seperti tenaga surya, angin, dan sistem penyimpanan energi (energy storage).

Direktur Keuangan KEEN, Giat Widjaja, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini tengah mempersiapkan pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 10 Megawatt peak (MWp) yang akan dilengkapi dengan baterai penyimpanan energi sebesar 8,4 Megawatt-hour (MWh).

Selain itu, perusahaan juga sedang merampungkan studi kelayakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Sulawesi sebagai bagian dari strategi diversifikasi bisnis EBT.

"Fokus utama kami tetap hidro. Namun ke depan kami akan berkembang ke multi-teknologi EBT seperti PLTS, energy storage, dan angin," ujar Giat dalam siaran wawancranya, dikutip Minggu (14/6/2026).

Langkah ekspansi tersebut dilakukan setelah KEEN berhasil memenangkan tender proyek PLTA Pakkat 2 di Sumatera Utara.

Menurut Giat, pengembangan berbagai teknologi EBT diperlukan untuk menangkap peluang pertumbuhan energi bersih yang semakin besar di Indonesia.

Salah satu proyek yang saat ini menjadi perhatian perusahaan adalah PLTS Tobelo di Maluku.

KEEN tengah melakukan berbagai persiapan sebelum memasuki tahap konstruksi, mulai dari penyiapan lahan hingga penyelesaian perizinan.

Sebelumnya, KEEN juga telah mengoperasikan PLTS berkapasitas 5,4 MW di Bangka.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan proyek surya berikutnya.

Meski optimistis terhadap prospek PLTS, Giat menilai pengembangan tenaga surya dalam skala besar tetap membutuhkan dukungan sistem penyimpanan energi dan jaringan transmisi yang memadai.

"PLTS memiliki karakter yang berbeda dengan hidro karena bersifat intermiten. Karena itu dibutuhkan energy storage dan infrastruktur kelistrikan yang mendukung agar pemanfaatannya bisa lebih optimal," jelas Giat.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, KEEN menerapkan berbagai strategi efisiensi untuk menjaga kinerja proyek.

Menurut Giat, efisiensi telah menjadi fokus perusahaan sejak tahap perencanaan proyek, mulai dari desain, pengadaan hingga konstruksi.

Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah natural hedging.

KEEN memiliki kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dalam denominasi dolar AS, sementara kontrak pembangunan dengan kontraktor EPC dan sebagian besar pendanaannya juga menggunakan mata uang yang sama.

Dengan struktur tersebut, risiko akibat pergerakan kurs dapat diminimalkan secara alami.

Selain itu, perusahaan menerapkan skema kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) dengan mekanisme lump sum fixed price untuk menjaga biaya konstruksi tetap sesuai anggaran yang telah ditetapkan.

"Kami melakukan perencanaan pengadaan yang matang dan mengelola struktur pendanaan secara hati-hati agar eksposur terhadap volatilitas kurs tetap terjaga," kata Giat.

Meski mulai masuk ke berbagai teknologi EBT, KEEN menilai pembangkit listrik tenaga air masih akan menjadi tulang punggung transisi energi nasional.

Menurut Giat, Indonesia memiliki potensi hidro yang sangat besar, meskipun pemanfaatannya masih menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya adalah lokasi sumber daya air yang umumnya berada di daerah terpencil dan jauh dari pusat-pusat konsumsi listrik.

Kondisi tersebut menuntut pembangunan jaringan transmisi yang panjang dan membutuhkan investasi besar.

Namun di balik tantangan itu, PLTA memiliki keunggulan yang tidak dimiliki sebagian besar sumber EBT lainnya, yakni mampu beroperasi selama 24 jam penuh sebagai pembangkit baseload.

"Hidro dapat menjadi tulang punggung transisi energi karena bisa beroperasi terus-menerus. Berbeda dengan PLTS dan angin yang sifatnya intermiten," ujarnya.

Karena itu, menurut Giat, pembangunan infrastruktur transmisi menjadi faktor penting untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia, baik dari hidro, surya maupun angin.

Giat menilai perkembangan sektor EBT nasional saat ini bergerak ke arah yang positif.

Meskipun bauran energi terbarukan Indonesia masih berada di kisaran 15 persen dan belum mencapai target 25 persen, berbagai rencana pengembangan pembangkit dan jaringan listrik yang tertuang dalam perencanaan pemerintah dinilai mampu mempercepat pencapaiannya.

"Kami optimistis pengembangan EBT akan berjalan sesuai harapan pemerintah. Infrastruktur pendukung dan perencanaan transmisi sudah mulai dipersiapkan," katanya.

Dengan strategi mempertahankan bisnis hidro sekaligus memperluas investasi ke PLTS, PLTB, dan sistem penyimpanan energi, KEEN berharap dapat mengambil peran lebih besar dalam mendukung transisi energi dan peningkatan bauran energi terbarukan di Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua