CJIBF 2026: Jawa Tengah Raup Minat Investasi Senilai Rp16 Triliun

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Rabu, 13 Mei 2026
CJIBF 2026: Jawa Tengah Raup Minat Investasi Senilai Rp16 Triliun
Minat Investasi di Jateng Rp16 Triliun. ( Sumber : NET )

 SEMARANG - Gelaran Central Java Investment Forum (CJIBF) 2026 yang merupakan forum investasi tahunan di Jawa Tengah berhasil membukukan 40 letter of intent (LOI) atau nota minat investasi dengan angka mencapai Rp16 triliun pada hari pertama penyelenggaraannya.

Potensi investasi senilai Rp16 triliun tersebut mencakup 21 proyek investasi pada 17 sektor strategis, mulai dari energi terbarukan, pertanian, hilirisasi pangan, pariwisata, hingga sektor pertambangan.

Perhelatan yang berlangsung selama dua hari hingga Selasa (12/5/2026) ini, sebelumnya telah menawarkan sejumlah proyek investasi dengan total nilai Rp30 triliun.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa capaian LOI senilai Rp16 triliun tersebut merupakan hasil dari rangkaian one on one meeting (1-on-1), yakni sesi privat antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, serta pelaku usaha dalam pembukaan CJIBF 2026 di Kota Semarang, Senin (11/5/2026).

“CJIBF yang kami lakukan, hari ini kami telah menelurkan kepeminatan (LOI) dan Rp 16 triliun potensi investasi telah disepakati,” jelas Lutfhi dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2026).

Butuh Dikawal 2 Tahun 

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, menjabarkan bahwa 40 LOI yang masuk berasal dari ketertarikan para investor terhadap 21 proyek investasi ready to offer yang dipaparkan dalam forum tersebut.

"Proyek itu terdiri atas 17 sektor strategis, mulai dari renewable energy, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pertambangan," bebernya.

Selain sektor-sektor tersebut, Sakina melanjutkan bahwa sejumlah investor baik dari dalam maupun luar negeri menunjukkan minat pada sektor industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, hingga mocaf (tepung singkong) serta hilirisasi produk pertanian lainnya.

Adapun calon investor dari mancanegara atau penanaman modal asing (PMA) sejauh ini berasal dari negara Thailand, China, dan India.

“Kepeminatan itu kami kawal terus. Biasanya realisasi membutuhkan waktu satu sampai dua tahun karena masing-masing investor masih melakukan kajian,” terangnya.

Tidak hanya di sektor industri, ia juga menawarkan empat kawasan industri unggulan sebagai ajang promosi yang meliputi Kendal Special Economic Zone (KIK Kendal), Industropolis Batang Special Economic Zone (KITB Batang), Wijayakusuma Industrial Park (KIW Semarang), dan Jatengland Industrial Park Sayung (Jatengland Demak).

“Kami akan mengawal kepeminatan yang sudah tanda tangan LOI agar benar-benar terealisasi menjadi investasi,” papar Sakina.

Menurut Sakina, langkah pengawalan terhadap calon investor sangat krusial.

 Terlebih, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mematok target investasi sebesar Rp99 triliun pada tahun 2026.

 Sebagai perbandingan, capaian investasi pada tahun 2025 tercatat berada di angka Rp88,5 triliun.

"Ya target itu investasi naik 10 persen," tambahnya.

Forum 12 Pemerintah Daerah

 Gubernur Jateng Ahmad Luthfi juga meresmikan acara Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) yang dihadiri oleh perwakilan dari 12 pemerintah provinsi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua