Isu Pembatasan Baterai Mobil Listrik, BYD dan Tesla Beri Bantahan
- Selasa, 12 Mei 2026
JOGJA – Sektor kendaraan listrik di China tengah dilanda kontroversi menyusul mencuatnya isu praktik “battery lock” yang ditengarai melibatkan sejumlah produsen besar.
Kabar ini memicu perdebatan sengit di antara pengguna serta pihak regulator.
Berdasarkan laporan Sina, isu tersebut berawal dari informasi daring yang mengeklaim ada delapan pabrikan mobil listrik yang dipanggil oleh regulator untuk dimintai keterangan.
Baca JugaSolusi Praktis, Tukar Baterai Motor Listrik Cukup Hitungan Menit
Namun, perusahaan-perusahaan yang namanya terseret segera memberikan bantahan.
Mereka menilai informasi itu tidak valid dan menyebutnya sebagai hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Salah satu pemain utama, BYD, secara gamblang membantah terlibat dalam investigasi tersebut pada 9 Mei 2026. BYD juga menyatakan sedang mengumpulkan bukti guna menyeret penyebar berita menyesatkan tersebut ke jalur hukum.
Di sisi lain, Tesla memberikan penegasan bahwa setiap pembaruan perangkat lunak pada unit kendaraan mereka telah melewati tahapan pengujian serta regulasi yang ketat sebelum dilempar ke publik.
Produsen lainnya seperti Xpeng, Nio, Zeekr, GAC Aion, dan Li Auto turut melayangkan bantahan serupa mengenai dugaan keterlibatan mereka dalam praktik tersebut.
Di tengah gelombang bantahan, istilah “battery lock” menjadi perhatian utama.
Praktik ini mengacu pada pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) yang diduga bisa mengubah setelan sistem manajemen baterai, seperti memangkas kapasitas pengisian, menurunkan performa puncak, sampai memperpendek daya jelajah kendaraan.
Sejumlah konsumen mengeluhkan kapasitas mobil listrik mereka merosot tajam usai pembaruan sistem.
Dalam beberapa kasus, jarak tempuh yang semula sekitar 500 kilometer dilaporkan jatuh hingga 300 kilometer, disertai durasi pengisian daya yang lebih lama.
Data dari platform pengaduan konsumen China (12315) pada Maret 2026 menunjukkan lebih dari 12.000 keluhan terkait isu ini, sebuah lonjakan drastis dibandingkan tahun lalu.
Tingginya angka keluhan ini membuat media pemerintah seperti CCTV turut menyoroti persoalan tersebut.
Meski demikian, para produsen menegaskan bahwa penyesuaian sistem baterai dijalankan demi faktor keamanan serta menjaga usia pakai komponen.
Mereka menepis tudingan bahwa pembaruan itu dilakukan secara rahasia untuk merugikan pembeli.
Pihak regulator di China akhirnya mengambil tindakan dengan memperketat regulasi.
Pemerintah kini melarang adanya perubahan parameter baterai tanpa persetujuan jelas dari pengguna, serta mewajibkan adanya transparansi total dalam setiap pembaruan perangkat lunak.
Bagi para pemilik maupun calon pembeli mobil listrik, polemik ini menjadi pengingat bahwa teknologi OTA yang praktis juga menyimpan risiko.
Masyarakat kini diharapkan lebih kritis dalam memahami dampak pembaruan sistem terhadap performa kendaraan mereka.
Talita Malinda
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026











