Zoho Schools Menjadi Fondasi Strategis Zoho Membangun Talenta Teknologi Berkelanjutan
- Jumat, 23 Januari 2026
JAKARTA - Di tengah ketatnya persaingan industri teknologi global, Zoho Corporation memilih jalur yang tidak lazim untuk memastikan keberlanjutan bisnisnya: membangun talenta dari nol.
Melalui Zoho Schools, perusahaan ini tidak hanya mencetak tenaga kerja terampil, tetapi juga membentuk pemimpin masa depan yang memahami budaya perusahaan sejak awal karier mereka.
Selama lebih dari dua dekade, Zoho Schools berkembang dari inisiatif kecil menjadi salah satu pilar strategis Zoho dalam pengembangan sumber daya manusia jangka panjang. Program ini kini berkontribusi signifikan terhadap komposisi karyawan Zoho di berbagai lini dan wilayah operasional.
Baca JugaPenjualan REC Capai 6,43 TWh di 2025, Energi Bersih Semakin Diminati Sektor Industri dan Bisnis
Awal Zoho Schools dari Keterbatasan Talenta Siap Pakai
Zoho Schools pertama kali didirikan pada 2004, saat Zoho—yang kala itu masih dikenal sebagai AdventNet—menghadapi tantangan besar dalam merekrut talenta teknologi berkualitas. Menurut Rajendran Dandapani, Director of Engineering Zoho Corporation sekaligus President Zoho Schools Learning, kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk berpikir di luar kebiasaan.
“Kami bukan brand besar, jadi talenta bagus tidak datang ke kami. Yang datang kebanyakan kampus biasa bahkan kampus pabrik gelar,” cerita Rajendran. Ia menilai banyak lulusan ilmu komputer hanya mengandalkan hafalan dan ujian tertulis tanpa kesiapan praktis yang memadai. “Jadi ketika mereka masuk ke perusahaan dan kami harus melatih mereka dari awal,” katanya.
Situasi tersebut menciptakan dilema bagi Zoho. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan talenta hebat untuk menjadi perusahaan hebat. Namun di sisi lain, tanpa reputasi besar, Zoho sulit menarik talenta unggulan. “Tapi untuk menarik talenta hebat, kami harus sudah menjadi perusahaan hebat. Ini dilema. Jadi kami perlu cara berpikir yang tidak biasa,” papar Rajendran.
Zoho Schools sebagai Solusi Kesenjangan Pendidikan dan Industri
Model Zoho Schools terbukti efektif dalam menjembatani kesenjangan antara sistem pendidikan formal dan kebutuhan industri teknologi. Program ini dirancang bukan sebagai institusi pendidikan massal, melainkan sebagai jalur pasokan talenta internal yang selaras dengan kebutuhan bisnis Zoho.
Saat ini, Zoho Schools menerima sekitar 150 siswa per tahun dari lebih dari 16.000 pendaftar. “Permintaan internal selalu kami jaga lebih tinggi daripada pasokan lulusan,” ujar Rajendran. Ia menegaskan bahwa tujuan utama program ini adalah mendukung bisnis inti Zoho, bukan mengejar skala besar.
Dari sisi kontribusi, Zoho Schools telah menyumbang sekitar 15% dari total karyawan Zoho. Sekitar 2.600 alumni kini bekerja di berbagai fungsi, mulai dari pengembangan produk, manajemen proyek, pemasaran, hingga operasional regional. Beberapa di antaranya bahkan telah menduduki posisi kepemimpinan senior, termasuk memimpin operasi Zoho di kawasan Timur Tengah.
Zoho menilai peran Zoho Schools tidak hanya sebatas penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai wahana pembentukan pemimpin yang memahami nilai, etos kerja, dan budaya perusahaan sejak awal.
Menjaga Keberagaman dan Menghindari Budaya Tunggal
Meski memberikan kontribusi signifikan, Zoho secara sadar membatasi proporsi lulusan Zoho Schools hingga sekitar 40% dari total karyawan. Langkah ini diambil untuk menghindari risiko budaya tunggal dan tetap menjaga keberagaman latar belakang dalam organisasi.
