MIND ID Gandeng Kemendiktisaintek Olah Limbah Timah Jadi Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi
- Senin, 02 Maret 2026
JAKARTA - Upaya memperkuat hilirisasi mineral nasional kini menyasar sektor yang selama ini kurang mendapat perhatian, yakni limbah tambang.
Melalui kolaborasi antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), riset pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang (LTJ) resmi dirampungkan. Langkah ini dipandang strategis karena menyentuh dua agenda besar sekaligus: peningkatan nilai tambah mineral dan penguatan ketahanan energi nasional.
PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) telah menyelesaikan riset pengembangan mineral kritis berupa pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang (LTJ).
Baca JugaMazda Kembangkan MX-5 Generasi Baru, Opsi Elektrifikasi Dipertimbangkan Serius
Fokus pada Monasit dalam Limbah Timah
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Faudzan Adziman menyatakan riset tersebut berfokus pada pengolahan limbah timah yang mengandung LTJ berupa monasit.
Dia mengungkapkan monasit yang terkandung dalam limbah timah dapat diolah kembali menjadi mineral bernilai tinggi seperti torium, uranium, hingga neodimium.
“Jadi kita memang ingin mengambil bisnis bernilai tinggi jadi dari mulai hilirisasinya atau yang kita kejar sebetulnya yang limbah. Pengolahan limbah karena sebagian limbahnya mengandung monasit,” kata Fauzan dalam Sarasehan dan Sosialisasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), akhir pekan lalu.
Monasit selama ini dikenal sebagai mineral ikutan dalam proses penambangan timah. Dengan pendekatan riset yang tepat, kandungan tersebut dapat ditingkatkan nilainya melalui proses pemisahan dan pemurnian menjadi logam tanah jarang strategis.
Potensi Neodimium untuk EV dan Nuklir
Lebih lanjut, Fauzan mengungkapkan neodimium merupakan magnet yang sangat kuat dan bernilai tinggi. Dia membeberkan, LTJ tersebut dapat dipakai dalam baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Sementara itu, torium dan uranium akan dikembangkan agar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Terlebih, kata Fauzan, Indonesia sudah menargetkan porsi penggunaan tenaga nuklir pada PP KEN sebesar 11,7%—12,1% dalam bauran energi primer nasional pada 2060. Walhasil, pemanfaatan torium dan uranium untuk pembangkit nuklir menjadi aspek penting.
“Nah yang kritikal itu yang lain monasit misalkan, itu bisa jadi hilirnya itu salah satunya bisa jadi magnet neodymium, dan tirium itu juga, torium untuk yang PLTN, torium—uranium, itu juga bisa turunan dari monasit,” tegasnya.
Dengan demikian, riset ini bukan sekadar mengolah limbah, melainkan membuka peluang pemanfaatan mineral kritis untuk mendukung industri kendaraan listrik sekaligus rencana pengembangan energi nuklir nasional.
Percepatan Hilirisasi Sejalan PP KEN
Dalam kesempatan itu, Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin menyatakan perseroan selaku holding BUMN pertambangan bakal terus mempercepat pengembangan hilirisasi minerba di Indonesia.
Maroef menegaskan hilirisasi tersebut bakal dijalankan beriringan dengan pembaruan pencapaian target kecukupan dan ketahanan energi yang tertuang dalam PP KEN.
“Mengenai pembaruan Kebijakan Energi Nasional melalui PP No. 40/2025 memiliki tiga sasaran utama. Pertama, mewujudkan ketahanan energi yang artinya adalah energi harus selalu ada, aman, tidak terganggu, serta memiliki harga yang stabil,” ujar Maroef dalam kesempatan yang sama.
Kedua, Maroef mengklaim MIND ID akan terus menyediakan kebutuhan energi yang mencukupi bagi industri dan masyarat. Ketiga, hilirisasi yang dilakukan bakal dijalankan sejalan tren transisi energi nasional.
Dia menambahkan total konsumsi energi seluruh anak usaha MIND ID berada di kisaran 46 juta gigajoule dengan komposisi penggunaan energi terbarukan mencapai 39% yang berasal dari penggunaan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan surya (PLTS).
“Sejalan dengan itu, grup MIND ID tentunya memerlukan peran Dewan Energi Nasional untuk memperkuat memperlancar aspek-aspek sinkronisasi koordinasi lintas sektoral antara masalah perizinan lainnya,” kata Maroef.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan mineral kritis dan hilirisasi tidak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan kebijakan energi nasional yang lebih luas.
17 Proposal Riset Mineral Kritis Disiapkan
Sekadar catatan, Kemendiktisaintek mengungkapkan sedang menggarap 17 proposal riset mengenai mineral kritis di Indonesia.
Proposal tersebut dikerjakan oleh berbagai perguruan tinggi dengan menjadikan perusahaan pelat merah di sektor pertambangan sebagai mitra penelitisan.
Sejumlah BUMN yang tercatat menjadi mitra riset tersebut yakni holding BUMN pertambangan, MIND ID, khususnya PT Timah Tbk. (TINS).
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemendiktisaintek I Ketut Adnyana mengatakan riset tersebut akan fokus pada aspek pengembangan mineral kritis di Indonesia.
Nantinya akan terdapat naskah akademik yang diperoleh dari riset tersebut dan diharapkan dapat dijadikan landasan dalam proses hilirisasi lanjutan pada komoditas mineral kritis.
“Kami sudah membuka skema sinergi terkait khusus mineral kritis, akan segera diumumkan ada 17 proposal yang terkait dengan mineral kritis akan kami berikan pendanaan khusus untuk tahap awal untuk melakukan kajian-kajian strategis," ujarnya di sela Minerba Convex.
Melalui rangkaian riset dan kolaborasi ini, pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang diposisikan sebagai bagian penting dalam strategi besar pengelolaan mineral kritis Indonesia. Sinergi antara MIND ID dan Kemendiktisaintek tidak hanya memperluas nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga memperkuat fondasi menuju ketahanan energi dan transisi energi nasional di masa mendatang.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
BMW Motorrad Luncurkan F900 R dan F900 XR Edisi Khusus Eksklusif untuk Pasar Prancis
- Senin, 02 Maret 2026
Berita Lainnya
Tarif Listrik PLN 1-8 Maret 2026 Resmi Tidak Berubah, Ini Daftar Lengkap per kWh
- Senin, 02 Maret 2026
Rekomendasi 5 Rumah Murah Subsidi di Jawilan Serang, Harga Mulai Rp150 Jutaan
- Senin, 02 Maret 2026










