Dampak Gejolak Global: Urgensi Transisi Energi Bersih Nasional
- Sabtu, 16 Mei 2026
JAKARTA - Gejolak harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah menjadi pengingat serius bagi Indonesia.
Ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil dinilai membuat ketahanan energi nasional sangat rentan terhadap guncangan pasar global.
Dilansir dari Lestari, Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, menyatakan krisis energi dunia saat ini membuktikan peralihan ke energi bersih tidak bisa ditunda lagi.
Baca Juga
“Ini kami baru melihat terlambat ya kami shifting ke arah green energy,” ujar Tenny dalam sebuah webinar pada Rabu (16/5/2026).
Investasi di sektor energi terbarukan selama ini dianggap mahal sehingga proses transisinya berjalan lambat.
Namun, lonjakan harga minyak dunia menunjukkan bahwa biaya mempertahankan ketergantungan pada fosil ternyata jauh lebih besar.
Kenaikan harga minyak mentah global telah membebani anggaran negara akibat subsidi energi yang membengkak.
Situasi ini berdampak langsung pada masyarakat melalui kenaikan harga BBM dan kebutuhan pokok lainnya.
Tenny Elfrida menjelaskan pengembangan energi alternatif seperti bioetanol, hidrogen, hingga sustainable aviation fuel (SAF) memerlukan riset jangka panjang.
Proyek ini sulit jika hanya dibebankan kepada pelaku usaha tanpa sokongan negara.
Ekosistem yang mendukung, baik melalui insentif maupun regulasi, sangat diperlukan agar proyek energi bersih menjadi layak secara ekonomi.
Dukungan pemerintah krusial jika Indonesia ingin mencapai target net zero emission.
“Kalau Indonesia mau mencapai net zero emission, kami juga membutuhkan dukungan untuk mengembangkan bioetanol, SAF, hidrogen, dan energi alternatif lainnya,” kata Tenny.
Percepatan Bioetanol dan Peran Nuklir
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Unggul Priyanto, menyoroti ketertinggalan Indonesia dalam pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin.
Progresnya dianggap tidak secepat biodiesel berbasis minyak sawit yang sudah memiliki program mandatori.
“Bioetanol harus dipercepat. Kalau menunggu produksi dalam negeri, akan terlalu lama, terutama dalam situasi krisis,” ujar Unggul.
Unggul mendorong penerapan mandatori E20 atau pencampuran 20 persen bioetanol ke dalam bensin.
Selain itu, elektrifikasi transportasi melalui kendaraan listrik dipandang penting untuk memperkuat kemandirian energi nasional.
Di sisi lain, Indonesia dinilai perlu mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) demi menjamin stabilitas pasokan listrik.
Nuklir bersama panas bumi dan air dapat menggantikan batu bara sebagai sumber listrik beban dasar (base load).
Lektor Kepala Fakultas Teknologi Industri ITB, Retno Gumilang Dewi, menambahkan bahwa diversifikasi sumber energi sangat penting.
Pengalaman negara lain menunjukkan pemanfaatan nuklir efektif dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
Talita Malinda
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026











