Biogas Limbah Sapi Tingkatkan Kemandirian Energi Peternak di Kaltim

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 08 Juli 2026 | 10:31:40 WIB

SAMARINDA - Penggunaan biogas yang berasal dari kotoran ternak sapi terus menunjukkan dampak nyata bagi warga peternak di Kalimantan Timur.

Selain mampu memangkas ketergantungan pada bahan bakar fosil, pembaruan energi terbarukan ini juga menyediakan peluang penambahan penghasilan serta menunjang pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, menuturkan program pengolahan limbah ternak menjadi biogas telah memberikan hasil positif bagi peternak di beberapa wilayah.

“Program konversi limbah ternak ini terbukti memotong ketergantungan warga terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya pengeluaran rumah tangga,” kata dari Sumbernya saat diwawancarai, Selasa (7/7/2026).

Keberhasilan proyek tersebut salah satunya nampak pada Kelompok Ternak Tirto Sari di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Di lokasi tersebut, sisa kotoran sapi diproses memakai reaktor biogas hingga menciptakan energi berupa api biru yang dipakai untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Menurut dari Sumbernya, sejak tahun 2011 pemerintah sudah membangun setidaknya 570 unit reaktor biogas skala rumah tangga yang terbagi di desa-desa pada tujuh kabupaten di Kalimantan Timur, antara lain Kutai Kartanegara, Kutai Timur, serta Paser.

Lewat penggunaan teknologi tersebut, komunitas peternak kini sanggup menekan penggunaan gas elpiji secara nyata.

“Dari tinjauan kami di Kutai Kartanegara dan Paser, masyarakat peternak sapi hanya membutuhkan satu tabung LPG cadangan, karena mayoritas kebutuhan dapur sudah tercukupi dari kotoran sapi di kandang sendiri,” ujarnya.

Tidak cuma menciptakan energi alternatif, tahap penguraian sisa ternak di dalam reaktor pun menciptakan pupuk organik cair serta padat yang punya nilai ekonomis.

Hasil sampingan ini dipakai untuk keperluan bercocok tanam atau dijual kepada warga sekitar.

Dari Sumbernya menerangkan, beberapa peternak bahkan telah mendapatkan tambahan penghasilan berkisar Rp300.000 hingga Rp500.000 setiap bulan dari penjualan pupuk organik hasil pemrosesan sisa tersebut.

Selain menaikkan penghasilan peternak, kehadiran biogas juga dinilai punya potensi mendorong munculnya usaha mikro, kecil, serta menengah (UMKM) di sekitar area peternakan.

“Kami melihat ada juga potensi pengembangan UMKM di sekitar lokasi kandang, seperti usaha pengolahan makanan, yang proses produksinya bisa menggunakan energi bersih ini,” tuturnya.

Sebagai wujud dukungan terhadap pengembangan energi terbarukan di sektor peternakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tahun lalu juga memberikan 11 unit reaktor biogas skala besar dengan kapasitas 17 meter kubik.

Berbeda dengan reaktor rumahan, reaktor berkapasitas besar itu tidak cuma sanggup mencukupi keperluan energi untuk memasak, namun juga bisa menciptakan listrik guna menunjang penerangan lingkungan komunal di area pedesaan.

“Dukungan teknologi ini bertujuan menciptakan ekosistem ekonomi sirkular terintegrasi, sehingga limbah peternakan tidak lagi menjadi masalah lingkungan melainkan menjadi aset kesejahteraan,” tegasnya.

Lebih jauh, dari Sumbernya menyebut penggunaan pupuk organik hasil pemrosesan biogas terbukti mampu menaikkan produktivitas tanaman sayur milik warga.

Dengan begitu, petani tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos besar untuk menebus pupuk kimia.

Menurut dari Sumbernya, kesuksesan program biogas di beberapa daerah, utamanya di Kutai Kartanegara, bisa menjadi teladan bagi daerah lain dalam membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan serta berkelanjutan.

“Keberhasilan di Kutai Kartanegara ini merupakan contoh bagi wilayah lain dalam mewujudkan kedaulatan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkasnya. 

Reporter: Talita Malinda