Strategi ini menunjukkan bahwa Zoho memandang keberagaman sebagai elemen penting dalam menjaga dinamika dan inovasi perusahaan. Dengan kombinasi talenta internal hasil didikan Zoho Schools dan rekrutan dari luar, perusahaan berupaya menciptakan ekosistem kerja yang seimbang.
Menjangkau Talenta Rural dan Mengedepankan Mentalitas Bangkit
Sekitar 60% siswa Zoho Schools berasal dari wilayah rural. Hal ini mencerminkan strategi Zoho dalam menjangkau talenta potensial yang belum tersentuh sistem pendidikan elit. “Kami mendatangi sekolah yang murid-muridnya tidak punya banyak pilihan. Mereka tidak mampu kuliah kedokteran atau teknik,” kata Rajendran.
Meski demikian, proses seleksi tetap ketat. Calon siswa harus melewati ujian matematika dasar, Bahasa Inggris, dan pemrograman. Namun Rajendran menekankan bahwa aspek terpenting justru terletak pada wawancara. “Namun yang lebih penting dari tes adalah wawancara. Kami melihat mereka mempunyai api dalam diri terutama kemauan untuk bangkit,” jelasnya.
Salah satu pendekatan unik dalam Zoho Schools adalah sistem pembelajaran antarteman (peer learning), di mana murid senior membimbing murid junior. Menurut Zoho, Generasi Z cenderung lebih mudah belajar dari sesama Gen Z yang sedikit lebih dulu berkembang.
Pembelajaran Nyata dan Dukungan Finansial Sejak Awal
Setelah 12 bulan pembelajaran, siswa Zoho Schools akan masuk ke tim sebagai intern. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas kerja sehari-hari. “Mereka ikut rapat, menulis kode, makan bersama, ikut perjalanan tim, ikut perencanaan rilis produk. Mereka mendapat pengalaman nyata,” tutur Rajendran.
Zoho juga memberikan dukungan finansial sejak hari pertama. Siswa menerima bayaran sekitar 10.000 rupee per bulan atau setara Rp1,8 juta. Pada tahun kedua, ketika mereka mulai masuk ke tim secara penuh, gaji meningkat menjadi 15.000–20.000 rupee per bulan.
Hingga kini, Zoho Schools telah berjalan selama 21 tahun, beroperasi di enam lokasi—dengan tambahan kelas online saat pandemi COVID—dan mengajarkan tiga bidang utama, yakni teknologi, bisnis, dan desain. Total alumninya mencapai sekitar 2.600 orang, meski mayoritas peserta masih berasal dari India.
Dengan pendekatan jangka panjang ini, Zoho Schools terus menjadi fondasi penting bagi Zoho Corporation dalam mencetak talenta teknologi sekaligus pemimpin masa depan yang tumbuh bersama perusahaan.
Mazroh Atul Jannah
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
7 Rekomendasi Kuliner Malam Legendaris di Jakarta yang Tak Pernah Kehilangan Penggemar
- Jumat, 23 Januari 2026
Rekomendasi Tiga Tempat Sarapan Legendaris di Jakarta Selatan untuk Awali Hari Kerja
- Jumat, 23 Januari 2026
Wamenkomdigi: Pemulihan Jaringan Telekomunikasi Aceh Pascabencana Tembus 99 Persen
- Jumat, 23 Januari 2026
Berita Lainnya
Grand Indonesia Optimistis Trafik Pengunjung Naik 5 Persen Sepanjang Tahun 2026
- Jumat, 23 Januari 2026
Intiland Perkuat Pasar Surabaya dengan Peluncuran Hunian Premium Baru Harga Rp4 Miliar
- Jumat, 23 Januari 2026
Unilever Indonesia Gelar RUPSLB untuk Perombakan Direksi dan Strategi Bisnis
- Jumat, 23 Januari 2026












